Jepang Alami Penurunan Populasi Selama 14 Tahun Berturut-turut, Lansia Capai Rekor Baru
20 April 2025 |
19:00 WIB
Jepang kembali mencatatkan penurunan populasi untuk tahun ke-14 berturut-turut pada 2024. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir. Persentase penduduk lansia di Negeri Sakura kini mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah.
Dilansir dari laman The Japan Times, data terbaru dari Kementerian Urusan Dalam Negeri Jepang menunjukkan bahwa populasi total Jepang, termasuk penduduk asing, turun sebesar 0,44 persen dari tahun sebelumnya, dengan angka penurunan mencapai 550.000 jiwa.
Total penduduk Jepang per Oktober 2024 tercatat sebanyak 123,8 juta jiwa, meliputi warga negara Jepang dan penduduk asing yang tinggal di negara tersebut. Penduduk berkewarganegaraan Jepang sendiri mengalami penurunan lebih drastis hingga 898.000 jiwa, menjadi 120,3 juta jiwa. Tren penurunan ini terus berlangsung sejak populasi Jepang mencapai puncaknya pada 2008.
Baca Juga: Kenapa Rumah di Jepang Banyak Pakai Pintu Geser? Ini Fungsi & Sejarahnya
Yang lebih mengkhawatirkan, persentase penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai rekor 29,3 persen dari total populasi atau sekitar 36,24 juta orang, bertambah 17.000 dari tahun sebelumnya. Di sisi lain, jumlah anak-anak di bawah usia 15 tahun mencatatkan angka terendah sepanjang sejarah, yakni hanya 13,83 juta jiwa (turun 343.000), atau hanya 11,2 persen dari total populasi Jepang.
Penurunan populasi anak muda ini bukanlah fenomena baru. Sejak 1975, jumlah anak-anak di Jepang telah konsisten berkurang setiap tahunnya. Ini mencerminkan keengganan pasangan muda untuk memiliki anak di tengah tekanan ekonomi dan perubahan gaya hidup modern. Situasi ini memicu kekhawatiran serius tentang masa depan sistem pensiun, perawatan kesehatan, dan produktivitas ekonomi di Jepang.
Menariknya, di tengah penurunan populasi warga Jepang, jumlah penduduk asing justru menunjukkan pertumbuhan positif. Jepang mencatat pertumbuhan sosial bersih sebanyak 340.000 orang, sepenuhnya didorong oleh peningkatan jumlah penduduk asing yang masuk ke negara tersebut. Ini menjadi tahun ketiga berturut-turut Jepang mencatatkan pertumbuhan sosial positif dari imigrasi.
Data kementerian yang mencatat perbedaan demografis antar wilayah di Jepang juga semakin mencolok. Dari 47 prefektur, hanya Tokyo dan Saitama yang mencatat pertumbuhan populasi dalam setahun terakhir. Tokyo mencatatkan laju pertumbuhan tertinggi sebesar 0,66 persen (meningkat 0,32 poin persentase dari tahun sebelumnya), sementara Saitama berhasil membalikkan tren penurunan dengan pertumbuhan tipis 0,01 persen.
Kondisi di 45 prefektur lainnya justru kian memprihatinkan. Sebanyak 18 prefektur mengalami penurunan populasi lebih dari 1 persen, dengan Akita mencatatkan penurunan terbesar (1,87 persen), diikuti Aomori (1,66 persen), dan Iwate (1,57 persen). Lebih mengkhawatirkan lagi, 34 prefektur mengalami percepatan penurunan penduduk dibanding tahun sebelumnya, dengan Ishikawa menunjukkan penurunan terbesar secara tahunan.
Lima prefektur dengan jumlah penduduk terbanyak tetap didominasi wilayah perkotaan: Tokyo (14,18 juta), Kanagawa (9,23 juta), Osaka (8,76 juta), Aichi (7,46 juta), dan Saitama (7,33 juta). Konsentrasi penduduk di wilayah urban ini mencerminkan fenomena urbanisasi yang semakin menguat, di mana penduduk muda dari daerah pedesaan berbondong-bondong pindah ke kota besar untuk mencari peluang pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik.
Menanggapi situasi ini, pemerintah Jepang telah mengambil berbagai langkah untuk mengatasi krisis demografis yang semakin dalam. Sekretaris Kabinet Yoshimasa Hayashi menyatakan bahwa pemerintah sedang menerapkan berbagai kebijakan, mulai dari peningkatan dukungan finansial untuk pengasuhan anak, menaikkan upah bagi generasi muda, hingga menyediakan kesempatan perjodohan.
“Kami akan terus mempromosikan kebijakan secara kompetitif menuju realisasi masyarakat di mana setiap orang yang ingin memiliki anak dapat melakukannya dan membesarkan mereka dengan tenang,” ujar Hayashi, yang dikutip dari The Japan Times.
Namun, tantangan yang dihadapi Jepang tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi atau sosial. Penurunan populasi ini juga berdampak pada berbagai sektor lainnya, seperti properti, pendidikan, dan kesehatan. Semakin banyak rumah dan apartemen yang kosong karena kurangnya penghuni, sekolah-sekolah di wilayah pedesaan terpaksa ditutup karena tidak ada siswa, dan sistem kesehatan harus menyesuaikan diri dengan meningkatnya permintaan dari populasi lansia.
Meskipun begitu, Jepang tetap menunjukkan semangat untuk mencari solusi inovatif. Selain memperbaiki kebijakan domestik, negara ini juga mulai melonggarkan aturan imigrasi untuk menarik lebih banyak pekerja asing. Dengan demikian, Jepang berharap dapat menyeimbangkan kebutuhan tenaga kerja dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif.
Baca Juga: India Geser China Jadi Negara dengan Populasi Terbesar di Dunia
Dilansir dari laman The Japan Times, data terbaru dari Kementerian Urusan Dalam Negeri Jepang menunjukkan bahwa populasi total Jepang, termasuk penduduk asing, turun sebesar 0,44 persen dari tahun sebelumnya, dengan angka penurunan mencapai 550.000 jiwa.
Total penduduk Jepang per Oktober 2024 tercatat sebanyak 123,8 juta jiwa, meliputi warga negara Jepang dan penduduk asing yang tinggal di negara tersebut. Penduduk berkewarganegaraan Jepang sendiri mengalami penurunan lebih drastis hingga 898.000 jiwa, menjadi 120,3 juta jiwa. Tren penurunan ini terus berlangsung sejak populasi Jepang mencapai puncaknya pada 2008.
Baca Juga: Kenapa Rumah di Jepang Banyak Pakai Pintu Geser? Ini Fungsi & Sejarahnya
Yang lebih mengkhawatirkan, persentase penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai rekor 29,3 persen dari total populasi atau sekitar 36,24 juta orang, bertambah 17.000 dari tahun sebelumnya. Di sisi lain, jumlah anak-anak di bawah usia 15 tahun mencatatkan angka terendah sepanjang sejarah, yakni hanya 13,83 juta jiwa (turun 343.000), atau hanya 11,2 persen dari total populasi Jepang.
Penurunan populasi anak muda ini bukanlah fenomena baru. Sejak 1975, jumlah anak-anak di Jepang telah konsisten berkurang setiap tahunnya. Ini mencerminkan keengganan pasangan muda untuk memiliki anak di tengah tekanan ekonomi dan perubahan gaya hidup modern. Situasi ini memicu kekhawatiran serius tentang masa depan sistem pensiun, perawatan kesehatan, dan produktivitas ekonomi di Jepang.
Menariknya, di tengah penurunan populasi warga Jepang, jumlah penduduk asing justru menunjukkan pertumbuhan positif. Jepang mencatat pertumbuhan sosial bersih sebanyak 340.000 orang, sepenuhnya didorong oleh peningkatan jumlah penduduk asing yang masuk ke negara tersebut. Ini menjadi tahun ketiga berturut-turut Jepang mencatatkan pertumbuhan sosial positif dari imigrasi.
Data kementerian yang mencatat perbedaan demografis antar wilayah di Jepang juga semakin mencolok. Dari 47 prefektur, hanya Tokyo dan Saitama yang mencatat pertumbuhan populasi dalam setahun terakhir. Tokyo mencatatkan laju pertumbuhan tertinggi sebesar 0,66 persen (meningkat 0,32 poin persentase dari tahun sebelumnya), sementara Saitama berhasil membalikkan tren penurunan dengan pertumbuhan tipis 0,01 persen.
Kondisi di 45 prefektur lainnya justru kian memprihatinkan. Sebanyak 18 prefektur mengalami penurunan populasi lebih dari 1 persen, dengan Akita mencatatkan penurunan terbesar (1,87 persen), diikuti Aomori (1,66 persen), dan Iwate (1,57 persen). Lebih mengkhawatirkan lagi, 34 prefektur mengalami percepatan penurunan penduduk dibanding tahun sebelumnya, dengan Ishikawa menunjukkan penurunan terbesar secara tahunan.
Lima prefektur dengan jumlah penduduk terbanyak tetap didominasi wilayah perkotaan: Tokyo (14,18 juta), Kanagawa (9,23 juta), Osaka (8,76 juta), Aichi (7,46 juta), dan Saitama (7,33 juta). Konsentrasi penduduk di wilayah urban ini mencerminkan fenomena urbanisasi yang semakin menguat, di mana penduduk muda dari daerah pedesaan berbondong-bondong pindah ke kota besar untuk mencari peluang pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik.
Menanggapi situasi ini, pemerintah Jepang telah mengambil berbagai langkah untuk mengatasi krisis demografis yang semakin dalam. Sekretaris Kabinet Yoshimasa Hayashi menyatakan bahwa pemerintah sedang menerapkan berbagai kebijakan, mulai dari peningkatan dukungan finansial untuk pengasuhan anak, menaikkan upah bagi generasi muda, hingga menyediakan kesempatan perjodohan.
“Kami akan terus mempromosikan kebijakan secara kompetitif menuju realisasi masyarakat di mana setiap orang yang ingin memiliki anak dapat melakukannya dan membesarkan mereka dengan tenang,” ujar Hayashi, yang dikutip dari The Japan Times.
Namun, tantangan yang dihadapi Jepang tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi atau sosial. Penurunan populasi ini juga berdampak pada berbagai sektor lainnya, seperti properti, pendidikan, dan kesehatan. Semakin banyak rumah dan apartemen yang kosong karena kurangnya penghuni, sekolah-sekolah di wilayah pedesaan terpaksa ditutup karena tidak ada siswa, dan sistem kesehatan harus menyesuaikan diri dengan meningkatnya permintaan dari populasi lansia.
Meskipun begitu, Jepang tetap menunjukkan semangat untuk mencari solusi inovatif. Selain memperbaiki kebijakan domestik, negara ini juga mulai melonggarkan aturan imigrasi untuk menarik lebih banyak pekerja asing. Dengan demikian, Jepang berharap dapat menyeimbangkan kebutuhan tenaga kerja dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif.
Baca Juga: India Geser China Jadi Negara dengan Populasi Terbesar di Dunia
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.