Hari Glaukoma Sedunia Jadi Momentum Membangun Kesadaran Kesehatan Mata
12 March 2025 |
13:26 WIB
Hari Glaukoma Sedunia diperingati setiap tahunnya oleh masyarakat, asosiasi, dan perhimpunan pasien. Inisiatif peringatan ini dicetuskan oleh World Glaucoma Patient Association bersama World Glaucoma Association pada 6 Maret 2008, tetapi pelaksanaan peringatannya ditetapkan setiap 12 Maret.
Peringatan tahunan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang betapa krusialnya pemeriksaan mata secara rutin, agar bisa mencegah lebih dini terkena Glaukoma. Glaukoma kini menjadi penyakit mata yang cukup banyak dialami oleh masyarakat dunia. WHO memperkirakan jumlah penderita Glaukoma telah mencapai 57,7 juta orang.
"Setidaknya 50% orang (penderita glaukoma) di negara maju tidak menyadari menderita glaukoma dan jumlah ini dapat meningkat menjadi 90% di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,” ucap Direktur P2PTM periode 2024 Dr. Eva Susanti, dalam laman resmi Kemenkes.
Baca juga: Cek 5 Penyebab Mata Bengkak, Bikin Penampilan Terganggu
Glaukoma adalah penyakit mata yang disebabkan oleh kerusakan saraf optik. Kerusakan ini biasanya terjadi karena tekanan bola mata yang tinggi.
Peningkatan tekanan cairan dalam bola mata busa terjadi karena ketidakseimbangan antara produksi cairan dan jumlah yang dibuang. Normalnya, tekanan bola mata tidak lebih dari 20 mmHg. Akan tetapi, pada penderita glaukoma tekanannya berada di atas angka tersebut.
Meski efeknya fatal, Glaukoma cenderung tidak menimbulkan gejala tertentu. Jika muncul gejala pun tanda-tandanya sangat umum, seperti sakit mata, penglihatan yang memburuk, kemerahan pada mata, serta mual dan muntah.
Sejauh ini, faktor risiko dan penyebab Glaukoma dipengaruhi oleh beberapa hal. Gender rupanya cukup berpengaruh dalam penyakit ini. Sebab, kasus Glaukoma pada perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki.
Kemudian, ras kulit hitam juga lebih rentan terkena Glaukoma dibanding ras kulit putih. Namun, di luar itu, Glaukoma dapat menyerang siapa saja. Pasalnya, ini adalah penyakit degeneratif sehingga risikonya terus meningkat seiring bertambahnya usia.
Risiko seseorang juga akan meningkat bila memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa, bahkan saudara sekandung lebih berisiko dibanding orang tua dan anaknya.
Selain itu, penyakit ini juga bisa muncul karena migrain atau penyempitan pembuluh darah otak. Selain itu, faktor kecelakaan atau operasi pada mata sebelumnya juga dapat berpengaruh.
Masyarakat diimbau tetap mewaspadai penyakit Glaukoma. Meski menjadi penyebab kedua kasus kebutaan di Indonesia, penyakit ini punya dampak yang signifikan dibanding katarak. Sebab, kebutaan yang disebabkan glaukoma bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki.
Baca juga: Cek Fakta, Benarkah Obat Tetes Mata Dapat Mengatasi Katarak?
Untuk mencegah hal tersebut, alangkah pentingnya bagi masyarakat untuk melakukan skrining Glaukoma secara rutin sebagai deteksi dini meminimalisir kehilangan fungsi penglihatan.
Gerakan World Glaucoma Week merekomendasikan skrining berdasarkan kelompok usia, yaitu setiap 2-4 tahun sekali bagi individu di bawah 40 tahun, setiap 2-3 tahun sekali bagi mereka yang berusia 40-60 tahun, dan setiap 1-2 tahun sekali bagi yang berusia di atas 60 tahun.
(Ikuti laporan Hypeabis.id lainnya di Google News)
Peringatan tahunan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang betapa krusialnya pemeriksaan mata secara rutin, agar bisa mencegah lebih dini terkena Glaukoma. Glaukoma kini menjadi penyakit mata yang cukup banyak dialami oleh masyarakat dunia. WHO memperkirakan jumlah penderita Glaukoma telah mencapai 57,7 juta orang.
"Setidaknya 50% orang (penderita glaukoma) di negara maju tidak menyadari menderita glaukoma dan jumlah ini dapat meningkat menjadi 90% di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,” ucap Direktur P2PTM periode 2024 Dr. Eva Susanti, dalam laman resmi Kemenkes.
Baca juga: Cek 5 Penyebab Mata Bengkak, Bikin Penampilan Terganggu
Glaukoma adalah penyakit mata yang disebabkan oleh kerusakan saraf optik. Kerusakan ini biasanya terjadi karena tekanan bola mata yang tinggi.
Peningkatan tekanan cairan dalam bola mata busa terjadi karena ketidakseimbangan antara produksi cairan dan jumlah yang dibuang. Normalnya, tekanan bola mata tidak lebih dari 20 mmHg. Akan tetapi, pada penderita glaukoma tekanannya berada di atas angka tersebut.

Periksa mata (Sumber gambar: Unsplash/Marina Vitale)
Meski efeknya fatal, Glaukoma cenderung tidak menimbulkan gejala tertentu. Jika muncul gejala pun tanda-tandanya sangat umum, seperti sakit mata, penglihatan yang memburuk, kemerahan pada mata, serta mual dan muntah.
Sejauh ini, faktor risiko dan penyebab Glaukoma dipengaruhi oleh beberapa hal. Gender rupanya cukup berpengaruh dalam penyakit ini. Sebab, kasus Glaukoma pada perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki.
Kemudian, ras kulit hitam juga lebih rentan terkena Glaukoma dibanding ras kulit putih. Namun, di luar itu, Glaukoma dapat menyerang siapa saja. Pasalnya, ini adalah penyakit degeneratif sehingga risikonya terus meningkat seiring bertambahnya usia.
Risiko seseorang juga akan meningkat bila memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa, bahkan saudara sekandung lebih berisiko dibanding orang tua dan anaknya.
Selain itu, penyakit ini juga bisa muncul karena migrain atau penyempitan pembuluh darah otak. Selain itu, faktor kecelakaan atau operasi pada mata sebelumnya juga dapat berpengaruh.
Masyarakat diimbau tetap mewaspadai penyakit Glaukoma. Meski menjadi penyebab kedua kasus kebutaan di Indonesia, penyakit ini punya dampak yang signifikan dibanding katarak. Sebab, kebutaan yang disebabkan glaukoma bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki.
Baca juga: Cek Fakta, Benarkah Obat Tetes Mata Dapat Mengatasi Katarak?
Untuk mencegah hal tersebut, alangkah pentingnya bagi masyarakat untuk melakukan skrining Glaukoma secara rutin sebagai deteksi dini meminimalisir kehilangan fungsi penglihatan.
Gerakan World Glaucoma Week merekomendasikan skrining berdasarkan kelompok usia, yaitu setiap 2-4 tahun sekali bagi individu di bawah 40 tahun, setiap 2-3 tahun sekali bagi mereka yang berusia 40-60 tahun, dan setiap 1-2 tahun sekali bagi yang berusia di atas 60 tahun.
(Ikuti laporan Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.