Suasana jelang salat Idul Fitri 1444 H di Alun-alun Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (22/4/2023). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)

Asal Mula & Sejarah Halalbihalal, Tradisi Idulfitri Khas Indonesia

07 April 2024   |   14:11 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Perayaan hari raya Idulfitri di Indonesia tak bisa lepas dari tradisi halalbihalal. Biasanya, halalbihalal dilakukan dengan bersilaturahmi mengunjungi tetangga maupun sanak saudara, kemudian antaranggota keluarga akan bersalaman dan bermaaf-maafan.

Tradisi bermaaf-maafan saat Lebaran ini terus berkembang di Indonesia. Kata halalbihalal, meski diambil dari bahasa Arab, tetapi kini sudah dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan memiliki dua arti.

Pertama, ialah hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Prosesi maaf-maafan ini biasanya diadakan di sebuah tempat, bisa auditorium, aula, dan sebagainya, oleh sekelompok orang. Kedua, juga bisa diartikan sebagai bentuk silaturahmi dengan cara bersalam-salaman dan makan bersama. 

Baca juga: Sejarah & Filosofi Lebaran Ketupat, Tradisi Unik Sepekan Pasca Idulfitri
 

Suasana jelang salat Idul Fitri 1444 H di Alun-alun Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (22/4/2023). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)

Suasana jelang salat Idul Fitri 1444 H di Alun-alun Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (22/4/2023). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)

Sementara itu, halalbihalal dalam bahasa Arab diambil dari kata Halla atau Halala. Kata tersebut memiliki banyak arti sesuai dengan konteks kalimatnya, antara lain seperti penyelesaian masalah, meluruskan benang kusut, mencairkan yang beku, atau melepaskan ikatan yang membelenggu. 

Halalbihalal merupakan salah satu tradisi Lebaran yang unik dan khas Indonesia. Asal-usul mengapa halalbihalal dilakukan ketika momen Lebaran pun punya sejarah yang panjang. Selain itu, sejarah dari tradisi ini juga punya beberapa versi.

Mengutip Kemendikbudristek, terdapat versi yang menyebut kalau halalbihalal berasal dari kata “halal behalal”. Kata ini masuk ke dalam kamus Jawa-Belanda karya Dr. Th. Pigeaud 1938. Dalam kamus tersebut, behalal diartikan sebagai salam (datang, pergi) untuk saling memaafkan pada waktu Lebaran.

Asal usul versi ini cukup unik. Diceritakan pada 1935-1936 ada pedagang martabak asal India yang berjualan di Taman Sriwedari Solo. Martabak kala itu masih tergolong makanan baru di Indonesia.

Ketika sedang berjualan, pedagang martabak ini dibantu oleh orang-orang Indonesia untuk mempromosikan dagangannya. Mereka menggunakan kata “martabak Malabar, halal bin halal, halal bin halal”.

Sejak saat itu, istilah halal behalal mulai populer. Masyarakat kemudian menggunakan istilah ini untuk sebutan pergi ke Sriwedari saat hari Lebaran atau ketika bersilaturahmi pada momen Idulfitri. Jadilah kata halalbihalal dipakai untuk menggambarkan tradisi bermaaf-maafan hingga sekarang.

Namun, ada versi sejarah lain soal asal-usul halalbihalal. Versi kedua ini menyebut kata halalbihalal muncul pada 1948. Saat itu Indonesia sedang mengalami disintegrasi bangsa sehingga para elite politik banyak yang bertengkar.

Pada pertengahan Ramadan, Presiden Bung Karno mengundang K.H Abdul Wahab Hasbullah yang merupakan ulama pendiri Nahdlatul Ulama ke Istana Negara untuk diminta pendapat atas apa yang sedang terjadi.

Kiai Wahab pun menyarankan agar Bung Karno menyelenggarakan silaturahmi antar-pemimpin politik. Bung Karno setuju, tetapi menginginkan istilah untuk merangkum hal tersebut. Ketika itu tercetuslah kata halalbihalal.

Upaya menyejukkan suasana bangsa melalui halalbihalal pun terwujud. Para tokoh politik akhirnya duduk satu meja dan mulai berdamai demi persatuan Indonesia. Halalbihalal kemudian diikuti oleh masyarakat Indonesia secara luas dan berkembang menjadi tradisi.
 

Jemaah berjalan menuju lokasi Salat Idul Fitri di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (22/4). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Rachman)

Jemaah berjalan menuju lokasi Salat Idul Fitri di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (22/4). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Rachman)

Kemudian, versi ketiga menyebut tradisi halal bihalal diyakini mulai muncul saat masa Mangkunegara I. Pada era Pangeran Sambernyawa tersebut, diketahui sang raja sering mengadakan pertemuan antarpemimpin dan punggawanya secara serentak di balai istana setelah salat Idulfitri.

Pada pertemuan tersebut, terdapat tradisi sungkem dan saling memaafkan. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa ini kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam dengan istilah halalbihalal.

Namun, di luar itu, halalbihalal adalah sebuah tradisi baik yang mesti terus dilestarikan di Indonesia. Kegiatan saling bermaaf-maafan atas kesalahan atau kekhilafan di masa lalu setelah Lebaran ini menjadi gerbang pembuka menyambut hari yang suci dan penuh kemenangan saat Idulfitri.

Baca juga: Mengenal Asal-usul Mudik dan Tradisi Pulang Kampung saat Lebaran

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Lebaran Enggak Mudik, Cek Rekomendasi Tempat Healing di Jakarta

BERIKUTNYA

Tetapkan Idulfitri 10 April 2024, Muhammadiyah Usul Pemerintah Pakai Kalender Islam Global

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: