Ilustrasi memaksimalkan potensi budaya untuk pariwisata. (Sumber gambar: Freepik/Tawatchai07)

Seni & Budaya Dinilai Jadi Strategi Ciamik Mendongkrak Pariwisata, Begini Caranya

18 July 2024   |   15:44 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Sektor pariwisata menunjukkan tren positif dengan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada paruh pertama 2024. Diharapkan tren ini terus berlanjut di sisa semester dengan memaksimalkan seni dan budaya untuk menarik minat para pelancong. 

Pertumbuhan sektor pariwisata terlihat dari data jumlah wisman ke Indonesia pada Januari hingga Mei 2024 mencapai 5.244.213 kunjungan. Angka ini naik 23,78 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Baca juga: Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024 Sukses Susuri 7 Titik Jalur Rempah Indonesia-Malaysia

Jika dibandingkan April 2024, pertumbuhan wisman meningkat 7,36 persen atau mencapai 1.145.499 kunjungan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terdapat lima negara asal wisman dengan kunjungan terbanyak ke Indonesia, diantaranya Malaysia sebesar 17,47 persen, Australia 11,98 persen, Singapura 9,69 persen, China 8,61 persen, dan India 7,08 persen, dengan rata-rata lama tinggal (length of stay) sekitar 7,58 malam.

“Jadi tren inilah yang harus kita jaga supaya tren positif terus berlanjut karena jumlah wisman akan membawa dampak terhadap jumlah devisa dan devisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja,” ujar Nia Niscaya, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Kemenparekraf.

Untuk memaksimalkan potensi kunjungan wisman, Pengamat Pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman, Chusmeru mengatakan Indonesia diharapkan tidak hanya mengandalkan objek wisata alam saja. Pasalnya, kompetitor atau negara-negara lain terbilang cukup agresif dalam pengembangan pariwisatanya, terutama yang berbasis pada wisata alam seperti pantai maupun gunung.

Sebagai strategi, dia menyarankan agar pemerintah memaksimalkan potensi seni dan budaya yang ada di daerah untuk menjadi bagian dari ekosistem pariwisata. Misal, mengadakan event berskala internasional yang turut menyuguhkan atraksi seni dan budaya di daerah tempat penyelenggaraan.

Menurut Chusmeru, event berskala internasional cukup mendatangkan wisman dalam jumlah yang cukup banyak. Dengan hadir dalam rangkaian event atau justru menjadi event itu sendiri, seni dan budaya di daerah bisa tetap lestari dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing.

Dia menilai saat ini budaya lokal mulai terhimpit oleh budaya besar di dunia seperti budaya dari Amerika, Korea, dan Timur Tengah. Di satu sisi, seniman yang ada sekarang menurut Chusmeru mayoritas merupakan generasi tua dan jaraknya terlampau jauh dengan generasi muda saat ini. “Kalau tidak segera dilestarikan, ke depan seni budaya di Indonesia sudah tidak ada lagi peminatnya,” tegasnya saat dihubungi Hypeabis.id, belum lama ini.

Oleh karena itu, butuh dukungan dari pemerintah setempat untuk melestarikannya dengan membuat program-program kesenian untuk generasi penerus. Perlu regulasi yang menjamin pemajuan dan kelestarian sehingga ada tanggung jawab sosial dari pelaku industri atau bisnis pariwisata untuk melibatkan kelompok-kelompok kesenian dalam aktivitas bisnis mereka. 

Selain hadir dalam event internasional, hotel berbintang di daerah bisa memberikan kesempatan kepada pelaku kesenian, meskipun sekadar menyambut tamu rombongan dengan tarian-tarian daerah. Setiap seminar, simposium, konferensi juga diharapkan melibatkan pelaku-pelaku kesenian di daerah untuk tampil. 

“Sehingga mereka terus ada proses regenerasi, ada proses-proses upaya-upaya untuk melestarikan kesenian tradisional mereka. Ini kan belum semua,” sebut Chusmeru.

Pelaku bisnis pariwisata juga bisa membuat program-program corporate social responsibility (CSR) dengan menyisihkan sebagian keuntungan dari usaha bisnis untuk pembinaan seni budaya di daerah. Dengan berkontribusi pada kelestarian seni budaya di sekitarnya, pelaku bisnis bisa mendapat keuntungan karena banyak wisatawan tertarik untuk datang.

Chusmeru pun menyambut positif niat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves RI), Luhut Binsar Pandjaitan yang akan menurunkan tiket pesawat dengan mengefisiensikan biaya operasional pesawat penerbangan. Langkah ini menjadi angin segar untuk menarik wisatawan datang ke Indonesia.

Sementara itu, dia berharap daerah yang menjadi tujuan wisata bersaing secara sehat untuk menghadirkan produk wisata yang berkualitas. Mengambil contoh Bali, wisata di sana terkesan murah bagi wisman karena persaingan bisnis pariwisata yang sangat kompetitif. Alhasil, terjadi persaingan tidak sehat untuk sektor penginapan. 

Dengan produk wisata yang murah itu, mengundang wisatawan-wisatawan yang tidak berkualitas datang ke Bali. Wisatawan-wisatawan yang tidak berkualitas tersebut biasanya berdompet tipis tetapi ingin tinggal lama dan mendapat banyak kegiatan. Mereka juga lah yang kerap bermasalah dengan penduduk sekitar maupun aparatur setempat.

“Tapi pada wisatawan-wisatawan yang berkualitas, wisatawan-wisatawan kelas menengah ke atas itu nyaris tidak pernah terjadi kasus-kasus seperti yang dilakukan oleh wisatawan-wisatawan yang tidak berkualitas,” tuturnya.

Dia berpendapat perlu strategi pemasaran dan persaingan yang sehat untuk setiap daerah yang menjadi tujuan pariwisata untuk mendatangkan wisatawan yang berkualitas.

Baca juga: Terluas di Indonesia, Museum Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi Bakal Jadi Laboratorium Pengetahuan Publik

Editor: Puput Ady Sukarno

SEBELUMNYA

Kreator TikTok Merapat! Gimme The Mic 2024 Digelar, Cek Syarat, Tahapan & Hadiahnya

BERIKUTNYA

Menanti Gebrakan Teuku Jordan Zacky sebagai National Director Miss Universe Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: