Dari Mitos ke Realitas, Pameran Seniman Kei Imazu di Museum MACAN Angkat Suara Masa Lalu
22 May 2025 |
09:30 WIB
Museum MACAN menghadirkan pameran tunggal seniman Jepang yang berbasis di Bandung, Kei Imazu, bertajuk The Sea is Barely Wrinkled (Laut Nyaris Tak Beriak). Pameran yang berlangsung mulai 24 Mei hingga 5 Oktober 2025 ini menyatukan mitologi, ekologi, dan ingatan sejarah dalam jalinan narasi yang lintas waktu dan relevan dengan kondisi masa kini.
Venus Lau, Direktur Museum MACAN, mengatakan bahwa The Sea is Barely Wrinkled merupakan pameran tunggal musuem pertama sang seniman di Indonesia. Dalam pameran ini, Imazu akan mengajak penikmat seni merasakan waktu dan sejarah sebagai sesuatu yang cair dan hidup, layaknya lautan.
“Melalui praktik artistiknya, dia merangkai mitologi, ekologi, dan ingatan dalam jalinan yang tak lekang oleh waktu dan sangat relevan dalam kehidupan kita hari ini,” katanya di Jakarta, Kamis (22/5/2025).
Baca Juga: Pameran Vox Populi, Fox They: Seruan Visual untuk Reformasi yang Gagal
Dia menuturkan, judul pameran tunggal The Sea is Barely Wrinkled diambil dari novel karya penulis Italia bernama Italo Calvino dengan judul Mr. Palomar (1983). Dalam karya sang penulis, laut menjadi metafora bagi kesinambungan dan kedalaman – tenang di permukaan. Namun, penuh dengan arus di bagian bawah.
Kondisi tersebut sama dengan eksplorasi artistik Imazu terhadap sejarah, yakni berlapis dan terus berubah di bawah permukaan yang terlihat. Karya-karya dalam pameran The Sea is Barely Wrinkled berakar dari riset Imazu yang berkelanjutan terhadap kawasan Sunda Kelapa di Jakarta Utara. Kawasan tersebut merupakan pelabuhan penting dari waktu ke waktu.
Dalam pameran ini, Genhype akan melihat sang seniman menyoroti kejadian tenggelamnya kapal Batavia pada 1629 di lepas pantai Australia Barat. Peristiwa itu adalah insiden sejarah yang melambangkan keruntuhan ambisi kolonial di hadapan kekuatan alam yang tak tergoyahkan.
Imazu menjukstaposisikan gema dari ambisi ini dengan kerentanan kondisi ekologis kawasan pesisir Jakarta masa kini, di antaranya banjir musiman, turunnya permukaan tanah, dan tantangan lingkungan lainnya yang terus membentuk masa depan kota ini.
Dia menciptakan peta waktu, yakni kerangka visual yang melepaskan diri dari garis waktu linear untuk menunjukkan cara masa lalu, masa kini, dan masa depan saling terhubung secara mendalam guna merespons konteks yang berlapis itu.
Tidak hanya itu, Imazu juga memadukan teknik melukis tradisional dengan manipulasi digital dan pemodelan tiga dimensi. Dia merujuk kepada peristiwa, arsip, dan artefak bersejarah, serta mitologi lokal guna melakukan eksplorasi hubungan antara kolonialisme, perubahan lingkungan, dan perkembangan urban.
Imazu yang berasal dari Jepang mulai menetap di Indonesia pada 2018. Dia mendapatkan inspirasi dari cara masyarakat lokal memandang sejarah, yakni bukan sesuatu yang statis dan terpisah pada masa lalu.
Masyarakat memandang sejarah sebagai sesuatu yang hidup dan diwariskan melalui tradisi lisan, ritual, dan alam. Karya-karyanya mewujudkan gagasan tersebut dengan kehadiran berbagai tokoh mitologis Dewi Sri dan Nyai Roro Kidul.
Dalam kesempatan yang sama, Imazu mengatakan bahwa seringkali kekuatan yang tidak terlihat dan terlupakan membentuk realitas masyarakat pada saat ini. Mitos hadir sebagai suara yang menyampaikan narasi-narasi tersembunyi itu.
“Melalui pameran ini, saya berupaya memberi wujud pada suara yang nyaris tak terdengar tersebut,” ujarnya.
Baca Juga: Balai Budaya Jakarta Gelar Pameran Sang Pangeran 2 Abad Perang Jawa
Venus Lau, Direktur Museum MACAN, mengatakan bahwa The Sea is Barely Wrinkled merupakan pameran tunggal musuem pertama sang seniman di Indonesia. Dalam pameran ini, Imazu akan mengajak penikmat seni merasakan waktu dan sejarah sebagai sesuatu yang cair dan hidup, layaknya lautan.
“Melalui praktik artistiknya, dia merangkai mitologi, ekologi, dan ingatan dalam jalinan yang tak lekang oleh waktu dan sangat relevan dalam kehidupan kita hari ini,” katanya di Jakarta, Kamis (22/5/2025).
Baca Juga: Pameran Vox Populi, Fox They: Seruan Visual untuk Reformasi yang Gagal
Dia menuturkan, judul pameran tunggal The Sea is Barely Wrinkled diambil dari novel karya penulis Italia bernama Italo Calvino dengan judul Mr. Palomar (1983). Dalam karya sang penulis, laut menjadi metafora bagi kesinambungan dan kedalaman – tenang di permukaan. Namun, penuh dengan arus di bagian bawah.
Kondisi tersebut sama dengan eksplorasi artistik Imazu terhadap sejarah, yakni berlapis dan terus berubah di bawah permukaan yang terlihat. Karya-karya dalam pameran The Sea is Barely Wrinkled berakar dari riset Imazu yang berkelanjutan terhadap kawasan Sunda Kelapa di Jakarta Utara. Kawasan tersebut merupakan pelabuhan penting dari waktu ke waktu.
Dalam pameran ini, Genhype akan melihat sang seniman menyoroti kejadian tenggelamnya kapal Batavia pada 1629 di lepas pantai Australia Barat. Peristiwa itu adalah insiden sejarah yang melambangkan keruntuhan ambisi kolonial di hadapan kekuatan alam yang tak tergoyahkan.
Imazu menjukstaposisikan gema dari ambisi ini dengan kerentanan kondisi ekologis kawasan pesisir Jakarta masa kini, di antaranya banjir musiman, turunnya permukaan tanah, dan tantangan lingkungan lainnya yang terus membentuk masa depan kota ini.
Dia menciptakan peta waktu, yakni kerangka visual yang melepaskan diri dari garis waktu linear untuk menunjukkan cara masa lalu, masa kini, dan masa depan saling terhubung secara mendalam guna merespons konteks yang berlapis itu.
Tidak hanya itu, Imazu juga memadukan teknik melukis tradisional dengan manipulasi digital dan pemodelan tiga dimensi. Dia merujuk kepada peristiwa, arsip, dan artefak bersejarah, serta mitologi lokal guna melakukan eksplorasi hubungan antara kolonialisme, perubahan lingkungan, dan perkembangan urban.
Imazu yang berasal dari Jepang mulai menetap di Indonesia pada 2018. Dia mendapatkan inspirasi dari cara masyarakat lokal memandang sejarah, yakni bukan sesuatu yang statis dan terpisah pada masa lalu.
Masyarakat memandang sejarah sebagai sesuatu yang hidup dan diwariskan melalui tradisi lisan, ritual, dan alam. Karya-karyanya mewujudkan gagasan tersebut dengan kehadiran berbagai tokoh mitologis Dewi Sri dan Nyai Roro Kidul.
Dalam kesempatan yang sama, Imazu mengatakan bahwa seringkali kekuatan yang tidak terlihat dan terlupakan membentuk realitas masyarakat pada saat ini. Mitos hadir sebagai suara yang menyampaikan narasi-narasi tersembunyi itu.
“Melalui pameran ini, saya berupaya memberi wujud pada suara yang nyaris tak terdengar tersebut,” ujarnya.
Baca Juga: Balai Budaya Jakarta Gelar Pameran Sang Pangeran 2 Abad Perang Jawa
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.