Salah satu karya Taufik Ermas dalam pameran Pronoid di Nadi Gallery Jakarta (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Pameran Pronoid: Jalinan Optimisme dari Kanvas Bolong Taufik Ermas

14 May 2025   |   12:21 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Sebuah lukisan berbentuk persegi dengan bingkai yang tak utuh ngendon di Nadi Gallery Jakarta. Dibuat dengan akrilik di atas kanvas, karya bertarikh 2025 ini melukiskan ngarai sianok, lembah curam hasil aktivitas patahan tektonik, di Sumatera Barat. Namun, keunikan dari lukisan ini bukanlah lembah hijau dengan ngarai yang mengalir.

Pada bingkai kanvasnya yang berdimensi 201x202x5 cm, kita disuguhi lubang-lubang yang memanjang dan memendek, laiknya butiran air hujan yang turun dari langit. Di balik lukisan yang berlubang, warna dinding yang putih seolah menegaskan impresi tersebut. Terlebih setelah melihat judul: Rain Cut, Sianok Canyon Series #1. 

Baca juga: 5 Seniman Indonesia yang Merekam Peristiwa Bersejarah Lewat Lukisan

Bila melihat karya ini tanpa membaca tajuknya, publik mungkin akan dibuat bertanya-tanya. Rain Cut, hanyalah satu dari puluhan karya yang dipacak dalam pameran tunggal bertajuk Pronoid, oleh seniman Taufik Ermas. Dihelat di Nadi Gallery, Jakarta, seteleng tunggal ke-7 dari perupa asal Bukittinggi, Sumatera Barat, itu berlangsung sampai 16 Mei 2025.

Dalam kajian psikologi, pronoid adalah delusi positif dari seseorang bahwa orang lain selalu berpikir baik tentangnya. Pronoid merupakan kebalikan dari paranoid, yang pada pameran ini digunakan sebagai metafora jembatan atau tangga untuk menuju kebijaksanaan.

"Pameran Pronoid ini adalah akumulasi dari kerja panjang artistik saya yang sudah dimulai sejak tahun 2010," kata perupa jebolan Institut Seni Indonesia (ISI)Yogyakarta, yang kini mukim dan berkarya dari kota Gudeg, itu.
 

Lukisan Rain Cut (tengah)

Lukisan Rain Cut (tengah) karya Taufik Ermas dalam pameran Pronoid di Nadi Gallery Jakarta (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Kerap mengeksplorasi tentang tema-tema kenangan dan ingatan, senarai visual yang dihadirkan Taufik dalam pameran ini mayoritas menyoroti keterasingan manusia. Namun, lewat karya-karyanya, publik justru diajak berpikir positif dan tetap membangun optimisme.

Salah satunya terejawantah dalam karya bertajuk Night Walker yang terdiri dari 3 seri. Masih menggunakan media akrilik di atas kanvas yang dimodifikasi, lukisan ini mengimak sosok lelaki yang berjalan di sebuah jalanan kota, setelah hujan dalam nuansa yang gelap.

Uniknya, figur utama dari lukisan ini justru muncul dari ketiadaan. Dia muncul dari bagian yang dihilangkan, atau bolongan pada sebagian permukaan kanvas yang bentuknya mengikuti objek. Walhasil, pengunjung seolah disuguhi bentuk dan cara berbeda dalam memaknai sebuah lukisan.

"Praktik berkesenian saya juga berfokus pada daya ingatan mengenai hakikat kedirian dan kebijaksanaan yang bersifat subtil hingga diameter metafisik dan filosofis," imbuhnya.

Selain dua karya di muka, Taufik juga mengeksplorasi batasan bentuk dari lukisan 'konvensional'. Dalam karya bertajuk Bias Identitas #2, misal, objek utamanya justru tidak sepenuhnya hilang, tapi juga tidak utuh sebagai satu kesatuan, seperti karya sebelumnya.

Masih menggunakan objek yang sama, gambaran lelaki pada sebuah rak buku ini justru hadir dan terbentuk dari garis yang disebabkan oleh cekungan kanvas. Lewat karya ini, Taufik seperti sedang bermain-main dalam tema keberadaan dan ketiadaan, tentang yang terlihat dan yang tersembunyi.


Modifikasi Kanvas

Kurator Eka Novrian mengatakan, Taufik Ermas memang dikenal sebagai perupa kontemporer yang gemar mengeksplorasi tekstur dalam media lukisnya-lukisannya. Lain dari itu, dia juga kerap menggunakan bentuk-bentuk visual yang bersifat metaforis.

Menurut Eka, lukisan Taufik Ermas selalu hadir dengan cara yang tak biasa. Lukisannya tidak utuh, ada bagian yang sengaja dipotong atau dihilangkan. Bentuk modifikasi yang tidak biasa ini, merupakan respon sang seniman terhadap pertanyaan filosofis tentang ketiadaan.

"Di satu sisi, karya tersebut hadir secara fisik, dapat dilihat dan diraba. Namun di sisi lain, justru bagian yang dihilangkan itulah yang menjadi pusat perhatian, dan memicu pertanyaan tentang keberadaan, serta ketiadaan," katanya dikutip dari kuratorial.

Eka menjelaskan, total terdapat 21 karya dalam pameran ini yang dibuat sang seniman dengan teknik cut of painting dan modifikasi kanvas. Pada lukisan-lukisan tersebut Taufik sengaja menghilangkan objek utama dengan membuat rongga atau bolongan pada permukaan kanvas.
 

Seri karya Sky Locked

Seri karya Sky Locked dalam pameran Pronoid di Nadi Gallery Jakarta (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Hasil visual dari pembuatan rongga pada kanvas misal, juga hadir dalam karya bertajuk Sky Locked #1, #2, dan #3. Pada karya ini Taufik melubangi kanvas lukisannya dengan bentuk lubang kunci, di tengah lukisan awan berlatar langit yang biru hingga kelabu menuju hujan.

Ada pula lukisan berjudul Ataraxia #1 dan #2, yang mengimak perempuan dewasa dan anak-anak. Pada karya ini Taufik melubangi kanvas lukisannya dengan bentuk segitiga yang disusun menjadi segi enam dan lingkaran-lingkaran kecil hingga sedang, yang menyamarkan raut objek. 

Baca juga: Membumikan Karya Maestro S Sudjojono, dari Lukisan Bermetamorfosis ke Fesyen

Selain lukisan, Taufik juga memboyong karya 3 dimensi bertajuk Ephemeral Dialectic 1/5 (Tosca Series) yang dibuat dari resin polyester dan akrilik paint berukuran 29 X 19 X 23,5 cm. Patung bertitimangsa 2024, ini membentuk objek lelaki yang duduk di atas sofa sembari memegang tongkat.

Hadir juga karya bertajuk The Averoes (hard paperboard, cardboard paper, polyester resin, wood veneer, teakwood, nail, silicone, 123 X 73 X 44 cm, 2025). The Averoes merupakan sebuah tangga yang bentuk dan posisinya menyerupai patung filsuf Ibnu Rusyd, di Kordoba, Spanyol.

Averos memang nama latin dari filsuf asal Andalusia, yang dikenal juga sebagai Sang Penafsir karya-karya filsafat. "Karya patung The Averoes juga bisa dianggap sebagai akhir dari pernyataan Taufik dalam pameran tunggalnya kali ini," jelas Eka.

SEBELUMNYA

Daftar Desainer Top Indonesia di Balik Megahnya Pernikahan Luna Maya

BERIKUTNYA

Sinopsis Fight or Flight, Film Aksi Terbaru Josh Hartnett dengan Sentuhan Komedi 

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga