Angga Dwimas Sasongko Ingin Buat Genre Action Berjaya lewat Film Ratu Malaka
11 June 2025 |
17:55 WIB
Sutradara Angga Dwimas Sasongko tengah menggarap proyek film baru bergenre thriller aksi-kriminal berjudul Ratu Malaka. Bukan sekadar menjadi proyek kembalinya Angga duduk ke bangku sutradara, film Ratu Malaka juga menjadi komitmennya untuk membuat genre aksi dapat lebih diterima oleh penonton di Indonesia.
Angga mengatakan film Ratu Malaka kini masih berada di tahap pra-produksi yakni rampung menentukan jajaran pemainnya, dan akan mulai menjalani proses syuting pada akhir tahun ini. Sebelumnya, Ratu Malaka diumumkan sebagai proyek film terbaru dari Visinema di ajang Marche du Film, Festival Film Cannes 2025.
"[Film Ratu Malaka] sudah punya pemain. Minggu depan mulai latihan action-nya, syutingnya akhir tahun," bebernya saat ditemui Hypeabis.id di Park Hyatt Jakarta, Rabu (11/6/2025).
Baca juga: Film A Normal Woman Tayang 24 Juli di Netflix, Dibintangi Marissa Anita
Ratu Malaka akan menjadi film aksi kelima yang disutradarai Angga, setelah Wiro Sableng (2018), Ben & Jody (2022), Mencuri Raden Saleh (2022), dan 13 Bom di Jakarta (2023). Lebih dari sekadar proyek baru, film ini menjadi wujud komitmennya untuk menghidupkan bahkan membuat genre aksi berjaya di industri sinema nasional.
Diakui oleh Angga, semangat dan keyakinan itu terutama muncul ketika film Jumbo (2025) garapan Visinema, rumah produksi miliknya, mendapat respons yang besar dari penonton hingga menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan torehan 10 juta lebih penonton.
Menurutnya, Jumbo bukan hanya sebagai film animasi, tetapi juga gerakan progresif untuk menawarkan kemungkinan baru dalam penceritaan, genre dan medium sinema. Keberhasilan film Jumbo telah membuat dirinya dan Visinema semakin berani mengambil risiko yang lebih kreatif.
"Yang akan jadi fokus saya ke depan sebetulnya bagaimana nge-crack genre action itu lebih bisa diterima sama penonton Indonesia. Dulu orang bilang animasi susah [diterima], sekarang kan Visinema buktikan. Nah kita juga mau buktikan kalau action itu juga bisa jadi genre baru yang bisa sama kuatnya dengan animasi, horor ataupun drama," ujarnya.
Di sisi lain, penonton Indonesia lebih bisa menerima dan menikmati film-film aksi dari luar negeri lantaran menampilkan dunia yang tidak akrab dengan mereka, baik dari segi pemain, bahasa, hingga setting cerita filmnya. Dengan begitu, mereka tidak berusaha mencocokkan dunia film dengan realitas sehari-hari yang mereka temui.
"Tapi kalau tiba-tiba di Monas gitu, ah di Monas enggak kaya gitu. Jadi tiba-tiba resonansinya tuh langsung menjawab make believe-nya sendiri dengan realitanya mereka. Harusnya enggak gitu, ya tonton aja action-nya. Itu yang susah bagaimana mendobrak ekspektasi realita ini, sementara action enggak mungkin realistis. Dia akan lebih besar daripada dunia nyata," ucapnya.
Oleh karena itu, Angga akan mencoba membangun dunia cerita yang berbeda dalam film Ratu Malaka. Filmnya tidak akan secara spesifik menyebut setting ceritanya. Akan tetapi, penonton masih tetap akan merasa dekat dengan elemen-elemen yang ada dalam dunia tersebut.
"World building-nya akan kita bikin berbeda. Nanti setting-nya kita enggak nyebut di mana, underworld ceritanya. Kita bikin emang out of this world aja, tapi mereka [penonton] kenal sama debunya, sama lampu, dan sebagainya," ucap sutradara yang juga menggarap film Heartbreak Motel (2024) itu.
Dengan pendekatan visual yang menggabungkan atmosfer neo-noir, energi aksi tangan kosong yang brutal, dan ketegangan politik internal dunia kriminal, Ratu Malaka digadang menjadi sebuah pengalaman sinematik yang visceral dan mendalam.
Angga menjelaskan film Ratu Malaka bertujuan untuk memadukan mitologi tradisional Asia Tenggara dengan narasi kejahatan kontemporer. Menggabungkan sisi gelap kejahatan dan dunia bawah di Selat Malaka, salah satu area paling strategis untuk perdagangan dan geopolitik tidak hanya di permukaan tetapi juga di dunia bawah.
"Saya ingin menciptakan dunia yang sangat dekat dalam budaya Asia Tenggara, tetapi belum pernah tersentuh sebelumnya dalam sinema Asia Tenggara," ucapnya.
Selat Malaka, jalur pelayaran penting antara Semenanjung Malaya dan Sumatra, berfungsi sebagai pusat geografis dan tematik film Ratu Malaka, yang akan mengeksplorasi perannya dalam perdagangan manusia, perdagangan narkoba, dan penyelundupan senjata.
Angga pun berencana untuk menata ulang mitos prajurit tradisional Malaysia dalam filmnya untuk penonton kontemporer. Dia merujuk pada prajurit legendaris Sultan Malaka yang kisahnya populer di seluruh Indonesia dan Malaysia. Film ini juga akan memasukkan unsur-unsur politik kekuasaan Asia Tenggara, termasuk penggunaan praktik perdukunan dan takhayul di kalangan elite politik.
"Orang yang berkuasa cenderung menggunakan unsur takhayul dalam permainan kekuasaan mereka. Mereka punya dukun, mereka mencari ramalan, dan itu terjadi dalam permainan kekuasaan yang sebenarnya dalam politik di Indonesia," tutur sutradara kelahiran 11 Januari 1985 itu.
Baca juga: Sinopsis Film Korea Hi-Five, Munculnya Kekuatan Super Setelah Transplantasi Organ
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Angga mengatakan film Ratu Malaka kini masih berada di tahap pra-produksi yakni rampung menentukan jajaran pemainnya, dan akan mulai menjalani proses syuting pada akhir tahun ini. Sebelumnya, Ratu Malaka diumumkan sebagai proyek film terbaru dari Visinema di ajang Marche du Film, Festival Film Cannes 2025.
"[Film Ratu Malaka] sudah punya pemain. Minggu depan mulai latihan action-nya, syutingnya akhir tahun," bebernya saat ditemui Hypeabis.id di Park Hyatt Jakarta, Rabu (11/6/2025).
Baca juga: Film A Normal Woman Tayang 24 Juli di Netflix, Dibintangi Marissa Anita
Ratu Malaka akan menjadi film aksi kelima yang disutradarai Angga, setelah Wiro Sableng (2018), Ben & Jody (2022), Mencuri Raden Saleh (2022), dan 13 Bom di Jakarta (2023). Lebih dari sekadar proyek baru, film ini menjadi wujud komitmennya untuk menghidupkan bahkan membuat genre aksi berjaya di industri sinema nasional.
Diakui oleh Angga, semangat dan keyakinan itu terutama muncul ketika film Jumbo (2025) garapan Visinema, rumah produksi miliknya, mendapat respons yang besar dari penonton hingga menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan torehan 10 juta lebih penonton.
Menurutnya, Jumbo bukan hanya sebagai film animasi, tetapi juga gerakan progresif untuk menawarkan kemungkinan baru dalam penceritaan, genre dan medium sinema. Keberhasilan film Jumbo telah membuat dirinya dan Visinema semakin berani mengambil risiko yang lebih kreatif.
"Yang akan jadi fokus saya ke depan sebetulnya bagaimana nge-crack genre action itu lebih bisa diterima sama penonton Indonesia. Dulu orang bilang animasi susah [diterima], sekarang kan Visinema buktikan. Nah kita juga mau buktikan kalau action itu juga bisa jadi genre baru yang bisa sama kuatnya dengan animasi, horor ataupun drama," ujarnya.
Alasan Film Action Masih Sulit Diterima
Sutradara berusia 40 tahun itu menilai kebanyakan penonton di Indonesia belum familiar dengan dunia film aksi yang cenderung fantasi dan over the top dari realitas sehari-hari. Sebaliknya, lanjutnya, penonton Indonesia saat ini lebih suka dengan film-film dengan cerita yang lebih aspiratif dan dekat dengan dunia realitas sehari-hari.Di sisi lain, penonton Indonesia lebih bisa menerima dan menikmati film-film aksi dari luar negeri lantaran menampilkan dunia yang tidak akrab dengan mereka, baik dari segi pemain, bahasa, hingga setting cerita filmnya. Dengan begitu, mereka tidak berusaha mencocokkan dunia film dengan realitas sehari-hari yang mereka temui.
"Tapi kalau tiba-tiba di Monas gitu, ah di Monas enggak kaya gitu. Jadi tiba-tiba resonansinya tuh langsung menjawab make believe-nya sendiri dengan realitanya mereka. Harusnya enggak gitu, ya tonton aja action-nya. Itu yang susah bagaimana mendobrak ekspektasi realita ini, sementara action enggak mungkin realistis. Dia akan lebih besar daripada dunia nyata," ucapnya.
Oleh karena itu, Angga akan mencoba membangun dunia cerita yang berbeda dalam film Ratu Malaka. Filmnya tidak akan secara spesifik menyebut setting ceritanya. Akan tetapi, penonton masih tetap akan merasa dekat dengan elemen-elemen yang ada dalam dunia tersebut.
"World building-nya akan kita bikin berbeda. Nanti setting-nya kita enggak nyebut di mana, underworld ceritanya. Kita bikin emang out of this world aja, tapi mereka [penonton] kenal sama debunya, sama lampu, dan sebagainya," ucap sutradara yang juga menggarap film Heartbreak Motel (2024) itu.
Sinopsis Ratu Malaka
Ratu Malaka adalah film thriller aksi-kriminal berlatar dunia kejahatan urban yang bertabrakan dengan mitos dan kuasa spiritual. Di tengah sindikat kriminal yang dijalankan melalui ritual dukun, ramalan kekuasaan, dan struktur empat penjuru angin yang dipercaya sebagai takdir, lahirlah sosok baru yang tidak hanya menantang sistem, tetapi membakarnya hingga ke akar.Dengan pendekatan visual yang menggabungkan atmosfer neo-noir, energi aksi tangan kosong yang brutal, dan ketegangan politik internal dunia kriminal, Ratu Malaka digadang menjadi sebuah pengalaman sinematik yang visceral dan mendalam.
Angga menjelaskan film Ratu Malaka bertujuan untuk memadukan mitologi tradisional Asia Tenggara dengan narasi kejahatan kontemporer. Menggabungkan sisi gelap kejahatan dan dunia bawah di Selat Malaka, salah satu area paling strategis untuk perdagangan dan geopolitik tidak hanya di permukaan tetapi juga di dunia bawah.
"Saya ingin menciptakan dunia yang sangat dekat dalam budaya Asia Tenggara, tetapi belum pernah tersentuh sebelumnya dalam sinema Asia Tenggara," ucapnya.
Selat Malaka, jalur pelayaran penting antara Semenanjung Malaya dan Sumatra, berfungsi sebagai pusat geografis dan tematik film Ratu Malaka, yang akan mengeksplorasi perannya dalam perdagangan manusia, perdagangan narkoba, dan penyelundupan senjata.
Angga pun berencana untuk menata ulang mitos prajurit tradisional Malaysia dalam filmnya untuk penonton kontemporer. Dia merujuk pada prajurit legendaris Sultan Malaka yang kisahnya populer di seluruh Indonesia dan Malaysia. Film ini juga akan memasukkan unsur-unsur politik kekuasaan Asia Tenggara, termasuk penggunaan praktik perdukunan dan takhayul di kalangan elite politik.
"Orang yang berkuasa cenderung menggunakan unsur takhayul dalam permainan kekuasaan mereka. Mereka punya dukun, mereka mencari ramalan, dan itu terjadi dalam permainan kekuasaan yang sebenarnya dalam politik di Indonesia," tutur sutradara kelahiran 11 Januari 1985 itu.
Baca juga: Sinopsis Film Korea Hi-Five, Munculnya Kekuatan Super Setelah Transplantasi Organ
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.