Industri film Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah produksi film lokal kini juga terus meningkat. Tak hanya itu, kualitas karya juga makin baik dan apresiasi terhadap film Indonesia pun terus bertumbuh.
Tahun lalu menandai pencapaian luar biasa bagi industri perfilman Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, jumlah penonton film nasional menembus angka 80 juta. Angka jelas bukan hanya sekadar statistik, melainkan juga bukti bahwa perfilman Indonesia makin mendapat tempat di hati masyarakat.
Namun, di balik pencapaian tersebut, terdapat tantangan besar yang berpotensi menghambat perkembangan industri film, yakni keterbatasan jumlah layar bioskop di dalam negeri.
Saat ini, distribusi film Indonesia masih bergantung pada jaringan bioskop yang jumlahnya belum sebanding dengan pertumbuhan industri. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia memiliki jumlah layar bioskop yang masih jauh lebih sedikit dibandingkan negara-negara lain dengan industri film yang berkembang pesat.
Akibatnya, banyak film Indonesia yang kesulitan mendapatkan slot tayang atau hanya ditayangkan dalam waktu yang sangat terbatas. Hal ini belum ditambah film-film blockbuster asing yang kerap mendominasi layar bioskop dalam jangka waktu lama, sehingga menyisakan sedikit ruang bagi film Indonesia untuk berkembang.
Angga Dwimas Sasongko (Sumber gambar: dok Angga)
Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI) untuk masa bakti 2024–2029, Angga Dwimas Sasongko, mengatakan saat ini perfilman Indonesia tengah berada di fase akselerasi industri. Sebuah fase yang baginya sangatlah krusial.
Angga menilai saat ini industri film Indonesia sudah sampai ke tahap film-film lokal tidak lagi hanya menjadi pilihan alternatif bagi penonton, tetapi telah menjadi arus utama hiburan di layar lebar. Raihan lebih dari 80 juta penonton sepanjang 2024 menjadi bukti nyatanya.
“Pertumbuhan ini bukan sekadar lonjakan angka, tetapi juga validasi bahwa penonton Indonesia memiliki kepercayaan yang lebih besar terhadap film lokal. Sekarang, tantangannya adalah bagaimana industri bisa mengonversi momentum ini menjadi fondasi berkelanjutan, bukan sekadar fenomena sesaat,” ungkap Angga kepada Hypeabis.id.
Namun, diakui oleh Angga, menjaga momentum besar ini bukanlah hal yang mudah. Terlebih, tentu saja, semua pihak tak ingin raihan yang terjadi tahun lalu hanya berakhir sebagai sebuah anomali.
Angga lantas menyoroti pentingnya bioskop sebagai panggung utama bagi industri film. Menurutnya, bioskop bukan sekadar tempat menonton film, tetapi merupakan fondasi ekosistem industri yang menjaga skala ekonomi tetap sehat bagi semua pihak, mulai dari produser hingga eksibitor.
Akan tetapi, saat ini panggung utama tersebut masih membutuhkan banyak perbaikan. Sutradara Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2014) ini menyebut terbatasnya bioskop dan layar secara makro akan berdampak pada akselerasi perfilman Indonesia saat ini.
Salah satu konsekuensi utama dari terbatasnya jumlah layar bioskop adalah semakin kecilnya peluang distribusi bagi film Indonesia. Padahal, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar bagi industri film.
Saat ini, mayoritas bioskop masih terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara potensi pasar di kota-kota menengah dan kecil masih belum tergarap secara optimal. Hal ini berpotensi menghambat pertumbuhan jumlah penonton meskipun film-film yang diproduksi semakin berkualitas.
“Kita harus mendorong pertumbuhan layar bioskop ke kota-kota yang belum terjangkau. Tanpa ekspansi distribusi fisik, jumlah penonton bisa stagnan meskipun film-film yang diproduksi semakin berkualitas,” jelasnya.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Angga mendorong pemerintah juga berbagai stakeholder terkait untuk melakukan beberapa langkah strategis. Menurutnya, investasi dalam pembangunan bioskop mini di kota-kota kecil harus dipercepat, dengan dukungan insentif dari pemerintah dan sektor swasta guna memperluas jaringan bioskop ke daerah baru.
Angga juga mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menghadirkan program pemutaran film secara reguler di wilayah yang belum memiliki bioskop. Dia menambahkan bahwa meskipun platform digital bisa menjadi pelengkap, tanpa peningkatan jumlah layar bioskop, skala ekonomi industri film akan sulit berkembang secara optimal.
Dia berharap ke depan, pertumbuhan industri film Indonesia harus dibarengi dengan pemerataan akses bagi penonton di seluruh daerah. Dengan adanya lebih banyak layar bioskop, ekosistem industri film akan makin sehat dan memberikan manfaat bagi seluruh pelaku industri, termasuk sineas, distributor, dan tentu saja, penonton.
Menonton film di bioskop (Sumber gambar: Unsplash/ Kilyan Sockalingum)
Pengamat film Yan Widjaya menyoroti dampak dari keterbatasan jumlah bioskop di Indonesia yang menyebabkan waktu tunggu penayangan film menjadi lebih lama. Padahal, setiap film yang telah selesai diproduksi idealnya dapat segera didistribusikan dan ditayangkan.
Sebab, menurutnya, sebuah film diproduksi pasti berdasarkan dengan strategi yang telah disusun, termasuk mempertimbangkan momentum tertentu. Waktu tunggu yang terlalu panjang berisiko mengacaukan strategi tersebut.
“Jumlah film Indonesia saat ini sangat banyak. Ada sekitar 270 film yang masih antre untuk tayang, sementara jumlah bioskop baru sekitar 2.200. Ini jelas belum memadai jika dibandingkan dengan jumlah produksi film,” ujar Yan.
Dengan semakin masifnya produksi film di Indonesia, Yan menilai bahwa idealnya jumlah layar bioskop mencapai 5.000, dengan distribusi yang lebih merata di berbagai wilayah, bukan hanya di kota-kota besar.
Dia juga menekankan perlunya akselerasi pertumbuhan layar bioskop agar dapat mengakomodasi jumlah film yang terus bertambah. Sebab, efek dominonya bisa terjadi belakangan.
Menurut amatan Yan, saat ini bahkan ada beberapa film yang telah diproduksi sejak lima tahun lalu masih belum mendapatkan slot tayang akibat antrean panjang, terutama karena masih ada sisa produksi dari masa pandemi.
“Antrean film semakin menumpuk. Setiap tahun ada film baru yang diproduksi. Satu-satunya solusi adalah menambah jumlah layar agar jangka waktu penayangan bisa lebih panjang. Jika sebuah film hanya bertahan tiga hari di bioskop, risikonya besar, film bisa gagal secara komersial, dan produser mengalami kerugian,” pungkasnya.
Secara umum, layar terbatas ini juga bisa berdampak pada potensi box office film Indonesia. Hingga saat ini, angka tertinggi jumlah penonton Indonesia masih berada di angka 9-10 juta. Itu pun hanya dua yang berhasil, yakni KKN di Desa Penari (2022) dan Agak Laen (2024).
Film KKN di Desa Penari produksi MD Pictures tercatat sebagai film Indonesia pertama yang mampu menembus angka 9 juta penonton. Film yang dirilis pada 2022 lalu itu bahkan pada perhitungan akhir jumlahnya naik menjadi 10.061.033 penonton.
Setelah itu, butuh 2 tahun sampai akhirnya film Indonesia punya pencapaian tersebut lagi. Pada 2024, muncul film Agak Laen produksi Imajinari yang meraih 9.125.188 penonton.
Sementara itu, film-film lain yang mendekati angka tersebut ialah Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016) dengan 6,8 juta penonton dan Dilan 1990 (2018) dengan 6,3 juta penonton. Dua terdekat ini masih berada di kisaran 6 juta penonton saja. Tak mengherankan bila pencapaian angka 9 juta penonton masih dianggap sebagai anomali yang positif bagi industri film Indonesia, mengingat hanya segelintir film yang mampu mencapainya.
Pengamat film Indonesia Hikmat Darmawan mengatakan ada beberapa alasan yang membuat sebuah film begitu sulit mencapai angka 9 juta penonton. Padahal, film tersebut dipasarkan di Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta.
“Selama proporsi jumlah layar dengan jumlah penduduk yang potensial market itu belum terpenuhi, ya maka 9 juta akan selalu jadi anomali,” ungkap Hikmat kepada Hypeabis.id.
Pengunjung mencetak tiket mandiri di salah satu bioskop CGV di Jakarta, Selasa (15/10/2024) (sumber gambar: JIBI/Eusebio Chrysnamurti)
Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Indonesia (GPBSI), Suprayitno, mengatakan jumlah bioskop dan layar di Indonesia memang masih belum ideal. Pasalnya, jumlah produksi film yang makin meningkat, tetapi tidak sebanding dengan pertambahan jumlah bioskop per tahunnya.
Suprayitno menyebut saat ini jumlah produksi film di Indonesia bisa mencapai 200-an lebih. Sementara itu, jumlah bioskop saat ini hanya 416 dengan total layar 2.282 yang tersebar di sekitar 95 kota atau kabupaten di Indonesia.
Sebenarnya, kata dia, pertumbuhan bioskop di Indonesia sempat mengalami pertumbuhan pesat, terutama pada medio 2016-an karena bioskop dikeluarkan dari daftar negatif investasi (DNI). Pasalnya, pencabutan aturan ini memungkinkan investasi asing masuk secara penuh ke sektor bioskop, membuka peluang ekspansi dan modernisasi industri hiburan di Tanah Air.
Dengan terbukanya investasi asing hingga 100 persen, berbagai perusahaan internasional mulai berinvestasi dalam pembangunan dan perluasan jaringan bioskop di Indonesia. Pemain besar seperti CGV dan Cinepolis, yang sebelumnya terbatas dalam ekspansi mereka, kini lebih leluasa menambah jumlah layar dan menjangkau lebih banyak kota di luar Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
“Namun, perlu diketahui keputusan untuk ekspansi bioskop itu sesuatu yang kompleks. Perlu pertimbangan dan riset dalam sebelum melakukannya,” ungkap Suprayitno.
Menurutnya, ada perubahan tren besar yang terjadi dalam pola konsumsi film pada masyarakat Indonesia saat ini. Dahulu, kata dia, jualan utama bioskop adalah film. Namun, saat ini situasinya berbeda.
Sekarang bioskop umumnya tidak hanya terpaku menjadi ruang putar. Bioskop kini bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup. Dalam hal ini, selain film, proses membangun suasana dan identitas bioskop itu juga menjadi suatu hal yang penting. “Bisa dibilang saat ini bioskop itu menawarkan suasana ya, pengalaman menonton,” imbuhnya.
Dari waktu ke waktu, perubahan tersebut kemudian berkelindan ke banyak hal. Salah satunya ialah kecenderungan bioskop banyak dibangun di mal-mal besar, tidak lagi mengandalkan konsep stand alone (berdiri sendiri).
Pada akhirnya, bioskop kini memang jadi lebih lazim ditemui di kota-kota besar. Sementara masyarakat yang berada di kota-kota kecil, mesti berpindah dahulu untuk bisa menyaksikan film di bioskop.
Kendati demikian, Suprayitno menyebut secara perlahan, para pengusaha bioskop kini mulai memperlebar sayap tidak hanya mengincar kota tier 1, tetapi kini juga ke kota tier 2, dan tier 3. “Beberapa sudah mulai berani untuk membangun bioskop di kota-kota kecil ya. Belakangan, ada Sam’s Studios juga yang punya fokus ke segmen itu,” jelasnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.