Seorang pengunjung menikmati karya dalam pameran Layered Narratives: The Art of Contemporary Printmaking di Art:1 New Museum. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Daya Imajinasi Garis dari Seni Grafis di Art:1 New Museum Jakarta

22 April 2025   |   07:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Selusin emblem yang biasanya disematkan di jaket itu tersusun rapi di dalam bingkai kaca. Paletnya ramai, saling bertabrakan, dan memenuhi bidang. Ada gambar anak punk, judi togel, program KB, Siskamling, penembak misterius, hingga gerombolan Siberat dari Disney.

Cukup aneh memang, menyaksikan backpatch berukuran besar ini tertempel di dinding. Namun, impresi yang hadir justru menyeruak. Ibarat menyaksikan sebuah barang yang tidak ditaruh pada tempatnya, tetapi justru menguatkan posisinya dalam ruang. Dia meneror sekaligus menggelitik.

Baca juga: Salihara Gelar Pameran Marka/Matriks, Pajang Ratusan Karya Seni Grafis Terkini

Seri bertajuk Deja Vu (screen print on fabric 178,2 x 84-12 panel, 42 x 29,7 each) itu adalah karya seniman Byba Dolbi Sakula. Deja Vu adalah salah satu karya dalam pameran Layered Narratives: The Art of Contemporary Printmaking di Art:1 New Museum.
 

Karya  Byba Dolbi Sakula bertajuk Deja Vu dalam  pameran Layered Narratives: The Art of Contemporary Printmaking di Art:1 New Museum.

Karya Byba Dolbi Sakula bertajuk Deja Vu dalam pameran Layered Narratives: The Art of Contemporary Printmaking di Art:1 New Museum. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Berlangsung pada 12 hingga 27 April 2025, ini merupakan seteleng program komunitas volume ke-5 yang dihelat Art:1 New Museum. Sesuai tajuknya, pameran ini juga mengetengahkan perkembangan seni grafis di Tanah Air yang memiliki banyak jenis dan teknik.

Selain Dolbi, para seniman peserta lainnya ialah Adi Dhieglz, Alfin Agnuba, Daniel Nugraha, Elizabeth Galuh, Fahmi Azis, Fauzi Rijal, Happy Wahyu Firdaus, I Kadek Septa Adi, dan Kay Saputra. Kemudian Ken Ni Vitriandida, M. Fahriza Ansyari, Marsa Salsabila, Prihatmoko Moki, R. Dewa Mahendra Putra, Rovaldy Anugerah, Taufiq R. Vito Ariyanto, dan Windi Delta.


Budaya Tandingan

Deja Vu dibuat Dolbi pada 2024, inspirasinya dari budaya tandingan (subculture) komunitas atau geng yang menjadi kebutuhan identitas sekaligus fashion. Tampilan warna dan visualnya mengadopsi permainan arcade, komik, sticker, merchandise, dan sejenisnya yang populer pada 1990-an.

Selain memacak karakter-karakter ikonik seperti Paman Gober, dan Porky Pig, emblem ini juga menjadi semacam protes. Digambarkan pula dengan rinci bagaimana anak muda menyikapinya; bergabung di komunitas underground, memasang poster, zine, hingga menggambar mural sebagai respon sosiall.

Lahir dan besar di Jakarta Timur, membuat Dolbi akrab dengan kehidupan urban. Sejak kecil dia gemar membaca komik dan mendengarkan musik, salah satunya dengan mengunjungi Plaza Sentral Klender. Namun, peristiwa kerusuhan Mei 1998 memberi dampak cukup besar baginya.

"Aku masih ingat saat mereka [para penjarah] bilang 'belanja gratis-belanja gratis, terus pasarnya dihancurin. Terus aku pulang, waktu itu aku masih kelas 2 SD, cukup trauma juga," katanya saat dihubungi Hypeabis.id.

Selain Deja Vu, Dolbi juga memboyong dua karya lain bertajuk Passion is a Fashion (2016) dan Education for All (2016). Ini adalah karya dari tugas akhirnya saat menempuh pendidikan di Universitas Negeri Jakarta. Kedua karya ini menginterpretasikan sebuah tindakan kreatif dan positif dari anak-anak punk.
 

ajaj

karya Passion is a Fashion, dan Education for All dalam pameran Layered Narratives: The Art of Contemporary Printmaking di Art:1 New Museum. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Karya dengan semangat yang sama juga diboyong oleh Adi Dhigelz, bertajuk Tanggung Jawab dan Berkomunikasi (silk screen on fedrigoni Life 300 gsm paper). Namun, berbeda dengan Dolbi, Dhigelz justru mengetengahkan budaya tandingan lewat dunia perfilman, yakni dengan mengimak kelimun orang di bioskop.

Pada gambar yang lain sang seniman juga menggambarkan bagaimana kehidupan di balik layar dari proses pemutaran film di masa lampau. Salah satunya saat menonton layar tancap yang masih menggunakan pita. Dalam hal ini, Dhigelz, menggambarkan bagaimana proses pemutaran dan pengeditan film secara manual.

Lain lagi dengan R. Dewa. Seniman kelahiran Boyolali itu justru menghadirkan sepilihan tokoh-tokoh ikonik dunia dengan photolithography. Total dia memboyong 7 karya yang mengimak wajah John Lennon, Kanye West, Andy Warhol, Basquiat, dan Murakami, dengan berbagai pose dengan latar belakang coretan krayon.

Dewa mengungkap, kecintaannya pada seni rupa memang membawanya untuk menekuni seni cetak atau printmaking. Belakangan dia juga banyak berkarya menggunakan teknik photolithography, etching aquatint, serta silkscreen.

"Karya-karya saya berangkat dari hal yang terjadi di sekitar. Saya juga sering menilik rekaman momen pada diri saya untuk menemukan gagasan dalam berkarya," katanya.

Baca juga: Ruang Kebebasan Berkesenian Dinilai Makin Sempit, Bagaimana Seniman Seharusnya Bersikap?


Metode Seni Tertua

Kurator Smita Parama mengatakan, seni grafis merupakan salah satu metode seni paling tua di dunia. Dia mengungkap seni grafis pertama kali ditemukan di China sekitar abad kesembilan, di mana balok kayu berukir digunakan untuk mencetak pada tekstil dan kertas.

Menariknya, meski terbilang tua dan sederhana, seni grafis mampu diadopsi dan beradaptasi dalam kemajuan teknologi. Kendati ada banyak seni cetak grafis, pada dasarnya komponen utama dari metode ini adalah adanya media acuan cetak dan media cetak yang nantinya akan menjadi karya utama dari kesenian ini.
 

ahah

Sejumlah karya dalam dalam pameran Layered Narratives: The Art of Contemporary Printmaking di Art:1 New Museum. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Di Indonesia, praktik seni cetak grafis muncul pada masa Kolonial, yang berawal sebagai cara untuk mereplikasi karya dengan mudah untuk tujuan propaganda. Salah satunya lewat poster-poster sebagai alat komunikasi yang efektif untuk membentuk persepsi di kalangan masyarakat luas.

Kiwari, praktik seni cetak grafis juga semakin banyak dieksplorasi untuk menghadirkan narasi sosial yang segar. Ragam teknik seni grafis yang mampu menghasilkan karya dengan jumlah lebih dari satu juga memberi ruang bagi seniman untuk menciptakan karya seni dengan hasil beragam.

"Dalam pameran ini, kami juga menghadirkan bagaimana praktik seni cetak memenuhi popularitasnya. Terbentang dari ukiran relief yang rumit, fleksibilitas sablon, hingga ketepatan fotolitografi," katanya.

SEBELUMNYA

Hypeprofil Aktivis Wenny Aurelia: Menciptakan Ruang Aman Bagi Pejuang Endometriosis

BERIKUTNYA

Cara Cek NISN, NIK & Penerima Program Indonesia Pintar

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: