Pengunjung menyaksikan salah satu karya Butet Kartaredjasa dalam pameran Melik Nggendong Lali di Galnas (Sumber gambar: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)

Pameran Melik Nggendong Lali, Refleksi Laku Spiritual & Sosial Butet Kartaredjasa

26 April 2024   |   19:52 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Penikmat seni rupa Indonesia asa kabar gembira nih buat kalian. Pasalnya, seniman kawakan Butet Kartaredjasa turun gunung untuk kembali berpameran tunggal di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta dengan tajuk Melik Nggendong Lali pada 26 April-25 Mei 2024. 

Melik Nggendong Lali dipilih sebagai judul pameran bukan tanpa alasan. Sebab, judul ekshibisi itu bisa diterjemahkan sebagai bentuk keinginan yang berlebih untuk memiliki, serta didorong nafsu tak pernah puas, sehingga lali (lupa) terhadap aturan atau hukum yang harus ditaati. 

Baca juga: Menyibak Representasi Patung & Instalasi di Art Jakarta Gardens 2024

Dalam ekshibisi ini Butet menyuguhkan karya-karya teranyarnya yang merefleksikan realitas hari ini. Mulai dari laku dan praktik spiritual atau kegelisahan yang dialami secara personal. Tak luput juga kritik terhadap masalah sosial yang terefleksi dalam kondisi politik terkini di Tanah Air.

Visual itu misalnya, terejawantah dalam karya berjudul Tuli Permanen (tinta di atas kertas, 42x29,7 cm). Dalam karya bertarikh 2024 itu, Butet tampak mengguratkan nama aslinya, yaitu Bambang Ekoloyo Butet Kartaredjasa, yang membentuk isen karakter tokoh Punakawan, yakni Petruk dengan telinga yang tersumpal.

Pola pembuatan gambar yang menghasilkan langgam visual unik itu tak lepas dari praktik Butet dalam menjalankan laku spiritual bernama wirid visual. Baginya, wirid spiritual bukan sekadar seni, sebab di sana ada momen kontemplatif dan meditatif saat mengguratkan namanya dengan cara repetitif. 
 

Butet Kartaredjasa berpose dengan salah satu karyanya di pameran Melik Nggendong Lali

Butet Kartaredjasa berpose dengan salah satu karyanya di pameran Melik Nggendong Lali. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Arief Hermawan)

Citra karakter Petruk juga mewujud dalam bentuk patung berukuran manusia yang terbuat dari resin fiberglass. Namun, sosok Petruk itu digambarkan sedang berkacak pinggang sembari mendongakkan kepala. Visual yang tampak angkuh itu diberi judul sesuai tema pameran dengan wajah berpalet emas, yang menurut Butet menyimbolkan tipu daya.

Menurutnya, situasi sosial politik belakangan ini memang mengingatkannya akan sebuah sanepan (ungkapan samar) tentang Petruk Dadi Ratu. Lakon yang juga kerap dipentaskan dalam wayang itu mengisahkan tentang sosok jelata yang akhirnya menjadi penguasa, tapi akhirnya mbalelo terhadap rakyat. 

"Patung ini memang wajahnya sengaja saya kasih prada emas. Ini menyimbolkan sebuah kepalsuan. Lalu di belakangnya ada tulisan Melik Nggendong Lali yang biasanya terdapat di lukisan kaca rumah orang Jawa. Ini untuk mengingatkan sangkan paran, atau dari dan menuju ke mana kita hidup," katanya saat diskusi bersama wartawan.

Bergeser sekira sepuluh langkah dari patung, pengunjung akan bertemu dengan sederet lukisan kanvas yang mengimak objek harimau, kambing, hingga anjing dan kelinci berjudul Membuang Kemarahan, Melambungkan Harapan, Sepasang Merantau, dan Tanduk yang Sejuk. Sepilihan karya itu menggunakan media akrilik di atas kanvas berdimensi 130x130 cm.

Uniknya, dalam karya ini Butet juga masih menggunakan gaya wirid visual dengan membubuhkan nama sebagai layer lukisan yang ditimpa tinta. Walakin, dia sepertinya belum berpuas hati lewat media kanvas. Inilah yang membuatnya mengeksplorasi material lain, seperti keramik, metal, batu, hingga kain yang makin memberikan nuansa berbeda pada pameran ini.
 

agagah

Pengunjung menyaksikan salah satu karya Butet Kartaredjasa dalam pameran Melik Nggendong Lali di Galnas (Sumber gambar: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)

Eksplorasi ragam material itu mewujud dalam karya berjudul Menyembah Idola (keramik, 51cm, 2020), Mencegah Jawanisasi (keramik, pelat besi 81x51 cm, 2022), Kesuburan Nusantara 1 (tembaga, 124x90cm, 2023), dan masih banyak lagi. Secara umum, karya tersebut merefleksikan berbagai figur seperti rakyat, abdi dalem, hingga sosok-sosok yang lain.

Kurator Asmudjo Jono Irianto mengatakan, dalam pameran ini Butet menunjukan keterampilan dan kekuatannya dalam mengubah yang esoteris menjadi eksoteris. Menurutnya, wirid visual yang dilakukan juga menjadi sebentuk refleksi self-healing dan self-suggestion agar memiliki dampak terhadap kehidupan.

Ratusan karya yang dipacak dalam pameran ini juga menandai babak penting dalam kehidupan sang seniman, yakni laku spiritual sebagai upaya harapan untuk merubah nasib. Ini tidak lepas dari momen Butet yang dua kali lolos dari maut, serta berbagai upayanya dalam merayakan kegembiraan kerja kreatif yang menembus batasan ruang seni.

"Selain menuliskan namanya, Butet juga melakukan wirid dengan menulis kata Nusantara. Sebuah laku spiritual yang diamalkan tidak lepas dari dunia dan budaya besar tempatnya tumbuh dan tinggal, Indonesia. Laku spiritual dengan pamrih kebaikan situasi politik dan sosial ini tentu saja positif," katanya. 
 
Melik Nggendong Lali merupakan pameran tunggal kedua Butet di Galnas setelah menggelar pameran bertajuk Goro-goro: Bhineka Keramik (2017). Semua karya yang dipamerkan Butet pada pameran ini adalah karyanya yang tersusun dalam rentang 2017-2024. Pameran ini terbuka untuk publik mulai 27 April-25 Mei 2024. 

Baca juga: Pameran No Music, Noise!, Refleksi Sejarah Audio Visual Musik Indonesia & Dunia

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Line Up Lengkap Weverse Con Festival 2024, Ada LE SSERAFIM sampai SEVENTEEN

BERIKUTNYA

China Perkenalkan Taksi Terbang Tanpa Pilot

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: