Heart Lamp Karya Penulis India Banu Mushtaq Raih The International Booker Prize 2025
21 May 2025 |
14:53 WIB
Buku kumpulan cerita pendek Heart Lamp karya penulis India, Banu Mushtaq, berhasil memenangkan penghargaan The International Booker Prize 2025. Penobatannya diumumkan di acara anugerah ajang penghargaan sastra internasional prestisius itu di Tate Modern London pada Selasa (20/5/2025) malam waktu setempat.
The International Booker Prize ialah penghargaan tahunan yang diberikan untuk karya-karya fiksi terbaik hasil terjemahan maupun yang diterbitkan dalam bahasa Inggris. Penghargaan ini dibuat untuk mengakui karya penting para penerjemah.
Heart Lamp, yang memuat 12 cerita, dinilai berhasil mengisahkan dengan indah kehidupan sehari-hari komunitas perempuan dan anak perempuan Muslim di India Selatan. Heart Lamp diterjemahkan dari bahasa Kannada oleh Deepa Bhasthi, dan menjadikannya sebagai buku fiksi terjemahan paling berpengaruh pada tahun ini.
Baca juga: Berburu Buku Bacaan Sastra Indonesia Klasik Terbitan Balai Pustaka di Parade Masa
Dilansir dari laman resmi The Booker Prizes, Heart Lamp menjadi buku kumpulan cerita pendek pertama yang dianugerahi penghargaan The International Booker Prize. Ini juga menjadi buku pertama yang diterjemahkan dari bahasa Kannada, yakni bahasa yang digunakan oleh sekitar 65 juta orang.
Capaian ini membuat Deepa Bhasthi menjadi penerjemah India pertama yang memenangkan The International Booker Prize. Begitu pun dengan And Other Stories, penerbit independen yang berbasis di Sheffield, yang memenangkan penghargaan tersebut untuk pertama kalinya.
Max Porter, Ketua Juri International Booker Prize 2025, menyatakan Heart Lamp merupakan karya sastra terjemahan yang benar-benar baru bagi pembaca bahasa Inggris.
Menurutnya, gaya terjemahan yang 'radikal' dalam buku ini justru menciptakan tekstur baru dalam penggunaan bahasa Inggris, sekaligus menantang dan memperluas pemahaman publik tentang penerjemahan.
Dia menambahkan buku Heart Lamp sangat disukai oleh para juri bahkan telah memikat sejak pertama kali membacanya. Kisah-kisah yang indah, menarik, dan meneguhkan hidup dalam buku tersebut, katanya, muncul dari bahasa Kannada, diselingi dengan kekayaan sosial-politik yang luar biasa dari bahasa dan dialek lain.
"Buku ini berbicara tentang kehidupan perempuan, hak reproduksi, keyakinan, kasta, kekuasaan, dan penindasan. Sungguh menyenangkan mendengarkan apresiasi yang berkembang terhadap cerita-cerita ini dari berbagai sudut pandang juri," katanya.
Porter juga menuturkan bahwa cerita-cerita yang ada dalam buku Heart Lamp menyampaikan kebenaran terkait sikap penguasa serta menguak garis-garis kesalahan kasta, kelas, dan agama yang tersebar luas dalam masyarakat kontemporer. Mengungkap kebusukan di dalamnya yakni korupsi, penindasan, ketidakadilan, dan kekerasan.
Namun, lanjutnya, Heart Lamp juga menawarkan kenikmatan membaca yang sesungguhnya dan luar biasa berkat penceritaan yang solid, karakter yang tak terlupakan, dialog yang hidup, ketegangan yang membara, dan kejutan di setiap ceritanya.
"Meskipun tampak sederhana, cerita-cerita ini memiliki bobot emosional, moral, dan sosial-politik yang sangat besar, yang mendorong kita untuk menggali lebih dalam," kata Porter.
Ditulis antara 1990-2023, Heart Lamp berisi 12 cerita yang mengisahkan kehidupan perempuan dan anak perempuan dalam komunitas patriarki di India selatan. Buku ini menampilkan potret ketegangan antara keluarga dan komunitas, sebagai upaya dari penulis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan memprotes segala bentuk penindasan kasta dan agama.
Cerita-cerita dalam buku tersebut ditulis dengan gaya yang cerdas, hidup, mengharukan, sekaligus mengecam, membangun puncak emosi yang membingungkan dengan gaya penulisan yang kaya.
Hal itu digerakkan oleh karakter yang beragam, mulai dari anak-anak yang bersemangat, nenek-nenek yang kurang ajar, maulvi yang konyol dan saudara-saudara yang kasar, suami-suami yang sering kali malang, dan terutama para ibu, yang bertahan hidup dengan perasaan mereka dengan pengorbanan besar.
Heart Lamp ditulis oleh Banu Mushtaq, seorang penulis, advokat, aktivis, serta dikenal sebagai tokoh utama dalam sastra Kannada progresif, di negara bagian Karnataka, India selatan. Cerita-cerita dalam buku tersebut terinspirasi dari sederet cerita dan pengalaman perempuan yang datang kepadanya untuk meminta bantuan advokasi.
Mushtaq dikenal konsisten memperjuangkan hak-hak perempuan serta lantang mengkritisi segala bentuk penindasan kasta dan agama di India. Dengan penghargaan yang diraihnya, dia menjadi penulis India kedua yang memenangkan The International Booker Prize setelah Geetanjali Shree pada 2022.
Berkat penghargaan yang diraih, mereka pun berhak mendapatkan hadiah uang sebesar 50.000 Pounds atau sekitar Rp1,1 miliar, yang dibagi rata antara penulis dan penerjemah. Sementara itu, penulis dan penerjemah yang terpilih masing-masing menerima 2.500 Pounds atau sekitar Rp55 juta.
Mushtaq mengatakan agama, masyarakat, dan politik acapkali menuntut kaum wanita untuk patuh pada sistem yang justru menimbulkan kekejaman yang tidak manusiawi bagi mereka, hingga akhirnya mereka sadar akan posisi mereka yang direndahkan. Dia menambahkan kejadian-kejadian yang dilaporkan di media serta pengalaman pribadi yang dia alami menjadi inspirasinya dalam menulis Heart Lamp.
"Rasa sakit, penderitaan, dan kehidupan yang tak berdaya dari para wanita ini menciptakan respons emosional yang mendalam dalam diri saya, yang mendorong saya untuk menulis," ungkapnya.
Baca juga: Resensi Buku Kartu Pos Bergambar dari Buitenzorg Ajak Berkelana ke Masa Lalu
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
The International Booker Prize ialah penghargaan tahunan yang diberikan untuk karya-karya fiksi terbaik hasil terjemahan maupun yang diterbitkan dalam bahasa Inggris. Penghargaan ini dibuat untuk mengakui karya penting para penerjemah.
Heart Lamp, yang memuat 12 cerita, dinilai berhasil mengisahkan dengan indah kehidupan sehari-hari komunitas perempuan dan anak perempuan Muslim di India Selatan. Heart Lamp diterjemahkan dari bahasa Kannada oleh Deepa Bhasthi, dan menjadikannya sebagai buku fiksi terjemahan paling berpengaruh pada tahun ini.
Baca juga: Berburu Buku Bacaan Sastra Indonesia Klasik Terbitan Balai Pustaka di Parade Masa
Dilansir dari laman resmi The Booker Prizes, Heart Lamp menjadi buku kumpulan cerita pendek pertama yang dianugerahi penghargaan The International Booker Prize. Ini juga menjadi buku pertama yang diterjemahkan dari bahasa Kannada, yakni bahasa yang digunakan oleh sekitar 65 juta orang.
Capaian ini membuat Deepa Bhasthi menjadi penerjemah India pertama yang memenangkan The International Booker Prize. Begitu pun dengan And Other Stories, penerbit independen yang berbasis di Sheffield, yang memenangkan penghargaan tersebut untuk pertama kalinya.

Penulis Banu Mushtaq (kiri) & penerjemah Deepa Bhasthi. (Sumber gambar: The Booker Prizes)
Menurutnya, gaya terjemahan yang 'radikal' dalam buku ini justru menciptakan tekstur baru dalam penggunaan bahasa Inggris, sekaligus menantang dan memperluas pemahaman publik tentang penerjemahan.
Dia menambahkan buku Heart Lamp sangat disukai oleh para juri bahkan telah memikat sejak pertama kali membacanya. Kisah-kisah yang indah, menarik, dan meneguhkan hidup dalam buku tersebut, katanya, muncul dari bahasa Kannada, diselingi dengan kekayaan sosial-politik yang luar biasa dari bahasa dan dialek lain.
"Buku ini berbicara tentang kehidupan perempuan, hak reproduksi, keyakinan, kasta, kekuasaan, dan penindasan. Sungguh menyenangkan mendengarkan apresiasi yang berkembang terhadap cerita-cerita ini dari berbagai sudut pandang juri," katanya.
Porter juga menuturkan bahwa cerita-cerita yang ada dalam buku Heart Lamp menyampaikan kebenaran terkait sikap penguasa serta menguak garis-garis kesalahan kasta, kelas, dan agama yang tersebar luas dalam masyarakat kontemporer. Mengungkap kebusukan di dalamnya yakni korupsi, penindasan, ketidakadilan, dan kekerasan.
Namun, lanjutnya, Heart Lamp juga menawarkan kenikmatan membaca yang sesungguhnya dan luar biasa berkat penceritaan yang solid, karakter yang tak terlupakan, dialog yang hidup, ketegangan yang membara, dan kejutan di setiap ceritanya.
"Meskipun tampak sederhana, cerita-cerita ini memiliki bobot emosional, moral, dan sosial-politik yang sangat besar, yang mendorong kita untuk menggali lebih dalam," kata Porter.
Ditulis antara 1990-2023, Heart Lamp berisi 12 cerita yang mengisahkan kehidupan perempuan dan anak perempuan dalam komunitas patriarki di India selatan. Buku ini menampilkan potret ketegangan antara keluarga dan komunitas, sebagai upaya dari penulis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan memprotes segala bentuk penindasan kasta dan agama.
Cerita-cerita dalam buku tersebut ditulis dengan gaya yang cerdas, hidup, mengharukan, sekaligus mengecam, membangun puncak emosi yang membingungkan dengan gaya penulisan yang kaya.
Hal itu digerakkan oleh karakter yang beragam, mulai dari anak-anak yang bersemangat, nenek-nenek yang kurang ajar, maulvi yang konyol dan saudara-saudara yang kasar, suami-suami yang sering kali malang, dan terutama para ibu, yang bertahan hidup dengan perasaan mereka dengan pengorbanan besar.
Heart Lamp ditulis oleh Banu Mushtaq, seorang penulis, advokat, aktivis, serta dikenal sebagai tokoh utama dalam sastra Kannada progresif, di negara bagian Karnataka, India selatan. Cerita-cerita dalam buku tersebut terinspirasi dari sederet cerita dan pengalaman perempuan yang datang kepadanya untuk meminta bantuan advokasi.
Mushtaq dikenal konsisten memperjuangkan hak-hak perempuan serta lantang mengkritisi segala bentuk penindasan kasta dan agama di India. Dengan penghargaan yang diraihnya, dia menjadi penulis India kedua yang memenangkan The International Booker Prize setelah Geetanjali Shree pada 2022.
Berkat penghargaan yang diraih, mereka pun berhak mendapatkan hadiah uang sebesar 50.000 Pounds atau sekitar Rp1,1 miliar, yang dibagi rata antara penulis dan penerjemah. Sementara itu, penulis dan penerjemah yang terpilih masing-masing menerima 2.500 Pounds atau sekitar Rp55 juta.
Mushtaq mengatakan agama, masyarakat, dan politik acapkali menuntut kaum wanita untuk patuh pada sistem yang justru menimbulkan kekejaman yang tidak manusiawi bagi mereka, hingga akhirnya mereka sadar akan posisi mereka yang direndahkan. Dia menambahkan kejadian-kejadian yang dilaporkan di media serta pengalaman pribadi yang dia alami menjadi inspirasinya dalam menulis Heart Lamp.
"Rasa sakit, penderitaan, dan kehidupan yang tak berdaya dari para wanita ini menciptakan respons emosional yang mendalam dalam diri saya, yang mendorong saya untuk menulis," ungkapnya.
Baca juga: Resensi Buku Kartu Pos Bergambar dari Buitenzorg Ajak Berkelana ke Masa Lalu
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.