Ilustrasi ibu pekerja (Sumber gambar: Brian Wangenheim/Unsplash)

Moms, Perhatikan Pentingnya Menjaga Work Life Balance Bagi Ibu Pekerja

05 February 2024   |   17:00 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Proporsi partisipasi kelompok perempuan dalam bidang ketenagakerjaan kian meningkat di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 menyebutkan sebanyak 52,74 juta atau 38,98% pekerja di dalam negeri datang dari kalangan perempuan. 

Semasa menjalani profesinya, wanita mungkin dihadapkan dengan pilihan-pilihan menjelang menikah atau memiliki anak. Memprioritaskan keluarga, hingga tetap pada jalan karier saat berkeluarga memang menjadi pilihan masing-masing. Tak sedikit ibu yang memilih untuk menyeimbangkan keduanya. 

Kondisi itu sekarang dikenal dengan sebutan working mom, istilah yang disematkan bagi ibu-ibu yang tetap menjalankan profesinya di samping kewajibannya menjaga anak. Tentunya, menyeimbangkan profesi dan mengasuh anak bukanlah hal mudah.

Meski peran ayah dalam mengasuh anak mengalami peningkatan, fakta yang diungkap dalam laporan The Research Moms of Edison Research mengatakan ibu tetap memiliki banyak beban mental (mental load) yang lebih besar dalam urusan anak dan rumah tangga.

Baca juga: Menjadi Ibu Pekerja, Kenapa Tidak?
 
Psikolog Edukasi Rumah Dandelion Orissa Anggita Rinjani mengatakan, seorang ibu acap kali dilabeli sebagai superhero alias manusia serba bisa. Stigma ini mendorong ekspektasi masyarakat terhadap ibu kian besar. Bahkan, dorongan menjadi ibu serba bisa ikut memengaruhi mentalitas mereka terhadap ekspektasi dirinya sendiri.

Mental load terjadi karena kita [masyarakat] membenamkan diri pada ekspektasi itu, padahal sebenarnya kita bisa membagi dan mengatur tugas rumah tangga kalau kita sadar itu perlu dibagi,” katanya.
 
Di tengah aktivitas pekerjaan yang padat, kebanyakan ibu memilih jalan pintas untuk mendorong kualitas waktu bersama dibanding kuantitas. Padahal, kata Orissa, keduanya sama-sama penting. Menurutnya, selain membuat kedekatan yang berkualitas, ibu juga harus memiliki bare minimum quantity time di tengah keseharian yang sibuk.

“Kuantitas juga perlu untuk menjaga kualitasnya. Jadi sebetulnya, tidak bisa dirapel jadi seminggu sekali misalnya. Usahakan tiap hari ada spend waktu juga walau sebentar,” kata Orissa.
 
Dia menyebut, dalam waktu-waktu kedekatan yang sangat singkat, ibu bisa mengupayakan secara maksimal dengan memperbanyak kontak mata, sentuhan, dan komunikasi. Ibu juga disarankan tidak memanfaatkan quality time dengan banyak instruksi atau memberi koreksi, melainkan memilih mendengarkan apa yang menjadi keresahan dan momen bahagia anak setelah melewati hari yang panjang.

Hal ini bermanfaat untuk mendorong anak merasa aman, dicintai, hingga mendorong aktualisasi dirinya kedepan yang berdampak pada aspek kognitif, kesehatan mental, dan akademik.
 

Tak Panik Saat Anak Sakit

Ilustrasi anak (Sumber gambar: Aditya Romansa/Unsplash)

Ilustrasi anak (Sumber gambar: Aditya Romansa/Unsplash)

Salah satu masalah yang cukup mengganggu pikiran ibu saat bekerja adalah ketika menemui momen anak sedang sakit. Kesulitan dalam mengontrol pikiran dan rasa panik saat anak sakit kadang membuat ibu kalut saat menjalani hari kerja. Menurut Dokter Spesialis Anak RSIA Bunda Jakarta Dimple Nagrani, semua harus kembali pada perasaan tenang dan berpikir jernih. 

“Tarik nafas dulu, lalu pahami bahwa kita enggak perlu overthinking. Fokus kita adalah mengobati anak,” kata Dimple.

Ibu harus menyadari jika kepanikan bersumber dari pikiran. Maka menarik napas, tenang, dan merefleksi diri diperlukan untuk membuat ibu lepas dari cengkraman panik. Menurutnya, manusia memang bisa menempatkan panik sebagai langkah proteksi. Namun, ibu perlu meregulasi itu agar tak mengalahkan kesadaran dan bisa kembali fokus pada solusi menyembuhkan anak.
 
Dimple menyebut, ada fase saat anak akan ‘berkenalan’ dengan kuman. Bahkan hal ini sering terjadi setelah masa-masa ASI eksklusif berakhir. Biasanya, anak menghadapi fase sakit pada usia 1-4 tahun dikarenakan proteksi dari ASI yang dikonsumsi sehari-hari mulai berkurang, didorong dengan pola makan si kecil yang mulai berantakan.
 
Saat masa-masa anak ‘berkenalan’ dengan kuman ini, Dimple menyarankan ibu cukup memperhatikan poin-poin penting seperti memastikan anak tidak dehidrasi dan tidak sesak. “Perhatikan empat kunci utama, makan, minum, tidur, dan aktivitas. Apabila dari empat aspek ini ada yang terganggu maka sudah tandanya harus melakukan pengobatan di rumah sakit,” katanya.
 
Hal yang tak kalah penting, Ibu perlu memastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup, nutrisi yang berkualitas, dan menghindari gula. Dimple menyebut, gula bisa memberi efek inflamasi hingga pengentalan lendir pada kasus anak dengan penyakit flu. Ibu pun perlu mencari penyebab penyakit, di samping mengobati gejalanya.

Baca juga: Intip Kiat Pemberian ASI Eksklusif untuk Ibu Pekerja

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Daftar Harga Tiket Konser Bobby iKON di Balai Sarbini Jakarta 15 Maret 2024

BERIKUTNYA

Sinopsis Mad Max: Fury Road, Film Laga Duet Tom Hardy & Charlize Theron

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: