Fotografer Arbain Rambey. (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)

Fotografer Senior Arbain Rambey Ungkap Tantangan Memotret Satwa Liar

18 June 2025   |   21:00 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Memotret satwa di alam liar bukan sekadar soal teknik atau kamera canggih. Dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi, keberuntungan, dan kesiapan menghadapi hal-hal tak terduga. Hal ini diakui langsung oleh fotografer senior Arbain Rambey yang kerap mengalami situasi tak terduga saat menjalankan tugas memotret satwa liar.

Salah satu pengalaman yang paling diingatnya adalah saat mencoba mengabadikan Harimau Sumatra di sebuah desa di Provinsi Sumatra Utara. Berdasarkan informasi warga, harimau tersebut kerap muncul di sekitar api unggun. Arbain pun memutuskan untuk naik ke atas pohon bersama dua pemandu untuk menanti kemunculan sang harimau.

Baca juga: Masih Adakah Peluang Fotografer di Era AI? Begini Kata Arbain Rambey & Co-founder Erigo

"Namun, dua pemandu saya ketakutan karena merasa melihat sosok metafisika. Mereka mundur, dan saya jadi sendiri. Akhirnya, rencana motret harimaunya buyar," ujarnya, Rabu (18/6/2025).

Pengalaman kegagalan lainnya sempat dialami saat mendapat tugas memotret kawanan gajah liar di Jambi. Dalam perjalanan dari bandara ke kamp tersebut, mereka sempat berpapasan dengan kawanan gajah liar, sayangnya momen tersebut harus terlewati begitu saja.

"Saya pikir nanti saja setelah sampai camp, baru difoto secara serius. Namun hingga 20 hari kami di sana, gajahnya tidak muncul lagi. Baru di hari ke-15 sempat ketemu, dan itu pun sebentar," tuturnya.

Upaya memotret Elang Jawa di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat juga tidak berjalan mulus. Setelah berhari-hari mencari, Arbain tak berhasil menjumpai satwa langka itu. "Akhirnya saya terpaksa ambil gambar elang yang ada di penangkaran, yang disita atau diserahkan," katanya.

Karena itulah, Arbain menekankan pentingnya kesabaran dan ketepatan timing saat memotret satwa liar. Dia kini didapuk sebagai juri dalam ajang International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) 2025 yang digelar oleh Taman Safari Indonesia.

Hans Manansang, Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis Taman Safari Indonesia menyebutkan bahwa kompetisi ini bukan sekadar ajang seni visual tetapi juga sarana untuk menyuarakan pesan konservasi secara kreatif.

"Dengan lebih dari 4,9 miliar pengguna media sosial saat ini, konten visual seperti foto dan video terbukti 40 persen lebih efektif dalam menyampaikan pesan. Karena itu, kami ingin menjadi jembatan antara kreativitas dan kepedulian lingkungan," jelasnya.

Sementara itu, Rizki Handayani Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menambahkan bahwa konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. Menurutnya, kompetisi semacam ini membuka ruang partisipasi publik yang luas.

"Kompetisi foto dan video satwa selain mampu menunjukkan karya visual, juga memiliki potensi ekonomi dan dampak sosial, karena menyampaikan pesan konservasi secara langsung dan mengena kepada publik," tuturnya.

Baca juga: Antara Momen dan Nyawa: Refleksi Arbain Rambey dan Oscar Motuloh tentang Tugas Wartawan

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

IAI Kritik Rencana Rumah Subsidi 18 m²: Bukan Hunian, Hanya Tempat Bertahan Hidup

BERIKUTNYA

Hypereport: Transformasi Kreatif Aktor-aktris yang Debut Sebagai Sutradara

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: