Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail. (Sumber gambar: Usmar Ismail Cinema Society)

Hari Film Nasional dan Legasi Berharga Bapak Perfilman Usmar Ismail

30 March 2024   |   21:00 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Setiap 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional. Peringatan ini merujuk pada hari pertama pengambilan gambar film Darah dan Doa yang disutradarai Usmar Ismail yakni pada 30 Maret 1950. Film itu dinilai mencerminkan kesadaran nasional dan mengisyaratkan lahirnya sejarah film Indonesia.

Ya, menyimak sejarah perfilman Nasional tidak bisa mengabaikan nama Usmar Ismail. Usmar dipandang telah meletakkan dasar yang kuat bagi kelahiran dan perkembangan film Indonesia. Karya dan pemikirannya tentang film Indonesia menjadi terobosan besar dalam industri perfilman pada masanya, bahkan dianggap masih relevan hingga kini

Salah satunya lewat karya film buatannya Darah dan Doa (1950), yang merupakan tonggak pembaharuan pembuatan film Indonesia. Darah dan Doa dinobatkan sebagai film Indonesia pertama karena disutradarai oleh orang Indonesia asli, diproduksi oleh perusahaan film Indonesia, dan diambil gambarnya di Indonesia. 

Baca juga: 10 Film Indonesia Paling Laris Sepanjang Masa, Cocok Ditonton saat Perayaan Hari Film Nasional

Lewat karya-karyanya, Usmar seolah menegaskan pembuatan film tidak tergantung pada soal komersial belaka, melainkan hasil karya seni yang bebas dan mencerminkan kepribadian nasional.

Konsep film-film buatan sang maestro dinilai sangat bertolak belakang dengan konsep film pada masa penjajahan Belanda, yang hanya menjadikan film sebagai alat hiburan, karena mereka tidak merasa bertanggungjawab terhadap kemajuan bangsa Indonesia. Begitu pula pasa masa penjajahan Jepang, film hanya dijadikan sebagai alat propaganda.


Kehidupan Awal 

Mengutip dari situs Ensiklopedia Sejarah Indonesia Kemdikbud, Usmar Ismail lahir di Batu Sangkar, Sumatra Barat pada 20 Mei 1921. Usmar lahir dan besar dari keluarga pendidik dan agamis. Pada usia 7 tahun, Usmar mengenyam pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Batu Sangkar.

Setelah menyelesaikan pendidikan di HIS, dia melanjutkan studinya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Simpang Haru, Padang, lalu ke Algemeene Middlebare School (AMS) di Yogyakarta hingga 1941.

Usmar mewarisi darah kepengarangan dari sang ayah, Ismail Datuk Manggung, yang berprofesi sebagai penulis. Pada 1942, usai menyelesaikan pendidikannya di Yogyakarta, Usmar hijrah ke Jakarta. Di ibu kota, dia bekerja sebagai pengarang di Keimin Bunka Shidosho, Kantor Besar Pusat Kebudayaan yang diawasi oleh Jepang.
 

g

Usmar Ismail dikenal sebagai sutradara, produser, penulis sekaligus wartawan. (Sumber gambar: Sinematek Indonesia)


Berkesenian & Menjadi Wartawan

Bersama Abu Hanifah, Rosihan Anwar, H.B. Jassin, Cornel Simanjuntak, Usmar mendirikan kelompok teater modern (tonil) dengan nama Sandiwara Penggemar Maya pada kurun 1943 hingga 1945. Sejumlah drama terkenal yang pernah dipentaskan kelompok ini di antaranya Taufan di Atas Asia (1943) karya Abu Hanifah, sedangkan drama yang ditulis oleh Usmar Ismail adalah Mutiara dari Nusa Laut (1943), Mekar Melati (1945), dan Liburan Seniman (1945).

Di samping itu, Usmar juga membuat syair-syair untuk lagu gubahan Cornel Simanjuntak, baik propaganda pesanan Jepang atau kolaborasi seni dan patriotis, seperti Pada Pahlawan dan Teguh Kukuh Berlapis Baja. Namun, yang paling terkenal adalah Tjitra, yang diterbitkan pertama kali di majalah Djawa Baroe pada Desember 1943.

Setelah proklamasi, Usmar bersama dengan Cornel Simanjuntak, Rosihan Anwar, Hamidy Djamil, Suryo Sumanto, dan Djajakusuma, bergabung dalam Seniman Merdeka. Mereka mementaskan sandiwara keliling Jakarta, untuk mengobarkan semangat anti penjajahan setelah Belanda ingin menguasi Indonesia kembali.

Di samping berkesenian, Usmar juga aktif sebagai jurnalis. Saat dia bersama-sama dengan Syamsudin Sutan Makmur dan Rinto Alwi, mendirikan surat kabar Rakyat. Ketika ibu kota dipindahkan ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946–27 Desember 1949, Usmar memasuki masa dinas militer. Di sana, dia mendirikan harian Patriot dan majalah kebudayaan Arena. Termasuk, terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1946-1947 melalui sebuah Kongres PWI di Malang. 

Baca juga: Hari Film Nasional 2024, Simak Sejarah Festival Film Indonesia

Pada 1948, Usmar sempat menjadi wartawan di Antara. Namun, atas tuduhan subversif saat menjadi wartawan, dia sempat ditahan oleh Belanda dan dijebloskan ke penjara Cipinang Jakarta. Setelah keluar dari penjara, Usmar membantu sutradara Andjar Asmara sebagai asisten. Mereka mengerjakan film berjudul Gadis Desa (1949) di sebuah perusahaan produksi film milik Belanda, South Pacific Corporation.

Kala itu, Usmar merasa 'gerah' karena mesti mengakomodir banyak 'pesanan' dari produser. Akhirnya, bersama beberapa teman seniman, dia mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Dengan modal pesangon dari dinas ketentaraan, Usmar kemudian membuat film Darah dan Doa (1950). Film itu kemudian diakui sebagai karya sinema pertamanya, disusul dengan film Enam Djam di Yogya (1951) dan Dosa Tak Berampun (1951).

Pada 1952, Usmar melanjutkan pendidikan tinggi di University of California Los Angeles (UCLA). Selama kuliah, Usmar tetap rajin menulis di surat kabar, terutama mengenai pertemuannya dengan para sutradara Hollywood seperti Ellia Kazan. Selama kuliah di UCLA, Usmar memproduksi sebuah film bergaya Hollywood, Kafedo.

Pada masa itu pula, dia memproduseri sebuah film silat berlatar budaya minang, dengan judul Harimau Tjampa (1953). Film ini disutradarai oleh D. Djajakusuma dan meraih penghargaan Festival Film Indonesia 1955 untuk kategori skenario terbaik. Pada tahun yang sama, untuk meningkatkan kualitas insan perfilman, Usmar mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).
 

f

Adegan film Darah dan Doa (1950). Sumber gambar: Sinematek Indonesia

Gencar Produksi Film

Setelah pulang dari Amerika, Usmar semakin aktif memproduksi film. Berturut-turut, Usmar memproduksi film berjudul Krisis (1953), Lewat Djam Malam (1954), Tiga Dara (1956), Tamu Agung (1955), dan Asrama Dara (1958). Film Krisis disebut sebagai film paling laris kedua setelah Terang Boelan (1937), sehingga dibuat lagi sekuelnya dengan judul Lagi-Lagi Krisis (1955).

Sementara Lewat Djam Malam menjadi film terbaik dan memenangkan Festival Film Jakarta 1955. Adapun, film Tamu Agung yang mengangkat isu fenomena politik menjelang Pemilu 1955 dengan genre satire komedi, memenangkan penghargaan film komedi terbaik pada Festival Film Hongkong 1956.

Namun, perjalanan karier film Usmar juga sempat menemui jalan terjal. Mengutip dari situs Festival Film Indonesia, Sekembalinya ke Indonesia, dia dihadapkan dengan situasi politik yang semakin memanas menjelang Pemilu 1955 yang turut menyeret perfilman. Pada saat yang sama, nasib perfilman juga cukup mengkhawatirkan karena persaingan cukup berat lantaran hadirnya film-film dari Malaysia dan India, serta penolakan bioskop-bioskop kelas satu yang dimonopoli film Amerika.

Pada 1955, Usmar bersama dengan Djamaluddin Malik memelopori penyelenggaraan festival film yang mempersatukan para produser film dan menjadi ajang tertinggi bagi insan perfilman Indonesia. Festival ini yang sampai sekarang dikenal sebagai Festival Film Indonesia atau Piala Citra.

Tak hanya produktif sebagai sutradara, Usmar juga aktif berorganisasi dengan kawan seniman lainnya. Pada 1962, dia bersama Djamaludin Malik mendirikan Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), organisasi budaya di bawah Partai Nahdlatul Ulama. Melalui Partai NU, Usmar diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) pada 1966-1969.

Di Lesbumi pula, Usmar menginisiasi lahirnya lembar kebudayaan Muara di harian Duta Masyarakat. Selain itu, bersama-sama dengan Asrul Sani dan Anas Ma’ruf, Usmar menerbitkan Abad Muslimin. Melalui media tersebut, dia mengkampanyekan sikap kebudayaannya yang disebut oleh Asrul Sani dengan “nasionalis-religius".

Di tengah aksi boikot film-film Amerika dan serangan kelompok-kelompok kiri terhadap Usmar, keuangan Perfini mulai morat-marit dan tidak mampu mendukung kelangsungan perusahaan. Meskipun beberapa karyanya meraih keuntungan komersial, dia tetap tidak bisa menyelamatkan Perfini dari kesulitan finansial.

Pada tahun 1960, Usmar terpaksa menutup studio Perfini di Mampang. Setelahnya, sesekali dia masih membuat film dengan berafiliasi ke Lesbumi, Nahdlatul Ulama, dan beberapa instansi pemerintah. Usahanya untuk kembali ke industri film sepanjang dekade 1960-an juga selalu gagal. Menjelang akhir 1960-an, Usmar tercatat rehat dari dunia film.

Dalam rentang waktu 1950-1970, Usmar telah memproduksi 33 film layar lebar, dengan berbagai genre mulai dari drama sebanyak 13 judul, komedi satire (9 judul), aksi (7 judul), dan musikal (4 judul). Pada 17 Agustus 1962, Usmar mendapatkan anugerah Piagam Widjaya Kusuma, hadiah seni tertinggi sebagai perintis di bidang film dan seni drama oleh Presiden Sukarno. Lalu pada 11 Oktober 1962, Dewan Film Indonesia mendeklarasikan hari pertama pengambilan gambar film Darah dan Doa pada 30 Maret sebagai Hari Film Nasional.

Usmar Ismail meninggal pada 2 Januari 1971 dalam usia 49 tahun, karena pendarahan otak. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Namanya dikenang sebagai bapak perfilman Indonesia dan diabadikan menjadi nama sebuah Gedung di Jalan Rasuna Said, Jakarta. 

Baca juga: Tokoh Perfilman Indonesia Paling Berpengaruh: Usmar Ismail hingga Ratna Asmara

Pada 2021, Presiden Joko Widodo telah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Usmar Ismail. Dia diberi gelar pahlawan karena perannya sebagai wartawan dan sutradara yang telah memberikan makna penting terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. 

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Ini Pentingnya Cek Kaki-kaki Mobil Sebelum Mudik

BERIKUTNYA

Sroja dan Nawasana Hadirkan Koleksi Spesial Lebaran di Indonesia Fashion Week 2024

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: