Bukan Hanya Dewasa, Anak & Remaja Makin Berisiko Bipolar dan Skizofrenia
31 May 2025 |
11:00 WIB
Tidak hanya pada orang dewasa, kini kasus bipolar dan skizofrenia juga mulai ditemukan pada anak-anak dan remaja. Bahkan, frekuensinya juga terus meningkat. Melansir Badan Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan satu dari tujuh (14%) anak usia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Namun, gangguan ini sebagian besar belum dikenali dan tidak diobati.
Perubahan itu telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan profesional medis terutama karena diagnosis yang sering kali terlambat atau tidak tepat. Kondisi yang muncul lebih awal cenderung tidak terdeteksi karena gejalanya sering disalahartikan sebagai bagian dari perilaku remaja yang normal.
Baca juga: Tumpas Stigma Penyintas Bipolar, Marshanda Tampilkan Batik Brainwave dari Gelombang Otaknya
Kesadaran masyarakat terhadap gejala awal juga dinilai masih rendah. Padahal, jika tidak ditangani secara tepat, kondisi tersebut dapat mengganggu perkembangan emosi, proses pendidikan, serta hubungan sosial anak dan remaja.
Menurut Guru Besar Psikiatri Subspesialis Anak dan Remaja FKUI-RSCM Tjhin Wiguna, sebetulnya sejumlah gejala khas sudah dapat dikenali pada pasien muda. Untuk gangguan bipolar, gejala yang biasa ditemukan antara lain episode mania dengan emosi yang mudah meledak, episode depresi yang dalam. Ini juga termasuk pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Sedangkan pada skizofrenia, gejala dapat mencakup halusinasi, delusi, penurunan motivasi, serta perilaku dan ucapan yang tidak terorganisir.
Gangguan-gangguan tersebut didasari oleh faktor risiko yang beragam. Untuk gangguan bipolar, faktor genetik, neurobiologis, lingkungan, dan psikososial disebut sebagai pemicu utama. Sementara itu, skizofrenia pada anak dan remaja dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, komplikasi sejak kelahiran, gangguan perkembangan otak, dan pengaruh lingkungan. Laporan WHO juga menyebut, setidaknya skizofrenia sendiri terjadi pada 0,1?ri remaja berusia 15-19 tahun secara global.
Diagnosis dini sebenarnya dinilai sangat penting untuk memperbaiki hasil pengobatan jangka panjang. Namun dalam praktiknya, hal tersebut masih sulit dicapai. Kesulitan ini antara lain disebabkan oleh kemiripan gejala dengan gangguan lain seperti ADHD dan autisme. Selain itu, ada pula masalah keterbatasan kemampuan anak dalam mengungkapkan apa yang dirasakan.
Ketidakpatuhan terhadap pengobatan disebut sebagai salah satu hambatan utama. Banyak kasus ditemukan ketika pasien tidak melanjutkan terapi akibat kekhawatiran orang tua terhadap efek jangka panjang obat, serta masih kuatnya stigma negatif di masyarakat mengenai kesehatan jiwa.
“Gangguan bipolar dan skizofrenia pada anak dan remaja memang merupakan kondisi kronis. Namun, dengan tatalaksana komprehensif yang sesuai, gejala dapat dikendalikan, dan kualitas hidup anak serta remaja dapat ditingkatkan secara signifikan,” jelas Tjhin.
Kepatuhan terhadap pengobatan disebut memiliki peran kunci dalam menentukan stabilitas kondisi. Anak dan remaja yang menjalani pengobatan secara teratur umumnya mengalami kekambuhan yang lebih jarang, dapat mengikuti pendidikan secara lebih baik, serta mampu membangun hubungan sosial yang sehat.
Namun, diakui bahwa pencapaian kondisi tersebut belum merata. Selain literasi kesehatan mental yang masih rendah, masih banyak kekhawatiran terhadap efek samping obat dan kecenderungan keluarga untuk menyangkal kondisi anak, menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemulihan.
Baca juga: World Schizophrenia Day Tiap 24 Mei, Kenali Perbedaan Skizofrenia & Bipolar
Dalam pandangan Tjhin, dukungan konsisten sangat berpengaruh terhadap kestabilan emosi dan kondisi psikologis anak dan remaja. Keluarga seharusnya aktif mempelajari tentang gangguan ini bahkan bersedia terlibat dalam proses pengobatan.
Maka penanganan yang ideal tidak hanya dari sisi pengobatan medis, tetapi juga intervensi psikososial, pelibatan sekolah, dan dukungan komunitas agar pemulihan khususnya pada anak dan remaja dapat berlangsung optimal.
Perubahan itu telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan profesional medis terutama karena diagnosis yang sering kali terlambat atau tidak tepat. Kondisi yang muncul lebih awal cenderung tidak terdeteksi karena gejalanya sering disalahartikan sebagai bagian dari perilaku remaja yang normal.
Baca juga: Tumpas Stigma Penyintas Bipolar, Marshanda Tampilkan Batik Brainwave dari Gelombang Otaknya
Kesadaran masyarakat terhadap gejala awal juga dinilai masih rendah. Padahal, jika tidak ditangani secara tepat, kondisi tersebut dapat mengganggu perkembangan emosi, proses pendidikan, serta hubungan sosial anak dan remaja.
Menurut Guru Besar Psikiatri Subspesialis Anak dan Remaja FKUI-RSCM Tjhin Wiguna, sebetulnya sejumlah gejala khas sudah dapat dikenali pada pasien muda. Untuk gangguan bipolar, gejala yang biasa ditemukan antara lain episode mania dengan emosi yang mudah meledak, episode depresi yang dalam. Ini juga termasuk pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Sedangkan pada skizofrenia, gejala dapat mencakup halusinasi, delusi, penurunan motivasi, serta perilaku dan ucapan yang tidak terorganisir.
Gangguan-gangguan tersebut didasari oleh faktor risiko yang beragam. Untuk gangguan bipolar, faktor genetik, neurobiologis, lingkungan, dan psikososial disebut sebagai pemicu utama. Sementara itu, skizofrenia pada anak dan remaja dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, komplikasi sejak kelahiran, gangguan perkembangan otak, dan pengaruh lingkungan. Laporan WHO juga menyebut, setidaknya skizofrenia sendiri terjadi pada 0,1?ri remaja berusia 15-19 tahun secara global.
Diagnosis dini sebenarnya dinilai sangat penting untuk memperbaiki hasil pengobatan jangka panjang. Namun dalam praktiknya, hal tersebut masih sulit dicapai. Kesulitan ini antara lain disebabkan oleh kemiripan gejala dengan gangguan lain seperti ADHD dan autisme. Selain itu, ada pula masalah keterbatasan kemampuan anak dalam mengungkapkan apa yang dirasakan.
Ketidakpatuhan terhadap pengobatan disebut sebagai salah satu hambatan utama. Banyak kasus ditemukan ketika pasien tidak melanjutkan terapi akibat kekhawatiran orang tua terhadap efek jangka panjang obat, serta masih kuatnya stigma negatif di masyarakat mengenai kesehatan jiwa.
“Gangguan bipolar dan skizofrenia pada anak dan remaja memang merupakan kondisi kronis. Namun, dengan tatalaksana komprehensif yang sesuai, gejala dapat dikendalikan, dan kualitas hidup anak serta remaja dapat ditingkatkan secara signifikan,” jelas Tjhin.
Kepatuhan terhadap pengobatan disebut memiliki peran kunci dalam menentukan stabilitas kondisi. Anak dan remaja yang menjalani pengobatan secara teratur umumnya mengalami kekambuhan yang lebih jarang, dapat mengikuti pendidikan secara lebih baik, serta mampu membangun hubungan sosial yang sehat.
Namun, diakui bahwa pencapaian kondisi tersebut belum merata. Selain literasi kesehatan mental yang masih rendah, masih banyak kekhawatiran terhadap efek samping obat dan kecenderungan keluarga untuk menyangkal kondisi anak, menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemulihan.
Baca juga: World Schizophrenia Day Tiap 24 Mei, Kenali Perbedaan Skizofrenia & Bipolar
Dalam pandangan Tjhin, dukungan konsisten sangat berpengaruh terhadap kestabilan emosi dan kondisi psikologis anak dan remaja. Keluarga seharusnya aktif mempelajari tentang gangguan ini bahkan bersedia terlibat dalam proses pengobatan.
Maka penanganan yang ideal tidak hanya dari sisi pengobatan medis, tetapi juga intervensi psikososial, pelibatan sekolah, dan dukungan komunitas agar pemulihan khususnya pada anak dan remaja dapat berlangsung optimal.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.