Salihara Gelar Pameran Marka/Matriks, Pajang Ratusan Karya Seni Grafis Terkini
20 April 2025 |
20:00 WIB
Komunitas Salihara Arts Center kembali menyajikan pameran yang siap menggugah para pencinta seni Indonesia. Institusi seni dan kebudayaan itu menggelar pameran perdananya di 2025 bertajuk Marka/Matriks, yang akan berlangsung selama satu bulan yakni pada 19 April-18 Mei 2025 di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Pameran tersebut akan menghadirkan ragam karya seni cetak grafis kontemporer dari 30 seniman lokal dan mancanegara. Sebanyak 105 karya dengan berbagai teknik cetak grafis akan dihadirkan di pameran tersebut.
Pameran Marka/Matriks bakal menampilkan sederet karya menggunakan ragam teknik cetak grafis dalam berbagai bentuk baik yang tradisional seperti cukil kayu, etsa, litografi, sablon, dan sebagainya, hingga berbasis digital yang merupakan hasil eksplorasi seniman yang berpartisipasi.
Baca Juga: Resmi Dibuka, Pameran Misykat Tampilkan Artefak Islam Nusantara dari Situs Bongal
Nama-nama seniman yang terlibat dalam pameran Marka/Matriks yakni Adi Sundoro, Agugn, Agung Kurniawan, Cecil Mariani, Devy Ferdianto, Edi Sunaryo, Firman Lie, Garis Edelweiss, Goenawan Mohamad, Gunawan Bonaventura, Henryette Louise, Maharani Mancanagara, Krack Printmaking Collective, dan M. Muhlis Lugis.
Ada pula karya dari Prihatmoko Moki, RW Mulyadi, Satria Nugraha, Septa Adi, Syahrizal Pahlevi, Syaiful Ardianto, Theresia Agustina Sitompul, Tisna Sanjaya, dan Ucup Baik.
Tak hanya dari dalam negeri, hadir juga karya dari seniman Thailand yakni Amorn Thongpayong, Amnat Kongwaree, Vimonmarn Khanthachavana, dan Arpatsarin Khunnarong, serta Ong Hieng Fuong dan Haslin Ismail dari Malaysia.
Pameran Marka/Matriks menjadi semacam ruang untuk merenungkan kembali hubungan antara aksi dan wadah, antara jejak dan arsip, antara yang sementara dan yang abadi dalam konteks seni cetak grafis.
Pameran ini melihat seni cetak grafis tidak hanya sebagai medium, tetapi juga sebagai metafora. Pengingat bahwa dalam setiap tanda, ada cerita; dalam setiap matriks, ada sejarah; dalam setiap alat ada teknologi, dan; dalam setiap prosedur teknik cetak ada gestur dan tindakan simbolik manusia yang bisa direnungkan dan dimaknai kembali.
"Pameran ini adalah perayaan dari paradoks seni cetak grafis: bahwa ia adalah seni yang lahir dari aturan teknis dan ‘tekanan’, namun kini membuka diri kepada kebebasan," demikian tulis Komunitas Salihara di situs resminya.
Kurator Galeri Komunitas Salihara, Asikin Hasan, menjelaskan seni cetak grafis kontemporer bukan sekadar teknik mencetak gambar pada media tertentu, melainkan sebuah ruang yang luas untuk bereksperimen, berdialog, dan berinteraksi antara berbagai disiplin ilmu.
Dari teknik cukilan kayu, etsa, litografi dan sablon hingga penggunaan fotografi, serta teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI), paparnya, seni cetak grafis terus berkembang mengaburkan batasan-batasan medium dan tak lagi terbatas pada teknik atau prosedur tertentu, tapi menjadi cara baru dalam berpikir dan berekspresi.
Hasan menuturkan karya-karya dalam pameran Marka/Matriks menunjukkan bagaimana proses cetak dapat bergerak di luar fungsi tradisionalnya, menjadi ruang bagi seniman untuk mengungkapkan gagasan-gagasan seputar kekinian dan kemutakhiran.
"Karya-karya dalam pameran ini dapat membuka ruang eksplorasi serta menjadi jembatan di tengah diskursus seni cetak grafis Asia Tenggara yang begitu luas," katanya dalam keterangan resminya, Minggu (20/4/2025).
Dia menambahkan para seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini tidak hanya mengandalkan teknik yang sudah ada, tetapi juga berani untuk mengeksplorasi bahan-bahan alternatif dan alat yang tidak biasa.
"Dalam pameran ini, kita akan melihat bagaimana seni cetak berfungsi sebagai jembatan, menghubungkan berbagai medium dan membuka ruang bagi eksplorasi lebih lanjut," imbuhnya.
Pameran Marka/Matriks dibuka untuk umum mulai 19 April hingga 18 Mei 2025, setiap Selasa-Minggu pukul 11.00-19.00 WIB (kunjungan terakhir 18:30 WIB). Pengunjung dapat melakukan pembelian tiket di tiket.salihara.org dengan harga Rp50.000 untuk pengunjung umum dann Rp25.000 (pelajar).
Baca Juga: Pameran Dior di Seoul Jadi Magnet Seleb K-Pop, Jisoo hingga Mingyu Tampil Memesona
Pameran tersebut akan menghadirkan ragam karya seni cetak grafis kontemporer dari 30 seniman lokal dan mancanegara. Sebanyak 105 karya dengan berbagai teknik cetak grafis akan dihadirkan di pameran tersebut.
Pameran Marka/Matriks bakal menampilkan sederet karya menggunakan ragam teknik cetak grafis dalam berbagai bentuk baik yang tradisional seperti cukil kayu, etsa, litografi, sablon, dan sebagainya, hingga berbasis digital yang merupakan hasil eksplorasi seniman yang berpartisipasi.
Baca Juga: Resmi Dibuka, Pameran Misykat Tampilkan Artefak Islam Nusantara dari Situs Bongal
Nama-nama seniman yang terlibat dalam pameran Marka/Matriks yakni Adi Sundoro, Agugn, Agung Kurniawan, Cecil Mariani, Devy Ferdianto, Edi Sunaryo, Firman Lie, Garis Edelweiss, Goenawan Mohamad, Gunawan Bonaventura, Henryette Louise, Maharani Mancanagara, Krack Printmaking Collective, dan M. Muhlis Lugis.
Ada pula karya dari Prihatmoko Moki, RW Mulyadi, Satria Nugraha, Septa Adi, Syahrizal Pahlevi, Syaiful Ardianto, Theresia Agustina Sitompul, Tisna Sanjaya, dan Ucup Baik.
Tak hanya dari dalam negeri, hadir juga karya dari seniman Thailand yakni Amorn Thongpayong, Amnat Kongwaree, Vimonmarn Khanthachavana, dan Arpatsarin Khunnarong, serta Ong Hieng Fuong dan Haslin Ismail dari Malaysia.
_crop.jpg)
Antusias pengunjung di pameran Marka/Matriks di Salihara. (Sumber gambar: Komunitas Salihara)
Pameran ini melihat seni cetak grafis tidak hanya sebagai medium, tetapi juga sebagai metafora. Pengingat bahwa dalam setiap tanda, ada cerita; dalam setiap matriks, ada sejarah; dalam setiap alat ada teknologi, dan; dalam setiap prosedur teknik cetak ada gestur dan tindakan simbolik manusia yang bisa direnungkan dan dimaknai kembali.
"Pameran ini adalah perayaan dari paradoks seni cetak grafis: bahwa ia adalah seni yang lahir dari aturan teknis dan ‘tekanan’, namun kini membuka diri kepada kebebasan," demikian tulis Komunitas Salihara di situs resminya.
_crop.jpg)
Beberapa karya seniman Devy Ferdianto yang dipajang di pameran Marka/Matriks di Salihara. (Sumber gambar: Komunitas Salihara)
Dari teknik cukilan kayu, etsa, litografi dan sablon hingga penggunaan fotografi, serta teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI), paparnya, seni cetak grafis terus berkembang mengaburkan batasan-batasan medium dan tak lagi terbatas pada teknik atau prosedur tertentu, tapi menjadi cara baru dalam berpikir dan berekspresi.
Hasan menuturkan karya-karya dalam pameran Marka/Matriks menunjukkan bagaimana proses cetak dapat bergerak di luar fungsi tradisionalnya, menjadi ruang bagi seniman untuk mengungkapkan gagasan-gagasan seputar kekinian dan kemutakhiran.
"Karya-karya dalam pameran ini dapat membuka ruang eksplorasi serta menjadi jembatan di tengah diskursus seni cetak grafis Asia Tenggara yang begitu luas," katanya dalam keterangan resminya, Minggu (20/4/2025).
_crop.jpg)
Karya seniman Adi Sundoro yang dipajang di pameran Marka/Matriks di Salihara. (Sumber gambar: Komunitas Salihara)
"Dalam pameran ini, kita akan melihat bagaimana seni cetak berfungsi sebagai jembatan, menghubungkan berbagai medium dan membuka ruang bagi eksplorasi lebih lanjut," imbuhnya.
Pameran Marka/Matriks dibuka untuk umum mulai 19 April hingga 18 Mei 2025, setiap Selasa-Minggu pukul 11.00-19.00 WIB (kunjungan terakhir 18:30 WIB). Pengunjung dapat melakukan pembelian tiket di tiket.salihara.org dengan harga Rp50.000 untuk pengunjung umum dann Rp25.000 (pelajar).
Baca Juga: Pameran Dior di Seoul Jadi Magnet Seleb K-Pop, Jisoo hingga Mingyu Tampil Memesona
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.