Film Tinggal Meninggal, karya debut sutradara Kristo Immanuel (Sumber Foto: Imajinari Pictures)

Hypereport: Transformasi Kreatif Aktor-aktris yang Debut Sebagai Sutradara

19 June 2025   |   14:45 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Kancah perfilman Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir ini menyaksikan sebuah fenomena menarik. Kini makin banyak pelakon yang tak hanya tampil di depan kamera, tetapi juga mengambil alih kendali di balik layar sebagai sutradara. 

Sejumlah nama besar aktor dan aktris Indonesia mulai merambah dunia penyutradaraan. Sebut saja, Reza Rahadian yang sedang menggarap film debutnya yang berjudul Pangku. Tak ketinggalan dari deretan aktor-komika juga, ada Muhadkly Acho yang memulai debut penyutradaraan film layar lebar lewat Gara-Gara Warisan, dan Kristo Immanuel yang akan meluncurkan filmnya, Tinggal Meninggal pada Agustus 2025 mendatang.

Adapun Kristo sendiri awalnya dikenal sebagai aktor dan komedian dengan kemampuan impersonasi suara. Pria kelahiran 28 Februari 1997, tersebut pernah berperan dalam film The Big 4, Sleep Call, dan My Annoying Brother.

Kristo sebetulnya sudah lama bercita-cita menjadi sutradara, di merupakan lulusan jurusan Film dari Universitas Multimedia Nusantara. Dia telah menulis dan menyutradarai serial web Dealing With Myself (2020) serta sempat menjabat sebagai asisten sutradara dalam film Teka-Teki Tika (2021).

Sampai akhirnya, dia akan memulai debutnya sebagai sutradara film layar lebar lewat Tinggal Meninggal, sebuah film komedi gelap yang digarapnya bersama sang istri, Jessica Tjiu. Profesi sebagai sutradara ternyata sudah diimpikannya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. 

Baca juga laporan terkait:
1. Hypereport: Panggung Baru Para Bintang, Tren Aktor Berkiprah di Balik Layar
2. Hypereport: Menelaah Fenomena Aktor Jadi Produser Film
3. Hypereport: Tak Hanya Nama Besar, Aktor Harus Punya Modal Kuat untuk Jadi Sutradara
4. Hypereport: Rekam Jejak & Capaian Komersial Artis yang Bertransformasi Jadi Sutradara
5. Hypereport: Deretan Rumah Produksi Milik Aktor Indonesia, Prilly Latuconsina hingga Reza Rahadian

Kristo akhirnya resmi menapaki langkah baru sebagai sutradara film layar lebar. Meski publik mengenalnya sebagai aktor dan kreator konten, keinginannya untuk menjadi sutradara ternyata sudah tumbuh sejak kecil.

“Sebenarnya aku selalu ingin jadi sutradara sejak kecil, dari aku kelas 4–5 SD itu sudah bikin film pendek,” ujar Kristo kepada Hypeabis.id.

Langkah awal menuju dunia penyutradaraan profesional dimulai ketika salah satu kontennya viral. Dari situ, Ernest Prakasa menghubunginya karena menyukai gaya penulisannya dan mengajaknya berkolaborasi. Lima tahun kemudian, kolaborasi itu terwujud dalam Tinggal Meninggal, debut penyutradaraan Kristo.

Film ini ditulis Kristo bersama sang istri sejak 2023, tanpa kepastian kapan akan diproduksi. Namun, usulan Ernest untuk menggarapnya di 2024–2025 membuka jalan bagi proyek ini untuk benar-benar terealisasi.

Tinggal Meninggal mengangkat kisah Gema, seorang pria muda yang hidup dalam kesepian. Setelah ayahnya meninggal, perhatian dari rekan-rekan kerja membuat Gema merasa dilihat untuk pertama kalinya. Namun, ketika perhatian itu perlahan memudar, dia mulai menyusun rencana absurd: “Siapa lagi yang harus meninggal?”

Cerita ini lahir dari pengalaman pribadi Kristo saat kecil, rasa kesepian dan kebutuhan untuk merasa dilihat. “Aku bingung tapi senang juga diperhatiin,” kenangnya. Refleksi emosional itulah yang kemudian ia olah menjadi cerita penuh absurditas dan kejujuran emosional.

Untuk memerankan karakter Gema, Kristo memilih Omara Esteghlal setelah mendapat rekomendasi dari Ernest. Menurutnya, karakter Gema harus memiliki keanehan yang muncul secara alami, bukan hasil akting yang terlalu dibentuk.

“Waktu pertama kali ketemu dan baru kenal Omara, aku lagi jelasin sinopsis dan lihat cara minumnya aneh,” tuturnya, sambil tertawa.

Salah satu pendekatan penyutradaraan yang menarik adalah penggunaan teknik breaking the fourth wall, di mana karakter utama berbicara langsung kepada kamera. Teknik ini, menurut Kristo, membangun kedekatan emosional yang unik dengan penonton.
 


Di sisi lain Dipa Andika, produser dari rumah produksi Imajinari, menilai bahwa kekuatan utama film Tinggal Meninggal terletak pada kejujuran sang sutradara. Menurutnya, karya-karya dari sutradara di bawah naungan Imajinari selalu lahir dari keresahan pribadi yang telah lama dipendam, lalu dituangkan dalam bentuk cerita film.

Dia mengungkapkan bahwa sejak Kristo bergabung dengan manajemen Imajinari pada 2020, mimpinya hanya satu yakni menjadi sutradara. Saat pertama kali membaca sinopsis dan skenario Tinggal Meninggal, Dipa dan timnya merasa bahwa proyek ini benar-benar mewakili Kristo sebagai pribadi dan seniman. 

“Jadi waktu belum ada Omara [sebagai pemeran utama, Gema], yang saya bayangkan saat baca skenario itu, Kristo. Biasanya film kalau berangkat dari keresahan pribadi, ini akan jadi karya yang jujur,” jelasnya.

Sebagai bentuk dukungan dan apresiasi, Dipa pun memberikan ucapan khusus kepada Kristo yang kini resmi menapaki dunia penyutradaraan. “Buat Kristo, selamat datang di dunia film, dan selamat melanjutkan karya penyutradaraannya,” tutup Dipa.
 

Dian Sastrowardoyo Debut Sutradara Film Pendek

Cerita lainnya datang dari Dian Sastrowardoyo yang akhirnya mewujudkan mimpinya sebagai sutradara setelah sempat tertunda bertahun-tahun. Aktris yang dikenal luas lewat perannya sebagai Jeng Yah dalam Gadis Kretek tersebut, mengungkap bahwa cita-citanya menjadi sutradara sudah ada sejak SMA.

Pandemi COVID-19 pada 2020 menjadi momen titik balik. Waktu luang yang panjang membuat Dian kembali merenungi impiannya. Dia pun mulai serius menekuni penulisan naskah. Pengalamannya berakting membantunya dalam menulis skenario karena bisa membayangkan setiap adegan dan dialog dengan lebih emosional. 

“Pas lagi nulis bisa sampai ikut nangis sendiri, karena ada adegan-adegan yang aku bayangkan kalau diperankan seperti apa, misalnya pertengkaran antara dua saudara,” katanya dalam kanal Youtube studio film BASE.

Kepekaannya sebagai aktor membuatnya piawai dalam menyusun dialog yang hidup dan relevan, meski untuk urusan struktur cerita, dia mengaku masih harus belajar dari senior-seniornya. Dian sendiri sempa mengikuti kursus daring selama 15 minggu.

Menjadi sutradara bukan perkara mudah. Dian menyebut prosesnya penuh tantangan, mulai dari membuat shortlist sampai storyboard. Namun ketika tiba di set dan berinteraksi dengan aktor, dia merasa kembali ke akarnya. 

"Dulu aku suka bingung sama arahan sutradara, sekarang aku mencoba jadi sutradara yang bisa kasih arahan jelas dan peka dengan kebutuhan aktor," katanya.

Yang paling menantang baginya adalah menyusun struktur cerita yang kuat. Sesuai tekniknya, sebuah film mencakup perkenalan, konflik, dan penyelesaian, semuanya terdiri dari delapan sequence. Dia sendiri menggunakan formula tersebut.

“Kalau konfliknya gak life changing, gak life and death situation, mungkin gak segitu penting untuk ditonton,” tegasnya.

Dian menyadari bahwa menjadi sutradara bukan hanya soal teknis. Dia harus tahu betul apa yang diinginkan dari filmnya. Di situlah pentingnya visi. Dia menyadari bahwa menjadi sutradara artinya berperan sebagai ‘kapten kapal’ yang harus punya arah jelas sejak awal.

Film pendek debutnya, Nougat, adalah surat cinta untuk keluarganya terutama untuk mendiang ayahnya. Cerita tentang tiga bersaudara yang perlahan saling menjauh ini menyimpan banyak lapisan memori dan emosi. 

Tanpa musik latar, film ini menitikberatkan emosi pada akting dan suasana, termasuk penggunaan teknik split screen yang menampilkan tiga aktor dalam satu layar secara bersamaan yang menggambarkan dinamika hubungan lewat video call. 

"Buatku ini bentuk baru. Masih jarang film yang berani tunjukin performa aktor secara bersamaan kayak gitu," ujar Dian bangga.

Meski puas dengan Nougat, Dian mengaku ingin coba menggarap film panjang bergenre keluarga, komedi, bahkan action. Setelah bertahun-tahun berada di depan kamera, Dian akhirnya menemukan ruang baru untuk berkarya. Tak hanya menyutradarai sebuah film, tapi juga mimpi yang lamanya yang tertunda.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Fotografer Senior Arbain Rambey Ungkap Tantangan Memotret Satwa Liar

BERIKUTNYA

Yovie Widianto Ditunjuk Jadi Komisaris Pupuk Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga