Begini Dampak Gemblengan Barak Militer ala KDM dari Aspek Psikologi Anak
20 May 2025 |
11:33 WIB
Kebijakan soal barak militer yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang dikenal sebagai KDM menuai kontroversi. Program barak militer sebagai tempat pembinaan kenakalan remaja ini menuai beragam reaksi publik. Melalui pendekatan ini, sejumlah anak dan remaja diarahkan untuk dididik di lingkungan dengan sistem kedisiplinan ketat ala militer.
Mereka mengikuti rutinitas terstruktur dan dikondisikan untuk menaati aturan secara konsisten. Diharapkan, pembinaan semacam ini dapat menjadi solusi atas meningkatnya kasus perilaku menyimpang di kalangan remaja di Jawa Barat. Namun sebetulnya, apakah pendekatan tersebut efektif dan sesuai kebutuhan apabila dipandang dari sisi psikologi perkembangan anak?
Baca juga: Daycare Tak Cuma Tempat Penitipan Anak, Begini Kata Psikolog
Pengaruh pendekatan disiplin bergaya militer terhadap psikologis anak tidak bisa dinilai secara sepihak saja. Banyak lapisan problema yang harus diperhatikan. Psikolog Anak Anindya Dewi Paramita menilai bahwa pembinaan model ini sebaiknya tidak diperlakukan sebagai pendekatan tunggal.
Menurutnya, prinsip kedisiplinan memang dibutuhkan dalam pengasuhan. Ini juga telah diakui sebagai salah satu dimensi yang penting dalam membentuk perilaku anak. Namun, pendekatan tersebut hanya akan berdampak positif bila diberikan dalam porsi yang sesuai dan disertai dengan pendekatan yang holistik.
"Prinsip utama yang dijunjung adalah kedisiplinan. Ketika kontrol atau disiplin ini diberikan dalam porsi yang cukup dan diimbangi dengan kasih sayang, maka ini memungkinkan anak merasa punya ruang berkembang yang besar,” jelas psikolog anak yang akrab disapa Mita ini.
Telah ditegaskan bahwa perilaku menyimpang pada remaja kerap kali merupakan manifestasi dari permasalahan yang lebih mendalam. Masalah perilaku, menurut Anindya, sering kali hanyalah gejala luar dari kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi. Ini juga bisa berkaitan dengan ketidakhadiran figur otoritas yang stabil, hingga relasi emosional yang renggang dengan orang tua. Oleh karena itu, tidak cukup jika penanganan hanya difokuskan pada koreksi perilaku secara langsung melalui kontrol ketat.
Pendekatan yang terlalu keras justru berisiko menimbulkan tekanan psikologis yang lebih besar terutama pada remaja yang tengah berada dalam fase perubahan. Perubahan ini dalam hal biologis, emosional, dan sosial. Dalam masa ini, kebutuhan untuk mengekspresikan diri, mengeksplorasi identitas, serta memperluas jaringan sosial menjadi sangat signifikan.
Mita menjelaskan, dalam teori perkembangan anak, remaja dipahami sebagai individu yang tengah berada dalam proses membentuk identitas diri. Apabiila kesempatan untuk berekspresi dan mengembangkan minat dibatasi secara drastis, maka risiko stagnasi perkembangan psikologis dan sosial bisa saja meningkat.
Lebih lanjut, ditekankan pula bahwa sistem pengasuhan yang terlalu menekankan kendali dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Ini bisa mencakup kurangnya kemampuan mengambil keputusan, rendahnya keberanian berpendapat, dan tumbuhnya rasa ketidakberdayaan.
Selain aspek psikologis, kebutuhan fisik dan kognitif anak juga harus turut dipertimbangkan dalam rancangan program semacam ini. Dalam masa remaja, individu memerlukan nutrisi yang tepat, aktivitas fisik yang seimbang, serta stimulasi intelektual dan emosional yang mendukung perkembangan menyeluruh. Sebab, hal ini berkaitan langsung dengan kesehatan mental dan perkembangan anak akan meningkat.
Selain itu, Mita juga mengatakan bahwa ketika anak ditempatkan dalam lingkungan barak selama waktu tertentu, pembelajaran akademik yang menjadi hak mereka juga perlu diseimbangkan.
Suatu sistem mitigasi pembelajaran harus disiapkan agar capaian akademik yang ditetapkan oleh standar nasional tetap dapat terpenuhi. Jika tidak, maka program pembinaan berpotensi menimbulkan ketertinggalan dalam aspek pendidikan formal yang akan berdampak jangka panjang ke depannya.
Mita menyarankan pentingnya keberadaan kurikulum berbasis sosial dan emosional yang hingga saat ini belum secara menyeluruh diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. Pembinaan berbasis barak seperti ini justru dapat menjadi peluang jika aspek ini turut diintegrasikan ke dalam program secara serius dan profesional.
Memang, pendekatan militer dalam pembinaan remaja tidak secara otomatis ditolak dari sudut pandang psikologi anak. Namun pendekatan ini tidak dapat diberlakukan secara universal atau diterapkan tanpa disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan setiap individu.
Baca juga: Rawan Pengaruhi Kesehatan Finansial, Psikolog Ingatkan Tetap Bijak Gunakan Fitur Paylater
Lebih lanjut, kebutuhan anak untuk mendapatkan bimbingan tetap harus diimbangi dengan pemberian ruang-ruang untuk berekspresi dan kesempatan mengembangkan diri.
Jika program ini tetap dilangsungkan, Mita menekankan konsep 'connect before correct' yang harus dijadikan prinsip utama dalam pengasuhan dan pembinaan. Ini artinya antara pembina dan anak perlu membangun hubungan emosional terlebih dahulu sebelum koreksi perilaku dilakukan. Dengan cara ini, Mita mengatakan pembinaan akan diterima secara sehat dan berdampak positif dalam jangka panjang.
Mereka mengikuti rutinitas terstruktur dan dikondisikan untuk menaati aturan secara konsisten. Diharapkan, pembinaan semacam ini dapat menjadi solusi atas meningkatnya kasus perilaku menyimpang di kalangan remaja di Jawa Barat. Namun sebetulnya, apakah pendekatan tersebut efektif dan sesuai kebutuhan apabila dipandang dari sisi psikologi perkembangan anak?
Baca juga: Daycare Tak Cuma Tempat Penitipan Anak, Begini Kata Psikolog
Pengaruh pendekatan disiplin bergaya militer terhadap psikologis anak tidak bisa dinilai secara sepihak saja. Banyak lapisan problema yang harus diperhatikan. Psikolog Anak Anindya Dewi Paramita menilai bahwa pembinaan model ini sebaiknya tidak diperlakukan sebagai pendekatan tunggal.
Menurutnya, prinsip kedisiplinan memang dibutuhkan dalam pengasuhan. Ini juga telah diakui sebagai salah satu dimensi yang penting dalam membentuk perilaku anak. Namun, pendekatan tersebut hanya akan berdampak positif bila diberikan dalam porsi yang sesuai dan disertai dengan pendekatan yang holistik.
"Prinsip utama yang dijunjung adalah kedisiplinan. Ketika kontrol atau disiplin ini diberikan dalam porsi yang cukup dan diimbangi dengan kasih sayang, maka ini memungkinkan anak merasa punya ruang berkembang yang besar,” jelas psikolog anak yang akrab disapa Mita ini.
Telah ditegaskan bahwa perilaku menyimpang pada remaja kerap kali merupakan manifestasi dari permasalahan yang lebih mendalam. Masalah perilaku, menurut Anindya, sering kali hanyalah gejala luar dari kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi. Ini juga bisa berkaitan dengan ketidakhadiran figur otoritas yang stabil, hingga relasi emosional yang renggang dengan orang tua. Oleh karena itu, tidak cukup jika penanganan hanya difokuskan pada koreksi perilaku secara langsung melalui kontrol ketat.
Pendekatan yang terlalu keras justru berisiko menimbulkan tekanan psikologis yang lebih besar terutama pada remaja yang tengah berada dalam fase perubahan. Perubahan ini dalam hal biologis, emosional, dan sosial. Dalam masa ini, kebutuhan untuk mengekspresikan diri, mengeksplorasi identitas, serta memperluas jaringan sosial menjadi sangat signifikan.
Mita menjelaskan, dalam teori perkembangan anak, remaja dipahami sebagai individu yang tengah berada dalam proses membentuk identitas diri. Apabiila kesempatan untuk berekspresi dan mengembangkan minat dibatasi secara drastis, maka risiko stagnasi perkembangan psikologis dan sosial bisa saja meningkat.
Lebih lanjut, ditekankan pula bahwa sistem pengasuhan yang terlalu menekankan kendali dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Ini bisa mencakup kurangnya kemampuan mengambil keputusan, rendahnya keberanian berpendapat, dan tumbuhnya rasa ketidakberdayaan.
“Anak yang tidak terbiasa diberi ruang akan kesulitan mengambil keputusan, tidak terbiasa untuk mengekspresikan pendapat,” ungkap Mita.
Selain aspek psikologis, kebutuhan fisik dan kognitif anak juga harus turut dipertimbangkan dalam rancangan program semacam ini. Dalam masa remaja, individu memerlukan nutrisi yang tepat, aktivitas fisik yang seimbang, serta stimulasi intelektual dan emosional yang mendukung perkembangan menyeluruh. Sebab, hal ini berkaitan langsung dengan kesehatan mental dan perkembangan anak akan meningkat.
Selain itu, Mita juga mengatakan bahwa ketika anak ditempatkan dalam lingkungan barak selama waktu tertentu, pembelajaran akademik yang menjadi hak mereka juga perlu diseimbangkan.
Suatu sistem mitigasi pembelajaran harus disiapkan agar capaian akademik yang ditetapkan oleh standar nasional tetap dapat terpenuhi. Jika tidak, maka program pembinaan berpotensi menimbulkan ketertinggalan dalam aspek pendidikan formal yang akan berdampak jangka panjang ke depannya.
Mita menyarankan pentingnya keberadaan kurikulum berbasis sosial dan emosional yang hingga saat ini belum secara menyeluruh diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. Pembinaan berbasis barak seperti ini justru dapat menjadi peluang jika aspek ini turut diintegrasikan ke dalam program secara serius dan profesional.
Memang, pendekatan militer dalam pembinaan remaja tidak secara otomatis ditolak dari sudut pandang psikologi anak. Namun pendekatan ini tidak dapat diberlakukan secara universal atau diterapkan tanpa disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan setiap individu.
Baca juga: Rawan Pengaruhi Kesehatan Finansial, Psikolog Ingatkan Tetap Bijak Gunakan Fitur Paylater
Lebih lanjut, kebutuhan anak untuk mendapatkan bimbingan tetap harus diimbangi dengan pemberian ruang-ruang untuk berekspresi dan kesempatan mengembangkan diri.
Jika program ini tetap dilangsungkan, Mita menekankan konsep 'connect before correct' yang harus dijadikan prinsip utama dalam pengasuhan dan pembinaan. Ini artinya antara pembina dan anak perlu membangun hubungan emosional terlebih dahulu sebelum koreksi perilaku dilakukan. Dengan cara ini, Mita mengatakan pembinaan akan diterima secara sehat dan berdampak positif dalam jangka panjang.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.