Ilustrasi tembakau sebagai bahan utama rokok. (Sumber gambar: Wirestock/Freepik)

Hari Tanpa Tembakau, Dokter Ungkap Bahaya Asapnya Bagi Perokok Pasif

31 May 2025   |   14:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Setiap 31 Mei, dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Momen ini menjadi pengingat penting akan dampak buruk tembakau terhadap kesehata dan ajakan untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang bebas asap rokok. Tak dipungkiri, kebiasaan merokok merupakan faktor utama masalah paru-paru yang sering terjadi di Indonesia maupun dunia.

Asap rokok mengandung ribuan senyawa kimia berbahaya yang dapat menyerang organ-organ vital tubuh. Bukan hanya pada si pengguna, bahaya rokok juga dapat dialami oleh mereka para perokok pasif.

Baca juga: Hypereport: Menuju Regulasi yang Lebih Sehat untuk Industri Konser Musik Indonesia

Spesialis Paru dari Eka Hospital Cibubur dr. Paulus Arka Triyoga, mengatakan mereka yang tidak merokok namun terpapar asap rokok lingkungan memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami berbagai gangguan kesehatan.

Perokok pasif bisa terkena penyakit kardiovaskular, kanker paru-paru, infeksi saluran pernapasan (terutama pada populasi anak), asma dan alergi, serta peningkatan risiko Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS). "Berhenti merokok memang bukan hal mudah, namun ini adalah investasi terbaik untuk masa depan Anda dan orang-orang terkasih," imbau Paulus dalam pesan singkat yang diterima Hypeabis.id, Jumat (30/5/2025). 

Ya, paparan zat-zat berbahaya dalam rokok menimbulkan kerusakan signifikan pada berbagai sistem organ. Misal sistem pernapasan. Paru-paru merupakan organ yang paling rentan terhadap dampak negatif merokok. 

Inhalasi asap rokok secara kronis menyebabkan kerusakan ireversibel pada alveoli, memicu perkembangan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), termasuk emfisema dan bronkitis kronis. Selain itu, risiko kanker paru-paru meningkat secara signifikan pada mereka yang memiliki riwayat merokok aktif. 

Merokok juga dapat meningkatkan risiko terkena infeksi seperti tuberkulosis (TBC) dan pneumonia. "Penumpukan tar pada paru menghambat fungsi pernapasan Anda secara perlahan-lahan," jelas Paulus.

Kemudian, nikotin dan karbon monoksida dalam asap rokok mengakibatkan peningkatan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Hal ini memaksa jantung bekerja lebih keras dan meningkatkan peluang munculnya penyakit jantung koroner, infark miokardium, serta stroke. Proses aterosklerosis, yaitu penyempitan pembuluh darah akibat pembentukan plak pada dinding arteri, juga dipercepat oleh kebiasaan merokok.

Selain itu, nikotin memiliki sifat adiktif atau candu yang kuat dan mempengaruhi kimia otak. "Kebiasaan merokok pada usia remaja meningkatkan risiko kecanduan yang lebih sulit dihilangkan dan perkembangan penyakit kronis di kemudian hari," imbuhnya.

Di samping itu, penurunan aliran darah serebral akibat penyempitan pembuluh darah dapat mengganggu fungsi kognitif dan meningkatkan kerentanan terhadap stroke. Merokok dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi penglihatan dan saraf optik. Merokok dapat menyebabkan gangguan yang memengaruhi mata seperti glaukoma, katarak, dan degenerasi makula.

Lebih dari pada itu, merokok mempercepat proses penuaan kulit melalui kerusakan serat kolagen dan elastin. Akibatnya, kulit kehilangan elastisitas, menjadi lebih keriput, tampak kusam, dan mengalami penurunan kemampuan regenerasi. "Proses penyembuhan luka pada perokok juga cenderung lebih lambat," tutur Paulus. 

SEBELUMNYA

Bukan Hanya Dewasa, Anak & Remaja Makin Berisiko Bipolar dan Skizofrenia

BERIKUTNYA

Fashion Show Mantra di IFW 2025, Eksplorasi Tenun Tolaki dan Batik Wakaroros

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga