Populasi Lansia RI Meningkat, Ini 5 Fakta Penting Menyambut 2045
12 June 2025 |
18:30 WIB
Indonesia tengah bergerak menuju masyarakat menua. Data terbaru menunjukkan bahwa pada 2045, jumlah warga berusia 60 tahun ke atas diprediksi mencapai 63 juta jiwa atau sekitar 20 persen dari total populasi. Artinya, satu dari lima orang Indonesia adalah lansia.
Pergeseran demografis ini menjadi sorotan dalam forum lintas sektor bertajuk “Impact Beyond Dialogue, Future-Proofing Indonesia: From Demographic Bonus to Ageing Readiness” yang digelar oleh DBS Foundation dan Bank DBS Indonesia.
Dalam forum tersebut, berbagai tokoh dari sektor kesehatan, bisnis, hingga media membahas tantangan dan peluang dari fenomena populasi menua.
Baca Juga: 75 Persen Lansia di Indonesia Berisiko Mengalami Osteoporosis
Berikut adalah 5 hal penting yang harus kamu tahu tentang masa depan lansia di Indonesia.
“Penuaan penduduk bukan sekadar tantangan, tetapi juga peluang luar biasa jika dipersiapkan dengan baik. Kami ingin mengubah narasi dari lansia sebagai beban menjadi lansia sebagai bagian dari solusi,” ujar Karen Ngui, Group Head of Strategic Marketing and Communications DBS Bank & Head of DBS Foundation.
“Artinya, hampir satu dekade masa tua kita dijalani dalam kondisi tidak sehat. Inilah yang menjadi fokus pemerintah. Bukan hanya menaikkan usia hidup, tapi memastikan lansia hidup sehat dan berkualitas,” jelas Dante.
Dia juga menekankan pentingnya ekosistem yang inklusif untuk mendukung lansia mulai dari kebijakan, layanan kesehatan, hingga partisipasi aktif masyarakat.
Di Indonesia hanya ada sekitar 15 ahli gerontologi, sementara Australia memiliki 1.000 ahli untuk populasi jauh lebih kecil.
“Menurut saya, tidak wajar bila lansia harus menghabiskan 10-15 tahun setelah pensiun hanya duduk menonton televisi. Masa tua harus produktif, dihabiskan bersama keluarga dan teman,” ujarnya.
Cass menambahkan bahwa Indonesia bisa belajar dari negara seperti Jepang dan Singapura yang telah lebih dulumenghadapi realitas ini. Salah satu langkah strategis adalah dengan membangun infrastruktur pendukung lansia seperti pusat perawatan atau program keterlibatan sosial.
Ironisnya, hanya 41 persen yang percaya pemerintah siap menghadapi penuaan populasi, dan angka ini paling rendah dari kelompok usia 44–59 tahun yang justru paling dekat dengan masa pensiun. Sebaliknya, 53 persen responden menilai sektor swasta, melalui program pensiun dan inisiatif keuangan lebih siap.
“Data ini menunjukkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Sebagai bank yang digerakkan oleh tujuan, kami berkomitmen menghadirkan solusi perbankan yang mendukung masa tua yang lebih terencana, aktif, dan mandiri,” tutur Lim Chu Chong, President Director Bank DBS Indonesia.
“Usia 60 ke atas masih panjang perjalanannya. Mereka harus diberdayakan, bukan dianggap beban,” tegas DY Suharya, Founder Alzheimer’s Indonesia dan Regional Director Asia Pacific Alzheimer’s Disease International.
Potensi ini bisa diwujudkan dengan membuka ruang kerja pasca-pensiun, mendorong wirausaha lansia, serta menyediakan layanan keuangan yang inklusif. Bahkan menurut survei DBS, 69 persen masyarakat terbuka untuk tetap bekerja setelah pensiun, menunjukkan pergeseran mindset bahwa pensiun bukan akhir, melainkan awal babak baru.
Baca Juga: Jepang Alami Penurunan Populasi Selama 14 Tahun Berturut-turut, Lansia Capai Rekor Baru
Pergeseran demografis ini menjadi sorotan dalam forum lintas sektor bertajuk “Impact Beyond Dialogue, Future-Proofing Indonesia: From Demographic Bonus to Ageing Readiness” yang digelar oleh DBS Foundation dan Bank DBS Indonesia.
Dalam forum tersebut, berbagai tokoh dari sektor kesehatan, bisnis, hingga media membahas tantangan dan peluang dari fenomena populasi menua.
Baca Juga: 75 Persen Lansia di Indonesia Berisiko Mengalami Osteoporosis
Berikut adalah 5 hal penting yang harus kamu tahu tentang masa depan lansia di Indonesia.
1. Populasi Lansia Indonesia Tumbuh Pesat dan Tak Terelakkan
Perubahan struktur penduduk Indonesia tidak lagi bisa dihindari. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, proporsi lansia naik dari 9,78 persen pada 2020 menjadi 11,75 persen di tahun 2023 setara dengan lebih dari 32 juta orang. Lonjakan ini akan terus terjadi, dan pada 2045, Indonesia diprediksi resmi masuk era masyarakat menua dengan 20 persen penduduk berusia di atas 60 tahun.“Penuaan penduduk bukan sekadar tantangan, tetapi juga peluang luar biasa jika dipersiapkan dengan baik. Kami ingin mengubah narasi dari lansia sebagai beban menjadi lansia sebagai bagian dari solusi,” ujar Karen Ngui, Group Head of Strategic Marketing and Communications DBS Bank & Head of DBS Foundation.
2. Banyak Lansia Panjang Umur, Tapi Tidak Dalam Kondisi Sehat
Usia harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat, tapi kualitas hidup di masa tua belum cukup memadai. Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono mengatakan, saat ini life expectancy orang Indonesia mencapai 72,39 tahun. Namun, angka HALE (Health-Adjusted Life Expectancy) kita hanya 63 tahun.“Artinya, hampir satu dekade masa tua kita dijalani dalam kondisi tidak sehat. Inilah yang menjadi fokus pemerintah. Bukan hanya menaikkan usia hidup, tapi memastikan lansia hidup sehat dan berkualitas,” jelas Dante.
Dia juga menekankan pentingnya ekosistem yang inklusif untuk mendukung lansia mulai dari kebijakan, layanan kesehatan, hingga partisipasi aktif masyarakat.
3. Lansia Bisa Tetap Produktif
Tantangan populasi menua tidak hanya soal kesehatan, tapi juga bagaimana membuat masa tua menjadi produktif dan bermakna. Benjamin Cass, President Director Living Well Seniors Communities, membandingkan kondisi Indonesia dengan Australia.Di Indonesia hanya ada sekitar 15 ahli gerontologi, sementara Australia memiliki 1.000 ahli untuk populasi jauh lebih kecil.
“Menurut saya, tidak wajar bila lansia harus menghabiskan 10-15 tahun setelah pensiun hanya duduk menonton televisi. Masa tua harus produktif, dihabiskan bersama keluarga dan teman,” ujarnya.
Cass menambahkan bahwa Indonesia bisa belajar dari negara seperti Jepang dan Singapura yang telah lebih dulumenghadapi realitas ini. Salah satu langkah strategis adalah dengan membangun infrastruktur pendukung lansia seperti pusat perawatan atau program keterlibatan sosial.
4. Mayoritas Masyarakat Masih Mengandalkan Keluarga untuk Masa Tua
Survei DBS Ageing Society yang dilakukan terhadap 400 responden usia 22–59 tahun di Jakarta, Surabaya, dan Medan menunjukkan bahwa 69 persen responden masih mengandalkan keluarga sebagai sumber dukungan utama saat memasuki usia senja.Ironisnya, hanya 41 persen yang percaya pemerintah siap menghadapi penuaan populasi, dan angka ini paling rendah dari kelompok usia 44–59 tahun yang justru paling dekat dengan masa pensiun. Sebaliknya, 53 persen responden menilai sektor swasta, melalui program pensiun dan inisiatif keuangan lebih siap.
“Data ini menunjukkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Sebagai bank yang digerakkan oleh tujuan, kami berkomitmen menghadirkan solusi perbankan yang mendukung masa tua yang lebih terencana, aktif, dan mandiri,” tutur Lim Chu Chong, President Director Bank DBS Indonesia.
5. Lansia Harus Dilibatkan dalam Ekonomi
Fenomena menua bukan alasan untuk meminggirkan kelompok lansia dari kehidupan sosial dan ekonomi. Justru, ini adalah waktu yang tepat untuk mengembangkan silver economy, yaitu aktivitas ekonomi yang fokus pada kebutuhan dan potensi lansia.“Usia 60 ke atas masih panjang perjalanannya. Mereka harus diberdayakan, bukan dianggap beban,” tegas DY Suharya, Founder Alzheimer’s Indonesia dan Regional Director Asia Pacific Alzheimer’s Disease International.
Potensi ini bisa diwujudkan dengan membuka ruang kerja pasca-pensiun, mendorong wirausaha lansia, serta menyediakan layanan keuangan yang inklusif. Bahkan menurut survei DBS, 69 persen masyarakat terbuka untuk tetap bekerja setelah pensiun, menunjukkan pergeseran mindset bahwa pensiun bukan akhir, melainkan awal babak baru.
Baca Juga: Jepang Alami Penurunan Populasi Selama 14 Tahun Berturut-turut, Lansia Capai Rekor Baru
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.