Ilustrasi pemudik. (Sumber gambar: Wikimedia Commons)

Mengenal Asal-usul Mudik dan Tradisi Pulang Kampung saat Lebaran

27 March 2024   |   21:52 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Mudik menjadi salah satu tradisi yang lekat dengan Hari Raya Lebaran. Umumnya, mudik diartikan sebagai tradisi pulang ke kampung halaman. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh umat Muslim yang tengah merantau, baik untuk tujuan pekerjaan, pendidikan, maupun yang lainnya. Mereka mudik untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan keluarga dan sanak saudara.

Meski telah dikenal luas, sebagian orang mungkin belum mengetahui asal-usul istilah mudik, sejarah, hingga maknanya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata mudik memiliki arti berlayar atau pergi ke udik (hulu sungai, pedalaman). Selain itu, mudik juga didefinisikan pulang ke kampung halaman. 

Baca juga: Yogyakarta Bakal Diserbu 11,7 Juta Pemudik Lebaran 2024, Cek Imbauan Ini!

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa istilah mudik sejatinya tidak hanya dapat dipakai saat momen Lebaran saja, melainkan kapanpun seseorang ingin pulang ke rumah atau kampung halamannya. Sehingga, dalam arti luas, pemuik adalah seseorang yang pulang kampung dalam waktu tertentu, bisa dilakukan oleh siapapun, dari agama apapun, dan negara manapun.

Dosen Departemen Sejarah Universitas Airlangga Moordiati menerangkan istilah mudik merupakan serapan dari bahasa Melayu yang berarti dari hilir ke hulu. Dalam tradisi Melayu, jelasnya, mudik berarti perpindahan dari hilir ke hulu. Selain itu, mudik juga berasal dari kata 'udik' yang secara istilah bisa berarti dengan ujung, atau pergi ke asalnya.

"Dalam tradisi Melayu, mudik itu kan artinya perpindahan dari hilir ke hulu. Jadi, mereka biasanya pergi setiap pagi ke hilir, kemudian pulang ke hulu ketika sore," katanya dikutip dari situs resmi Universitas Airlangga.

Hal hampir senada juga dijelaskan oleh Antropolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Heddy Shri Ahimsa Putra. Dia menuturkan istilah mudik berasal dari kata 'udik' yang artinya hulu atau ujung. Pada masa lampau, masyarakat Melayu yang tinggal di hulu sungai sering bepergian ke hilir sungai menggunakan perahu atau biduk. Setelah urusannya selesai, mereka akan kembali pulang ke hulu pada sore harinya.

"Berasal dari bahasa Melayu, udik. Konteksnya pergi ke muara dan kemudian pulang kampung. Saat orang mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota, kata mudik mulai dikenal dan dipertahankan hingga sekarang saat mereka kembali ke kampungnya," ucapnya.

Meski demikian, Moordiati menambahkan istilah mudik dalam perkembangannya juga mengalami perubahan. Seiring dengan tradisi Lebaran, mudik diasosiasikan dengan istilah yang berasal dari bahasa Jawa yakni 'mulih dhisik' yang artinya ‘pulang dulu’. 

"Seiring dengan adanya tradisi Lebaran, orang-orang mengatakan istilah mudik itu mulih dhisik, serapan dari bahasa Jawa. Ini masuk akal mengingat banyak orang Jawa yang merantau dan melakukan mudik saat Lebaran," imbunya.
 

Ilustrasi pemudik di stasiun kereta api. (Sumber gambar: Wikimedia Commons)

Ilustrasi pemudik di stasiun kereta api. (Sumber gambar: Wikimedia Commons)


Sejarah Tradisi Mudik

Moordiati menjelaskan bahwa sebenarnya fenomena pulang kampung atau mudik sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit dan Mataram Islam. Ketika itu, para penguasa yang ditugaskan bekerja di luar kerajaan akan pulang dan kembali ke kampungnya pada hari-hari tertentu.

Akan tetapi, fenomena mudik serta penggunaan istilahnya diperkirakan baru terjadi secara masif pada tahun 1960-an hingga 1980-an. Hal itu selaras dengan tingginya angka urbanisasi masyarakat desa dan kota. "Ini kemudian yang membuat orang berbondong-bondong dari tempat dia bekerja menuju tempat asalnya. Inilah yang kemudian dikaitkan dengan tradisi dan Bahasa Melayu,” terangnya.

Sementara itu, Heddy menerangkan istilah mudik mulai dikenal luas pada era 1970-an, setelah pada masa orde baru dilakukan pembangunan pusat pertumbuhan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan yang menyebabkan orang melakukan urbanisasi pindah ke kota untuk menetap dan mencari pekerjaan.

Biasanya, mereka akan menunggu waktu libur yang agak panjang agar bisa pulang ke kampung halamannya, bertemu dengan keluarga dan kerabat. Salah satu momen tersebut ialah ketika Hari Raya Lebaran. Oleh karena itu, istilah mudik pun gencar digunakan untuk mendefinisikan tradisi pulang kampung tersebut.

"Karena kita di Indonesia masyarakat Muslim yang paling banyak, maka Lebaran jadi pilihan momen libur yang agak panjang agar bisa kumpul. Berbeda di Amerika dan Eropa, warganya banyak pulang kampung saat perayaan thanksgiving atau perayaan Natal. Sementara di kita ya Idulfitri,” kata Heddy.
 

Ilustrasi pemudik di pelabuhan kapal laut. (Sumber gambar: Wikimedia Commons)

Ilustrasi pemudik di pelabuhan kapal laut. (Sumber gambar: Wikimedia Commons)


Makna Tradisi Mudik

Menukil dari situs Kemdikbud, ada beberapa alasan mengapa masyarakat Indonesia melakukan tradisi mudik. Pertama, mudik merupakan bentuk penghormatan kepada orang tua dan keluarga besar di kampung halaman. Kedua, mudik merupakan bentuk refleksi dan introspeksi diri untuk memperbaiki kehidupan ke depan. Ketiga, mudik juga merupakan bentuk syukur atas keselamatan dan kesehatan yang diberikan selama setahun.

Sementara itu, Agus Maladi Irianto dalam jurnalnya yang bertajuk "Mudik dan Keretakan Budaya" menjelaskan setidaknya ada tiga makna yang terkandung dalam tradisi mudik. Pertama, mudik memiliki makna spiritual-kultural. Mudik adalah sebuah tradisi atau warisan dari para leluhur. Menurutnya, mudik merupakan bagian tradisi yang terkait dengan kebiasaan petani Jawa mengunjungi kampung kelahiran untuk berziarah ke makam para pendahulunya.
 
Ikatan kehidupan duniawi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan setelah di dunia. Oleh karena itu, orang-orang tetap menziarai kuburan-kuburan leluhur untuk mendoakan keselamatannya. Dalam waktu tertentu, orang-orang akan menyempatkan untuk berkunjung ke makam walau terhalang oleh kondisi geografis maupun ekonomi. Hal ini yang kemudian melahirkan tradisi mudik.

Kedua, mudik memiliki makna psikologis. Mudik memberikan manfaat positif untuk mengisi kegersangan dalam jiwa manusia kota. Kerasnya kehidupan di kota dan beban kerja serta tekanan kehidupan dapat mendorong timbulnya stres. Bertemu keluarga di desa, merasakan kenyamanan dan ketenangan, dan bernostalgia dengan pengalaman dapat mengobati stres bagi masyarakat urban.

Sementara poin yang ketiga yakni makna sosial. Mudik biasanya menjadi momentum bagi masyarakat migran untuk datang kembali ke desa dengan status yang berbeda. Keberhasilan ataupun kegagalan di kota akan mempengaruhi status sosial keluarganya di desa. Cerita-cerita tersebut dapat memberikan pengaruh bagi tetangga atau kerabat untuk mengikuti jejaknya.

Poin tersebut juga menjadi salah satu penanda berubahnya esensi mudik menurut Moordiati. Dia menilai, lantaran dinamika sosial dan perubahan zaman, tradisi mudik kini mengalami pergeseran makna. Dari yang semula menjadi momen bagi para perantau untuk melepaskan rindu dengan keluarga dan kampung halaman, kini digunakan juga oleh sebagian masyarakat untuk menunjukkan status sosialnya.

"Orang sekarang kan mudik tidak lagi seperti zaman dulu ya, jadi mereka ketika pulang itu bukan karena ada ikatan emosional lagi, tetapi karena mereka ingin menunjukkan social life [kehidupan sosial] mereka di tempat rantau," katanya.

Baca juga: Daftar Lokasi SPKLU di Jalan Tol Selama Periode Mudik Lebaran 2024

Senada, Heddy juga memandang saat ini bagi sebagian orang, tradisi musik bukan semata dimanfaatkan untuk ajang berkumpul dengan keluarga, tetapi juga menjadi ajang bagi sebagian orang untuk pamer atas keberhasilan mereka di tanah perantauan.“Motivasi lain karena ingin menunjukkan ia sudah berhasil secara ekonomi,” katanya.

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Intip Peluang Cuan Jasa Kreatif Copywriting

BERIKUTNYA

Kenali Kelebihan dan Kekurangan Bekerja Freelance

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: