Hypereport: Menguatkan Posisi Film Indonesia di Kancah Global
01 April 2025 |
10:30 WIB
Film Indonesia terus bersinar di panggung dunia. Sejak awal 2025, banyak film karya anak bangsa melenggang ke berbagai festival internasional dengan membawa beragam misi, mulai dari world premiere, berkompetisi , kerja sama pendanaan film, hingga menyabet penghargaan bergengsi.
Belum lama ini, tiga film Indonesia menunjukkan tajinya di Berlin International Film Festival atau Berlinale 2025, yakni Sammi Who Can’t Detach His Body Part karya sutradara Rein Machaelson; Me, My Mother’s Favorite Daughter (Ivonne Kani), serta Little Rebels Cinema Club (Khozy Rizal) yang memenangkan Crystal Bear dalam program Generation KPlus Awards sebagai film pendek terbaik.
Baca juga:
Selain itu, pada awal tahun ini, tercatat ada 4 film Indonesia yang diputar perdana di ajang International Film Festival Rotterdam (IFFR), yang berlangsung pada 30 Januari hingga 9 Februari 2025 di Rotterdam, Belanda.
Keempat film itu yakni Midnight in Bali karya sutradara Razka Robby Ertanto, Nyanyi Sunyi dalam Rantang (Garin Nugroho), Perang Kota (Mouly Surya), dan Gowok-Javanese Kamasutra (Hanung Bramantyo).
Dari keempat film yang tayang di IFFR, Gowok-Javanese Kamasutra terpilih dalam Big Screen Competition, salah satu program kompetisi di IFFR yang memberikan penghargaan bagi beragam karya sinema, baik yang populer, klasik, ataupun film seni. Di ajang tersebut, film Gowok bersaing dengan sejumlah film lainnya dari berbagai negara seperti Belgia, Swedia, dan India.
Film-film Indonesia yang tayang di IFFR pun mendapat sambutan positif dari audiens global, salah satunya Perang Kota. Produser Starvision Chand Parwez mengatakan sebagai film penutup IFFR 2025, Perang Kota mendapatkan respons positif dari penonton hingga diputar di dua tempat pemutaran film sekaligus.
Di sisi lain, lantaran Perang Kota mengangkat genre film perang-drama yang berkaitan dengan tentara Belanda pada era pascakemerdekaan, membuat banyak audiens di IFFR memiliki kedekatan dengan ceritanya. Sebagai film epik, Perang Kota dinilai memiliki komposisi yang lebih berkarakter alih-alih menghadirkan topik peperangan secara hitam-putih.
"Jadi mereka betul-betul memberikan respons yang sangat positif dan sangat baik. Mereka sangat menghargai karya seperti ini. Meskipun filmnya periodik tapi bicaranya adalah soal hari ini," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Jakarta, baru-baru ini.
Parwez menilai Indonesia kini sudah menjadi salah satu negara yang menarik perhatian dunia berkat pertumbuhan dan perkembangan perfilmannya baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Menurutnya, posisi ini menjadi jalan bagi sinema Indonesia untuk bisa meraih apresiasi global baik di ajang festival ataupun apresiasi secara komersial di bioskop mancanegara.
Dia berpendapat kini posisi perfilman Indonesia sudah cukup kuat untuk bisa memiliki tempat di berbagai festival internasional. Saat ini yang terpenting adalah mendorong film-film karya sineas dalam negeri agar bisa ditonton di pasar bioskop mancanegara dengan audiens yang lebih besar.
Parwez menambahkan saat ini kebanyakan film Indonesia yang tayang di luar negeri masih sebatas penayangan secara terbatas, bukan dirilis secara masif di bioskop. Oleh karena itu, diperlukan pihak distributor yang bisa mengaktivasi pasar bioskop mancanegara, sehingga film-film Indonesia bisa diputar secara komersial pada market audiens yang lebih luas.
Seperti yang diraih oleh Perang Kota. Selain rilis di dalam negeri, film ini juga akan tayang secara komersial di layar bioskop beberapa negara seperti Belanda, Belgia, dan Luksemburg pada 17 April 2025. "Kita mau film-film Indonesia ini diperlakukan seperti itu, dirayakan di pasar [bioskop mancanegara] yang nyata," ucapnya.
Sebelumnya, ada juga film Kuasa Gelap (2024) besutan rumah produksi Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment yang tayang di 33 negara di seluruh dunia, lantaran dibeli hak distribusinya dengan sistem pre-sale.
Pre-sale atau pre-buy adalah salah satu sistem kerja sama distribusi film yang dikenal di dunia perfilman. Pre-sale merupakan perjanjian distribusi terbatas untuk negara tertentu yang dibuat sebelum sebuah film rampung diproduksi, atau bahkan sering kali sebelum dimulainya penggarapan film.
Sebagian besar sistem pre-sale melibatkan distributor asing yang bersedia untuk membayar sejumlah uang yang disebut sebagai uang muka atau jaminan minimum, sebagai imbalan atas hak-hak tertentu dalam film tersebut di suatu negara untuk jangka waktu terbatas. Selain uang muka, distributor juga biasanya memberikan sebagian keuntungan dalam bentuk royalti ketika pendapatan film tersebut tembus melebihi box office di negara mereka.
Produser Paragon Pictures Andi Boediman menuturkan sistem pre-sale menjadi salah satu pilihan agar sebuah film bisa ditayangkan di bioskop internasional. Berbeda dengan Hollywood, Indonesia tidak memiliki infrastruktur distribusi film secara sistematis di jaringan bioskop internasional. Lantaran tidak memiliki infrastruktur tersebut, produser perlu mencari distributor internasional dari berbagai negara.
Hal itu biasanya terjadi di acara-acara film market yang digelar di sejumlah negara. "Kami sebagai produser jualan di film market. Nanti setiap negara itu ada distributor lokalnya, dan mereka biasanya cari film-film dari negara lain. Nah biasanya mereka mau beli hak distribusi film untuk negaranya," ujarnya.
Kolaborasi dengan Pasar Asia & Timur Tengah
Perfilman Indonesia juga semakin memperkuat posisinya di pasar film Asia. Belum lama ini, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon bersama beberapa sineas Indonesia melawat ke pertemuan strategis dengan para pemangku kepentingan perfilman dunia di Hong Kong International Film & TV Market (FILMART) 2025.
Di ajang itu, Fadli berdiskusi dengan Asian Film Alliance Network (AFAN), jaringan film Asia yang berdiri pada 2023. Forum ini secara rutin menggelar pertemuan tahunan di festival film Cannes dan Busan untuk membahas kebijakan, program, serta tantangan yang dihadapi perfilman di kawasan Asia seperti, Korea Selatan, Filipina, Taiwan, Thailand, dan Malaysia.
Fadli mengungkap, diskusi tersebut menyoroti perlunya blok industri film Asia untuk memperkuat daya tawar terhadap distributor global. Termasuk untuk memastikan agar film-film Asia mendapat ruang lebih besar di berbagai festival dan penghargaan internasional.
Sejalan dengan itu, beberapa negara anggota AFAN seperti Korea dan Thailand, juga menyatakan minat untuk memperluas kerja sama dengan Indonesia. Thailand telah mengalokasikan US$6 juta untuk produksi film bersama negara- negara mitra, sementara Korea melihat Indonesia sebagai salah satu pasar potensial terbesar di Asia.
"Indonesia [juga] siap mendukung kolaborasi dan sinergi di kawasan, berkontribusi dalam mempercepat ekosistem film Asia agar lebih kompetitif di tingkat global,” katanya.
Selain mendorong kolaborasi lewat jaringan film di Asia, Fadli juga menyoroti pentingnya hubungan bilateral Indonesia dan Arab Saudi dalam industri perfilman. Hal ini dikemukakan saat dia berdiskusi dengan Holly Daniel, Direktur Red Sea Souk, pada acara yang sama.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Fadli menekankan bahwa Indonesia memiliki banyak narasi kolektif yang bisa menarik perhatian pasar Arab Saudi. Salah satunya tren film horor Indonesia yang rupanya digemari oleh penonton Arab Saudi karena dikenal memiliki kualitas yang baik.
"Kita memiliki begitu banyak cerita yang bisa diproduksi dan didistribusikan di kawasan ini. Apalagi, hubungan historis dan bilateral kita dengan Arab Saudi sudah sangat kuat. Ini peluang yang tidak boleh kita lewatkan,” ucapnya.
Itikad yang sama juga dilakukan Menbud saat berdiskusi dengan Datuk Azmir Saifuddin, CEO Badan Pengembangan Film Nasional (FINAS) Malaysia. Dalam obrolan ini, Fadli juga menyoroti distribusi film Indonesia di Malaysia, termasuk menekankan bahwa film historis dan budaya Melayu harus menjadi prioritas bersama.
Dengan berbagai peluang yang terbuka dari Hong Kong FILMART 2025, Indonesia tidak hanya memperkuat posisinya di industri film global, tetapi juga semakin diakui sebagai mitra strategis dalam produksi dan distribusi film di Asia.
Hal itu pun dibuktikan salah satunya dengan terpilihnya film Pangku yang memenangkan HAF Goes to Cannes Program, dalam rangkaian Hong Kong-Asia Film Financing Forum ke-23 (HAF23).
Film debut penyutradaraan Reza Rahadian itu berhasil terpilih sebagai salah satu dari lima proyek film yang memenangkan HAF Goes to Cannes Program, dan akan melanjutkan perjalanan untuk dipresentasikan di Cannes Film Festival 2025.
"Perjalanan film Pangku tentu saja masih panjang. Namun, saya sangat bersyukur mendapat kepercayaan dari industri perfilman, bahkan internasional. Setelah ini, film Pangku akan melanjutkan perjalanannya ke Cannes bertemu dengan calon mitra kolaborator yang lebih banyak lagi. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan film kami,” kata Reza Rahadian selaku sutradara.
Pencapaian lainnya termasuk digelarnya Jogja-NETPAC Asian Film Festival atau JAFF Market, yang menjadi pasar film pertama dan terbesar di Indonesia. Pada edisi perdana gelarannya, JAFF Market mencatatkan impak ekonomi yang fantastis, serta sederet kolaborasi rumah-rumah produksi dalam negeri dan mancanegara.
Selama 3 hari penyelenggarannya pada 3-Desember 2024, JAFF Market dilaporkan menghasilkan dampak ekonomi mencapai US$2,27 atau sekitar Rp36 miliar. Dari jumlah tersebut, tercapai nilai kontrak kerja sama yang mencapai Rp18,5 miliar.
JAFF Market merupakan pasar film Indonesia yang menghubungkan para pemangku kepentingan dengan seluruh ekosistem film Indonesia, mulai dari profesional, talenta-talenta baru, pembuat konten, pembeli, lembaga perfilman, juga penikmat film. Sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara, JAFF Market merupakan ajang industri dan etalase bagi industri film Indonesia.
Selama tiga hari penyelenggaraan, JAFF Market mendatangkan sebanyak 6.723 pengunjung dari 18 negara, yang hadir dan merasakan secara langsung atmosfer pasar film Indonesia dari sebanyak 151 booth yang diisi oleh jajaran rumah produksi besar maupun butik.
Selain itu, JAFF Market juga telah menghasilkan sebanyak 1.767 agenda pertemuan, dengan menghasilkan 61 perjanjian kerjasama (MOU) yang telah ditandatangani dan 1.054 market badge.
"Hal ini dibaca sebagai penanda bahwa industri film Indonesia terbuka untuk saling berkolaborasi baik dalam teritori Indonesia maupun internasional," ujar Ajish Dibyo selaku Direktur Eksekutif JAFF Market.
Kolaborasi & Perkuat Market dalam Negeri
Kolaborasi memang menjadi kata kunci dari berbagai pencapaian film Indonesia di ajang internasional. Banyak filmmaker yang kerap memanfaatkan kerja sama koproduksi dengan berbagai negara dalam penggarapan film mereka.
Biasanya, para sineas akan menawarkan proposal proyek sinema mereka kepada sejumlah rumah produksi atau film lab mancanegara. Dengan begitu, mereka memiliki sumber daya yang lebih mumpuni untuk mewujudkan gagasan dan konsep mereka ke dalam film. Termasuk, memiliki kesempatan untuk memperkenalkan film-filmnya di berbagai festival internasional di negara yang berkolaborasi dengan mereka.
Salah satu sutradara yang kerap memanfaatkan sistem koproduksi ialah Mouly Surya. Bagi Mouly, menjalin koproduksi dengan negara lain untuk menggarap film memiliki banyak benefit. Selain pendanaan, dia juga mendapatkan banyak sumber daya untuk bisa mengeksekusi proyek filmnya dengan maksimal.
"Saya ngambil contoh Prancis, yang punya sejarah sinema sangat panjang. Kalau ngobrol sama orang Prancis itu istilahnya mereka yang punya sinema. Jadinya ide bisa berkembang, enggak berhenti di ide pertama yang keluar di kepala tapi akhirnya bisa develop, beyond, dan bisa di-push lagi. Jujur, sebagai seorang filmmaker, saya sangat lapar sama itu," ungkapnya.
Mouly menilai perfilman Indonesia saat ini sudah mengalami perkembangan yang signifikan, salah satunya dibuktikan dengan peningkatan jumlah penonton film lokal yang pesat. Meski demikian, lanjutnya, pasar penonton film dalam negeri belum tereksplorasi dengan maksimal yakni baru sekitar 80 juta penonton dari total penduduk sebanyak 280 juta jiwa.
Menurutnya, apresiasi yang besar dari penonton dalam negeri menjadi salah satu kunci utama untuk mendorong film Indonesia bisa dikenal oleh audiens global. Contohnya seperti Korea Selatan yang mampu mengenalkan karya-karya sinemanya ke mancanegara lantaran punya market audiens yang kuat di dalam negeri.
"Film yang sukses di luar itu harus juga bisa dikenal di dalam negeri. Maksudnya industri kita sendiri harus kuat untuk bisa orang luar juga mengapresiasi itu [film]. Jadi ya kita masih on the way sih kalau menurut saya ya, belum bisa bilang kita udah disitu," ucap Mouly.
"Jadi memang mereka harus punya market yang kuat dulu di dalam [negeri], karena itu akan membuat industri jadi kuat, ekosistemnya jadi lengkap gitu. Karena kita sendiri sekarang ekosistem, tenaga kerja apa segala macem, kita masih masih berkembang," imbuhnya.
Mouly berpendapat saat ini industri film Indonesia membutuhkan dukungan yang cukup serius di sektor sekolah film sebagai sumber utama tenaga kerja perfilman yang berkualitas dan mumpuni. "Ada berapa sekolah film di Indonesia, dan kita butuh banyak banget tenaga kerja di film," tambahnya.
Hampir senada, Parwez menilai dukungan yang tinggi masyarakat terhadap film-film Indonesia saat ini sangat dibutuhkan untuk menjaga bahkan meningkatkan tren positif penonton dalam negeri.
Menurutnya, apresiasi yang besar terhadap film lokal bukan hanya akan meningkatkan market share penonton film Indonesia, melainkan juga membuat karya-karya sinema anak bangsa bisa dikenal hingga audiens global. Seperti halnya yang telah terjadi di sejumlah negara seperti Korea Selatan, Jepang, Prancis, India, dan China.
Belum lama ini, tiga film Indonesia menunjukkan tajinya di Berlin International Film Festival atau Berlinale 2025, yakni Sammi Who Can’t Detach His Body Part karya sutradara Rein Machaelson; Me, My Mother’s Favorite Daughter (Ivonne Kani), serta Little Rebels Cinema Club (Khozy Rizal) yang memenangkan Crystal Bear dalam program Generation KPlus Awards sebagai film pendek terbaik.
Baca juga:
- Hypereport: 12 Film Indonesia yang Berprestasi di Festival Internasional
- Hypereport: Jalan Panjang Menjaga Rekor Jumlah Penonton Film Indonesia
Selain itu, pada awal tahun ini, tercatat ada 4 film Indonesia yang diputar perdana di ajang International Film Festival Rotterdam (IFFR), yang berlangsung pada 30 Januari hingga 9 Februari 2025 di Rotterdam, Belanda.
Keempat film itu yakni Midnight in Bali karya sutradara Razka Robby Ertanto, Nyanyi Sunyi dalam Rantang (Garin Nugroho), Perang Kota (Mouly Surya), dan Gowok-Javanese Kamasutra (Hanung Bramantyo).
Dari keempat film yang tayang di IFFR, Gowok-Javanese Kamasutra terpilih dalam Big Screen Competition, salah satu program kompetisi di IFFR yang memberikan penghargaan bagi beragam karya sinema, baik yang populer, klasik, ataupun film seni. Di ajang tersebut, film Gowok bersaing dengan sejumlah film lainnya dari berbagai negara seperti Belgia, Swedia, dan India.

Cuplikan film Gowok-Javanese Kamasutra. (Sumber gambar: situs resmi IFFR)
Di sisi lain, lantaran Perang Kota mengangkat genre film perang-drama yang berkaitan dengan tentara Belanda pada era pascakemerdekaan, membuat banyak audiens di IFFR memiliki kedekatan dengan ceritanya. Sebagai film epik, Perang Kota dinilai memiliki komposisi yang lebih berkarakter alih-alih menghadirkan topik peperangan secara hitam-putih.
"Jadi mereka betul-betul memberikan respons yang sangat positif dan sangat baik. Mereka sangat menghargai karya seperti ini. Meskipun filmnya periodik tapi bicaranya adalah soal hari ini," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Jakarta, baru-baru ini.
Parwez menilai Indonesia kini sudah menjadi salah satu negara yang menarik perhatian dunia berkat pertumbuhan dan perkembangan perfilmannya baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Menurutnya, posisi ini menjadi jalan bagi sinema Indonesia untuk bisa meraih apresiasi global baik di ajang festival ataupun apresiasi secara komersial di bioskop mancanegara.
Dia berpendapat kini posisi perfilman Indonesia sudah cukup kuat untuk bisa memiliki tempat di berbagai festival internasional. Saat ini yang terpenting adalah mendorong film-film karya sineas dalam negeri agar bisa ditonton di pasar bioskop mancanegara dengan audiens yang lebih besar.
Parwez menambahkan saat ini kebanyakan film Indonesia yang tayang di luar negeri masih sebatas penayangan secara terbatas, bukan dirilis secara masif di bioskop. Oleh karena itu, diperlukan pihak distributor yang bisa mengaktivasi pasar bioskop mancanegara, sehingga film-film Indonesia bisa diputar secara komersial pada market audiens yang lebih luas.
Seperti yang diraih oleh Perang Kota. Selain rilis di dalam negeri, film ini juga akan tayang secara komersial di layar bioskop beberapa negara seperti Belanda, Belgia, dan Luksemburg pada 17 April 2025. "Kita mau film-film Indonesia ini diperlakukan seperti itu, dirayakan di pasar [bioskop mancanegara] yang nyata," ucapnya.
Sebelumnya, ada juga film Kuasa Gelap (2024) besutan rumah produksi Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment yang tayang di 33 negara di seluruh dunia, lantaran dibeli hak distribusinya dengan sistem pre-sale.
Pre-sale atau pre-buy adalah salah satu sistem kerja sama distribusi film yang dikenal di dunia perfilman. Pre-sale merupakan perjanjian distribusi terbatas untuk negara tertentu yang dibuat sebelum sebuah film rampung diproduksi, atau bahkan sering kali sebelum dimulainya penggarapan film.
Sebagian besar sistem pre-sale melibatkan distributor asing yang bersedia untuk membayar sejumlah uang yang disebut sebagai uang muka atau jaminan minimum, sebagai imbalan atas hak-hak tertentu dalam film tersebut di suatu negara untuk jangka waktu terbatas. Selain uang muka, distributor juga biasanya memberikan sebagian keuntungan dalam bentuk royalti ketika pendapatan film tersebut tembus melebihi box office di negara mereka.
Produser Paragon Pictures Andi Boediman menuturkan sistem pre-sale menjadi salah satu pilihan agar sebuah film bisa ditayangkan di bioskop internasional. Berbeda dengan Hollywood, Indonesia tidak memiliki infrastruktur distribusi film secara sistematis di jaringan bioskop internasional. Lantaran tidak memiliki infrastruktur tersebut, produser perlu mencari distributor internasional dari berbagai negara.
Hal itu biasanya terjadi di acara-acara film market yang digelar di sejumlah negara. "Kami sebagai produser jualan di film market. Nanti setiap negara itu ada distributor lokalnya, dan mereka biasanya cari film-film dari negara lain. Nah biasanya mereka mau beli hak distribusi film untuk negaranya," ujarnya.

Menbud Fadli Zon bertemu Reza Rahardian saatmelawat ke pertemuan perfilman dunia di Hong Kong International Film & TV Market (FILMART) 2025. (sumber gambar: Kemenkebud)
Perfilman Indonesia juga semakin memperkuat posisinya di pasar film Asia. Belum lama ini, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon bersama beberapa sineas Indonesia melawat ke pertemuan strategis dengan para pemangku kepentingan perfilman dunia di Hong Kong International Film & TV Market (FILMART) 2025.
Di ajang itu, Fadli berdiskusi dengan Asian Film Alliance Network (AFAN), jaringan film Asia yang berdiri pada 2023. Forum ini secara rutin menggelar pertemuan tahunan di festival film Cannes dan Busan untuk membahas kebijakan, program, serta tantangan yang dihadapi perfilman di kawasan Asia seperti, Korea Selatan, Filipina, Taiwan, Thailand, dan Malaysia.
Fadli mengungkap, diskusi tersebut menyoroti perlunya blok industri film Asia untuk memperkuat daya tawar terhadap distributor global. Termasuk untuk memastikan agar film-film Asia mendapat ruang lebih besar di berbagai festival dan penghargaan internasional.
Sejalan dengan itu, beberapa negara anggota AFAN seperti Korea dan Thailand, juga menyatakan minat untuk memperluas kerja sama dengan Indonesia. Thailand telah mengalokasikan US$6 juta untuk produksi film bersama negara- negara mitra, sementara Korea melihat Indonesia sebagai salah satu pasar potensial terbesar di Asia.
"Indonesia [juga] siap mendukung kolaborasi dan sinergi di kawasan, berkontribusi dalam mempercepat ekosistem film Asia agar lebih kompetitif di tingkat global,” katanya.
Selain mendorong kolaborasi lewat jaringan film di Asia, Fadli juga menyoroti pentingnya hubungan bilateral Indonesia dan Arab Saudi dalam industri perfilman. Hal ini dikemukakan saat dia berdiskusi dengan Holly Daniel, Direktur Red Sea Souk, pada acara yang sama.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Fadli menekankan bahwa Indonesia memiliki banyak narasi kolektif yang bisa menarik perhatian pasar Arab Saudi. Salah satunya tren film horor Indonesia yang rupanya digemari oleh penonton Arab Saudi karena dikenal memiliki kualitas yang baik.
"Kita memiliki begitu banyak cerita yang bisa diproduksi dan didistribusikan di kawasan ini. Apalagi, hubungan historis dan bilateral kita dengan Arab Saudi sudah sangat kuat. Ini peluang yang tidak boleh kita lewatkan,” ucapnya.
Itikad yang sama juga dilakukan Menbud saat berdiskusi dengan Datuk Azmir Saifuddin, CEO Badan Pengembangan Film Nasional (FINAS) Malaysia. Dalam obrolan ini, Fadli juga menyoroti distribusi film Indonesia di Malaysia, termasuk menekankan bahwa film historis dan budaya Melayu harus menjadi prioritas bersama.
Dengan berbagai peluang yang terbuka dari Hong Kong FILMART 2025, Indonesia tidak hanya memperkuat posisinya di industri film global, tetapi juga semakin diakui sebagai mitra strategis dalam produksi dan distribusi film di Asia.
Hal itu pun dibuktikan salah satunya dengan terpilihnya film Pangku yang memenangkan HAF Goes to Cannes Program, dalam rangkaian Hong Kong-Asia Film Financing Forum ke-23 (HAF23).
Film debut penyutradaraan Reza Rahadian itu berhasil terpilih sebagai salah satu dari lima proyek film yang memenangkan HAF Goes to Cannes Program, dan akan melanjutkan perjalanan untuk dipresentasikan di Cannes Film Festival 2025.
"Perjalanan film Pangku tentu saja masih panjang. Namun, saya sangat bersyukur mendapat kepercayaan dari industri perfilman, bahkan internasional. Setelah ini, film Pangku akan melanjutkan perjalanannya ke Cannes bertemu dengan calon mitra kolaborator yang lebih banyak lagi. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan film kami,” kata Reza Rahadian selaku sutradara.
crop_crop.jpg)
Tim penyelenggara JAFF Market 2024. (Sumber gambar: JAFF Market)
Selama 3 hari penyelenggarannya pada 3-Desember 2024, JAFF Market dilaporkan menghasilkan dampak ekonomi mencapai US$2,27 atau sekitar Rp36 miliar. Dari jumlah tersebut, tercapai nilai kontrak kerja sama yang mencapai Rp18,5 miliar.
JAFF Market merupakan pasar film Indonesia yang menghubungkan para pemangku kepentingan dengan seluruh ekosistem film Indonesia, mulai dari profesional, talenta-talenta baru, pembuat konten, pembeli, lembaga perfilman, juga penikmat film. Sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara, JAFF Market merupakan ajang industri dan etalase bagi industri film Indonesia.
Selama tiga hari penyelenggaraan, JAFF Market mendatangkan sebanyak 6.723 pengunjung dari 18 negara, yang hadir dan merasakan secara langsung atmosfer pasar film Indonesia dari sebanyak 151 booth yang diisi oleh jajaran rumah produksi besar maupun butik.
Selain itu, JAFF Market juga telah menghasilkan sebanyak 1.767 agenda pertemuan, dengan menghasilkan 61 perjanjian kerjasama (MOU) yang telah ditandatangani dan 1.054 market badge.
"Hal ini dibaca sebagai penanda bahwa industri film Indonesia terbuka untuk saling berkolaborasi baik dalam teritori Indonesia maupun internasional," ujar Ajish Dibyo selaku Direktur Eksekutif JAFF Market.

Cuplikan film Perang Kota. (Sumber gambar: situs resmi IFFR)
Kolaborasi memang menjadi kata kunci dari berbagai pencapaian film Indonesia di ajang internasional. Banyak filmmaker yang kerap memanfaatkan kerja sama koproduksi dengan berbagai negara dalam penggarapan film mereka.
Biasanya, para sineas akan menawarkan proposal proyek sinema mereka kepada sejumlah rumah produksi atau film lab mancanegara. Dengan begitu, mereka memiliki sumber daya yang lebih mumpuni untuk mewujudkan gagasan dan konsep mereka ke dalam film. Termasuk, memiliki kesempatan untuk memperkenalkan film-filmnya di berbagai festival internasional di negara yang berkolaborasi dengan mereka.
Salah satu sutradara yang kerap memanfaatkan sistem koproduksi ialah Mouly Surya. Bagi Mouly, menjalin koproduksi dengan negara lain untuk menggarap film memiliki banyak benefit. Selain pendanaan, dia juga mendapatkan banyak sumber daya untuk bisa mengeksekusi proyek filmnya dengan maksimal.
"Saya ngambil contoh Prancis, yang punya sejarah sinema sangat panjang. Kalau ngobrol sama orang Prancis itu istilahnya mereka yang punya sinema. Jadinya ide bisa berkembang, enggak berhenti di ide pertama yang keluar di kepala tapi akhirnya bisa develop, beyond, dan bisa di-push lagi. Jujur, sebagai seorang filmmaker, saya sangat lapar sama itu," ungkapnya.
Mouly menilai perfilman Indonesia saat ini sudah mengalami perkembangan yang signifikan, salah satunya dibuktikan dengan peningkatan jumlah penonton film lokal yang pesat. Meski demikian, lanjutnya, pasar penonton film dalam negeri belum tereksplorasi dengan maksimal yakni baru sekitar 80 juta penonton dari total penduduk sebanyak 280 juta jiwa.
Menurutnya, apresiasi yang besar dari penonton dalam negeri menjadi salah satu kunci utama untuk mendorong film Indonesia bisa dikenal oleh audiens global. Contohnya seperti Korea Selatan yang mampu mengenalkan karya-karya sinemanya ke mancanegara lantaran punya market audiens yang kuat di dalam negeri.
"Film yang sukses di luar itu harus juga bisa dikenal di dalam negeri. Maksudnya industri kita sendiri harus kuat untuk bisa orang luar juga mengapresiasi itu [film]. Jadi ya kita masih on the way sih kalau menurut saya ya, belum bisa bilang kita udah disitu," ucap Mouly.
"Jadi memang mereka harus punya market yang kuat dulu di dalam [negeri], karena itu akan membuat industri jadi kuat, ekosistemnya jadi lengkap gitu. Karena kita sendiri sekarang ekosistem, tenaga kerja apa segala macem, kita masih masih berkembang," imbuhnya.
Mouly berpendapat saat ini industri film Indonesia membutuhkan dukungan yang cukup serius di sektor sekolah film sebagai sumber utama tenaga kerja perfilman yang berkualitas dan mumpuni. "Ada berapa sekolah film di Indonesia, dan kita butuh banyak banget tenaga kerja di film," tambahnya.
Hampir senada, Parwez menilai dukungan yang tinggi masyarakat terhadap film-film Indonesia saat ini sangat dibutuhkan untuk menjaga bahkan meningkatkan tren positif penonton dalam negeri.
Menurutnya, apresiasi yang besar terhadap film lokal bukan hanya akan meningkatkan market share penonton film Indonesia, melainkan juga membuat karya-karya sinema anak bangsa bisa dikenal hingga audiens global. Seperti halnya yang telah terjadi di sejumlah negara seperti Korea Selatan, Jepang, Prancis, India, dan China.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.