Ilustrasi anak muda sedang bermain gawai. (Sumber gambar: Yanping Ma/Unsplash)

Survei Ungkap Gen Z Cepat Bosan Ngobrol Tatap Muka, Ini Penyebabnya

16 April 2025   |   18:24 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Kalangan generasi Z yang akrab dengan teknologi dan medsos memberikan dampak tersendiri bagi mereka. Sebuah studi baru-baru ini mengungkapkan bahwa tiga perempat orang dewasa Gen Z merasa sulit untuk tetap fokus selama percakapan tatap muka, dan sering menggunakan ponsel setelah lebih dari dua menit. 

Survei yang melibatkan 2.000 orang dewasa muda berusia antara 18 dan 28 tahun ini meneliti bagaimana teknologi dan penggunaan ponsel yang berlebihan memengaruhi rentang perhatian, interaksi di dunia nyata, dan kesehatan mental Gen Z, sebagaimana dilansir dari Mirror. Penelitian itu dilakukan oleh layanan asuransi AXA UK yang terangkum dalam Mind Health Report 2025. 

Hasilnya ditemukan bahwa sebanyak 39 persen orang dewasa muda merasakan "dorongan kuat" untuk mengecek ponsel mereka selama percakapan tatap muka. Mereka rentan untuk mengecek pesan dan menjelajahi media sosial, termasuk kesulitan untuk mengabaikan notifikasi di gawai mereka. 

Baca juga: Riset: Tekankan Keberlanjutan, Gen Z Lebih Senang Thrifting Ketimbang Belanja di Mal 

Sebanyak 38 persen responden menganggap obrolan tatap muka membosankan, dengan 63 persen dari mereka mengaku merasa sulit menghadapi interaksi langsung. Akibatnya, banyak yang menggunakan ponsel sebagai bentuk pelarian, terutama saat bersosialisasi, saat berbincang dengan teman, dan bahkan saat berbicara dengan orang tua.

Bahkan, sebagian Gen Z juga mengaku telah memiliki  ketergantungan tinggi pada telepon pintar, sebagaimana diakui oleh 28 persen. Hal itu membuat mereka merasa tidak nyaman saat tidak membawa gawai, hingga dapat memicu kecemasan signifikan.

Laporan itu menekankan bahwa lebih dari separuh orang dewasa Gen Z merasa tertekan untuk segera menanggapi pesan, bahkan ketika mereka tidak menginginkannya, yang menyoroti tekanan yang terus-menerus terjadi pada kesejahteraan mental mereka.

Sementara itu, satu dari lima orang dewasa Gen Z mengaku  kesulitan fokus dan produktif sebagai akibat langsung dari penggunaan ponsel yang berlebihan. Bahkan, sebagian besar dari mereka menyebut media sosial sebagai penyebab utama rendahnya kesejahteraan mental.

Di sisi lain, bagi sepertiga responden, membandingkan penampilan mereka dengan orang lain secara daring telah berdampak negatif pada harga diri mereka, sementara menggulir (scrolling) media sosial sebelum tidur telah memengaruhi kesehatan mental bagi 33 persen lainnya. 

"Kita melihat generasi yang lebih terhubung dari sebelumnya, namun lebih kesepian dan lebih cemas. Notifikasi yang terus-menerus, pengguliran [scrolling] tanpa henti, dan tekanan untuk selalu aktif terlalu merangsang sistem saraf mereka dan memecah rentang perhatian mereka," kata psikolog Linda Papadopoulos. 
 

Mencari Bantuan Teman hingga Profesional

Di tengah kondisi menantang tersebut, kalangan Gen Z berusaha mencari berbagai jalan keluar. Hasil survei melaporkan bahwa hanya 14 persen dari mereka yang bergelut dengan masalah kesehatan mental akan mencari bantuan dari tenaga kesehatan profesional. 

Sementara sebagian besar dari responden mengaku lebih memilih bercerita kepada teman sebagaimana diakui 37 persen responden, atau pasangan (31 persen). Hal yang mengkhawatirkan, 14 persen lainnya mengungkapkan bahwa mereka tidak punya orang untuk diajak bicara. 

Meskipun ada kekhawatiran itu, beberapa anak muda mengambil langkah proaktif. Lebih dari separuh atau 56 persen responden secara sadar telah berhenti menggunakan media sosial atau ponsel untuk meningkatkan kesehatan mental mereka, sebuah langkah yang menurut para ahli mengarah ke arah yang benar. 

Linda Papadopoulos menuturkan seluruh pihak perlu membantu generasi muda untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat. Tidak harus dengan menyingkirkan ponsel sepenuhnya, tetapi dengan menciptakan struktur seputar penggunaannya.

"Itu bisa berarti waktu tanpa ponsel di pagi dan sore hari, membatasi notifikasi, atau terlibat dalam aktivitas sehari-hari yang bebas dari layar dan dilakukan secara sengaja," ujarnya.

Sementara itu, Tara Foley, CEO AXA UK & Ireland, menyampaikan laporan yang dirilis pihaknya memberikan gambaran fakta yang terjadi khususnya di kalangan Gen Z sekaligus menciptakan kekhawatiran.

Menurutnya, kondisi masyarakat yang sangat terhubung melalui layar terkadang menghilangkan sentuhan manusiawi, sehingga tidak mengherankan banyak orang tua khawatir tentang dampak penggunaan ponsel terhadap anak-anak mereka.

"Kami berharap penelitian ini akan mendorong pendekatan yang lebih kolaboratif sehingga solusi yang menumbuhkan ketahanan dan meningkatkan hasil kesehatan mental dapat dikembangkan untuk semua orang, terutama bagi kaum muda," kata Foley.

Baca juga: Ini Gangguan Mental yang Sering Dialami Gen Z & Penyebabnya 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Badai Dagang AS-China Menerpa, Ini 5 Peluang Cuan Buat Pengusaha Indonesia

BERIKUTNYA

Produk K-Beauty Populerkan Tren Natural & Glass Skin di Pasar Kecantikan Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: