Ilustrasi pendidikan ala militer (Sumber gambar: Filip Andrejevic/Unsplash)

Psikolog: Pendidikan Anak di Barak Militer Cuma Solusi Instan, Tak Cocok untuk Jangka Panjang

20 May 2025   |   21:17 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Fenomena program barak militer ala Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) telah menimbulkan berbagai respons dari masyarakat. Program ini dirancang sebagai bentuk respons cepat terhadap maraknya perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja mulai dari kekerasan fisik hingga tindakan kekerasan seksual. 

Psikolog Klinik Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan & Anak (UPTD PPA) Depok Rolla Apnoza menanggapi fenomena ini sebagai refleksi dari kondisi orang tua yang sudah kewalahan menghadapi anak-anak mereka.

“Kalau melihat dari kondisi yang dilihat dari situasi terutama di Jawa Barat, mungkin banyak sekali orangtua yang kewalahan untuk menghadapi anak-anaknya,” ujarnya. 

Baca juga: Begini Dampak Gemblengan Barak Militer ala KDM dari Aspek Psikologi Anak

Menurut Rolla, beberapa kasus kekerasan di kalangan remaja dikatakan telah melampaui bentuk-bentuk perundungan ringan yang dulu pernah ada. Kini, kekerasan tersebut mencakup tindakan serius yang mengkhawatirkan bahkan mengarah pada kriminal.

Salah satu akar dari masalah ini, lanjutnya, bisa berasal dari konsumsi pornografi, adiksi internet, serta faktor berlapis lainnya yang sangat personal. Hal ini menyebabkan gangguan perilaku yang meluas dan sulit dikendalikan. Dalam situasi ini, banyak orang tua dinilai merasa putus asa. 

“Sebenarnya orang tua bukan hanya capek tapi sebenarnya mereka juga ada yang sudah di tahap takut untuk menghadapi anaknya,” kata Rolla. 

Barak militer kemudian muncul sebagai solusi cepat yang dinilai praktis untuk membenahi perilaku anak dalam waktu singkat. Program ini dilihat oleh sebagian orang tua sebagai pelarian singkat dari tekanan dalam mengasuh anak-anak bermasalah.

“Di satu sisi nih, untuk hal yang singkat, padat, dan praktis seperti pendidikan militer ini jadi jawaban tercepat, termudah untuk mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi pada remaja,” imbuhnya.

Namun, efektivitas pendekatan militer ini dipertanyakan dari sudut pandang psikologis jangka panjang. Menurut teori ekologi sosial Bronfenbrenner yang dijelaskan oleh Rolla, anak tumbuh dan berkembang melalui pengaruh lingkungan internal dan eksternal.

Keluarga disebut sebagai sistem paling dekat yang memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak. Karena itu, akar masalah perlu dicari dari dinamika dalam keluarga. Ini termasuk pola pengasuhan, relasi orang tua-anak, dan kondisi emosional di rumah.

“Harusnya program-program yang ada sekarang itu tidak lagi hanya sekedar kuratif atau secara impulsif menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada secara ringkas,” katanya. Alih-alih kuratif, Rolla menekankan pentingnya pendekatan preventif dan berkelanjutan. 

Kekhawatiran muncul bahwa pendekatan militer hanya menyelesaikan gejala, bukan akar masalah. Trauma masa kecil, kondisi fatherless, atau pengabaian emosional disebut tidak akan selesai hanya dengan pendekatan yang sifatnya keras.

Meski dalam jangka pendek perilaku menyimpang bisa ditekan, akan tetapi, bila akar masalah tidak diselesaikan, dikhawatirkan gejala tersebut akan muncul kembali bahkan dalam bentuk yang lebih parah.

Selain itu, kekhawatiran juga muncul mengenai transparansi dan metode pendidikan di barak militer itu sendiri. Kasus-kasus kekerasan fisik yang sebelumnya terjadi di institusi semi militer atau sekolah kedinasan dianggap sebagai citra yang buruk.

Terlepas dari perubahan perilaku jangka pendek yang bisa ditimbulkan oleh program ini, disoroti bahwa kesadaran remaja dalam berperilaku seharusnya muncul dari dalam diri, bukan dari rasa takut akan hukuman.

“Kita berharapnya itu remaja-remaja itu mengontrol diri atau mengatur perilakunya bukan karena eksternalnya atau karena takut hukuman tapi memang dengan penuhkan sadaran bahwa mereka harus melakukan sesuatu dengan tepat."

Selain itu, Rolla juga menekankan bahwa perbaikan perilaku remaja harus dimulai dari pembenahan sistem keluarga. Baginya, intervensi berbasis pendidikan dan kesadaran jangka panjang lebih dianjurkan ketimbang respons singkat yang mengabaikan aspek psikososial dalam diri anak.

Baca juga: Awas, Anak-anak Rentan Terpapar Isu Mental di Ruang Digital

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

3 Kisah Inspiratif Kreator yang Menyulut Semangat Membaca di Era Digital

BERIKUTNYA

Sinopsis Film Cookster: The Darkest Days yang Dibintangi Elvira Devinamira

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga