Pameran Vox Populi, Fox They: Saat Poster Menolak Diam & Menggugat Realitas
26 May 2025 |
15:06 WIB
Yayasan Riset Visual mataWaktu bersalin rupa. Ruang yang mengemban misi pengarsipan, penelitian, dan publikasi seni visual itu tampak riuh. Saat memasuki galeri, Genhype akan disambut puluhan poster dengan gambar yang kritis tapi metaforik dalam menyuarakan protes.
Ada sosok jenderal bangkit dari kubur, hingga katak hijau yang memegang pisau. Ada yang mengimak babi dan tikus, hingga aparat yang menggebuki demonstran dengan pentungan besi dan sepatu lars. Dengan lantang, poster-poster itu berbicara, menggugat realitas.
Senarai visual tersebut adalah gambaran dari pameran Vox Populi, Fox They (Suara rakyat, Mereka serigala). Ajang kolaborasi antara FSRD Universitas Tarumanagara, Grafisosial, dan Tabir mataWaktu, ini dihelat untuk merespon kondisi sosial Indonesia kiwari, yang berlangsung hingga 11 Juni 2025.
Baca juga: Dari Mitos ke Realitas, Pameran Seniman Kei Imazu di Museum MACAN Angkat Suara Masa Lalu
Puluhan karya grafis dan fotografi di ruang pamer itu, memang sengaja dipampang untuk menggambarkan kegagalan Reformasi Indonesia. Sebab, setelah lebih dari 2 dekade, 6 tuntutan dari gerakan tersebut seolah berjalan di tempat, atau justru kembali ke masa sebelumnya.
Kurator pameran, Oscar Motuloh mengatakan, meski gerakan Reformasi berhasil menumbangkan pemerintahan otoriter Soeharto, akan tetapi kondisi Indonesia masih saja kelabu, jika tak ingin disebut gelap. Bahkan, muncul juga wacana pengangkatan sebagai pahlawan Nasional.
"Sekarang, lebih dari satu generasi setelah rezim Orde Baru (Orba) tumbang, bayang-bayang reinkarnasi rezim militeristik itu perlahan tapi pasti telah kembali bertengger di singgasana empuk kekuasaan," katanya.
Frasa Vox Populi, Fox They adalah 'plesetan' dari adagium 'vox populi vox dei', yang berarti "suara rakyat adalah suara Tuhan". Gema adagium ini merupakan mantra suci demokrasi untuk menunjukkan bahwa rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi di negara demokrasi.
Namun, beberapa waktu terakhir, di Indonesia khususnya, suara rakyat kerap justru dimanipulasi untuk mendukung kebijakan yang bertentangan dengan kebebasan dan keadilan. Semuanya muncul lewat propaganda, atau kebijakan-kebijakan yang melemahkan sendi-sendi demokrasi.
Salah satunya terefleksi dalam karya bertajuk Sipil Amfibi, buah tangan Aji, pegrafis asal Jakarta. Karya visual ini lahir dari kegelisahan atas wacana RUU TNI yang membuka peluang kembalinya dwifungsi ABRI, yang justru bakal semakin mencederai semangat Reformasi.
Aji mengungkap, sosok katak dipilih sebagai simbol, karena dia hidup di dua alam. Dengan dasi dan senjata yang menempel di tubuhnya, katak ini seolah menggambarkan kebingungan identitas, lewat sosok yang seharusnya hidup di lingkungan barak militer, tapi meruyak ke ranah sipil.
"Karya ini, mengajak kita berpikir, apa jadinya jika batas antara penjaga dan yang dijaga mulai mengabur," katanya.
Ada pula karya bertajuk Rest In Peace, Demokrasi dari Kelompok R.I.P, sebuah kolektif asal Jakarta dan Bekasi. Karya visual ini merupakan bentuk protes terhadap kemunduran nilai-nilai demokrasi dan menguatnya militerisme dalam kehidupan sipil.
Dengan gaya desain brutalisme dan warna merah gelap yang mendominasi, poster ini menggambarkan suasana tegang dan darurat. Salah satunya lewat gambar aparat yang merepresi anak-anak muda yang melakukan protes dengan turun ke jalan menuntut pembatalan RUU TNI.
Dekan FSRD Untar, Kurnia Setiawan mengatakan, sebagai sebuah karya desain, poster merupakan sarana sekaligus katalis untuk mewujudkan perubahan yang sedang, pernah atau akan terjadi. Desain, juga dapat digunakan sebagai alat propaganda, dan sarana penyadaran untuk masyarakat.
“Kami berharap pameran ini juga dapat menumbuhkan kesadaran untuk memperjuangkan kebaikan bersama demi Indonesia yang lebih baik. Indonesia adalah rumah kita, mari kita rawat dan jaga bersama,” katanya.
Baca juga: Balai Budaya Jakarta Gelar Pameran Sang Pangeran 2 Abad Perang Jawa
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Ada sosok jenderal bangkit dari kubur, hingga katak hijau yang memegang pisau. Ada yang mengimak babi dan tikus, hingga aparat yang menggebuki demonstran dengan pentungan besi dan sepatu lars. Dengan lantang, poster-poster itu berbicara, menggugat realitas.
Senarai visual tersebut adalah gambaran dari pameran Vox Populi, Fox They (Suara rakyat, Mereka serigala). Ajang kolaborasi antara FSRD Universitas Tarumanagara, Grafisosial, dan Tabir mataWaktu, ini dihelat untuk merespon kondisi sosial Indonesia kiwari, yang berlangsung hingga 11 Juni 2025.
Baca juga: Dari Mitos ke Realitas, Pameran Seniman Kei Imazu di Museum MACAN Angkat Suara Masa Lalu
Puluhan karya grafis dan fotografi di ruang pamer itu, memang sengaja dipampang untuk menggambarkan kegagalan Reformasi Indonesia. Sebab, setelah lebih dari 2 dekade, 6 tuntutan dari gerakan tersebut seolah berjalan di tempat, atau justru kembali ke masa sebelumnya.
Kurator pameran, Oscar Motuloh mengatakan, meski gerakan Reformasi berhasil menumbangkan pemerintahan otoriter Soeharto, akan tetapi kondisi Indonesia masih saja kelabu, jika tak ingin disebut gelap. Bahkan, muncul juga wacana pengangkatan sebagai pahlawan Nasional.
"Sekarang, lebih dari satu generasi setelah rezim Orde Baru (Orba) tumbang, bayang-bayang reinkarnasi rezim militeristik itu perlahan tapi pasti telah kembali bertengger di singgasana empuk kekuasaan," katanya.

Sejumlah karya dalam pameran Vox Populi, Fox They di Yayasan Riset Visual MataWaktu, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Namun, beberapa waktu terakhir, di Indonesia khususnya, suara rakyat kerap justru dimanipulasi untuk mendukung kebijakan yang bertentangan dengan kebebasan dan keadilan. Semuanya muncul lewat propaganda, atau kebijakan-kebijakan yang melemahkan sendi-sendi demokrasi.
Salah satunya terefleksi dalam karya bertajuk Sipil Amfibi, buah tangan Aji, pegrafis asal Jakarta. Karya visual ini lahir dari kegelisahan atas wacana RUU TNI yang membuka peluang kembalinya dwifungsi ABRI, yang justru bakal semakin mencederai semangat Reformasi.
Aji mengungkap, sosok katak dipilih sebagai simbol, karena dia hidup di dua alam. Dengan dasi dan senjata yang menempel di tubuhnya, katak ini seolah menggambarkan kebingungan identitas, lewat sosok yang seharusnya hidup di lingkungan barak militer, tapi meruyak ke ranah sipil.
"Karya ini, mengajak kita berpikir, apa jadinya jika batas antara penjaga dan yang dijaga mulai mengabur," katanya.

Sejumlah karya dalam pameran Vox Populi, Fox They di Yayasan Riset Visual MataWaktu, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Dengan gaya desain brutalisme dan warna merah gelap yang mendominasi, poster ini menggambarkan suasana tegang dan darurat. Salah satunya lewat gambar aparat yang merepresi anak-anak muda yang melakukan protes dengan turun ke jalan menuntut pembatalan RUU TNI.
Dekan FSRD Untar, Kurnia Setiawan mengatakan, sebagai sebuah karya desain, poster merupakan sarana sekaligus katalis untuk mewujudkan perubahan yang sedang, pernah atau akan terjadi. Desain, juga dapat digunakan sebagai alat propaganda, dan sarana penyadaran untuk masyarakat.
“Kami berharap pameran ini juga dapat menumbuhkan kesadaran untuk memperjuangkan kebaikan bersama demi Indonesia yang lebih baik. Indonesia adalah rumah kita, mari kita rawat dan jaga bersama,” katanya.
Baca juga: Balai Budaya Jakarta Gelar Pameran Sang Pangeran 2 Abad Perang Jawa
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.