Ilustrasi ibu dan bayi (Sumber gambar: Kristina/Pexels)

Moms, Begini Cara Menjaga Nutrisi ASI Tetap Maksimal

02 February 2024   |   08:34 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah maraknya susu formula, mendorong peran ibu dalam menyusui kian digalakkan bagi para ibu. Sebab, pemberian ASI eksklusif memiliki manfaat besar bagi pertumbuhan dan kekebalan tubuh si kecil hingga dia beranjak dewasa.

Seiring dengan maraknya penggunaan susu pengganti ASI, UNICEF melihat terjadinya fenomena penurunan angka menyusui. Pada 2018, angka menyusui ibu berada pada kisaran 38,2 persen. Kemudian pada 2021, angkanya menurun lagi menjadi 28,6 persen.

Baca juga: Pentingnya Menjaga Nutrisi Selama Kehamilan Untuk Cegah Stunting
 
Padahal, ASI merupakan nutrisi eksklusif dengan memiliki kandungan protein dan karbohidrat tinggi yang berperan untuk perkembangan otak dan penyerapan kalsium dan mineral di masa awal kehidupan anak. 

Dokter Spesialis Anak RSIA Bunda Jakarta I Gusti Ayu Nyoman Partiwi berpendapat, turunnya angka menyusui terjadi karena multifaktor, mulai dari kurangnya dukungan lingkungan hingga peran tenaga medis yang masih perlu ditingkatkan untuk mendorong literasi terkait pentingnya pemberian ASI.
 
Dalam masa-masa pemberian ASI, seorang ibu mungkin merasa stress karena beragam hal, mulai dari ASI yang susah keluar hingga faktor kesibukan yang mendorong pemberian ASI eksklusif harus membutuhkan tenaga ekstra.

“Faktor kesibukan, aktivitas kerja membuat sebagian ibu kesulitan dalam melakukan pemberian ASI misal karena aktivitas kerja. Perlu diingat padahal ASI ini punya peran krusial utamanya di masa 6 bulan hingga 2 tahun kehidupan anak,” kata dokter yang akrab disapa Tiwi tersebut.
 
Menurut Tiwi, ibu dalam masa menyusui memang memerlukan usaha ekstra untuk memerah ASI di tengah padatnya aktivitas. Selain menghindari stress, ibu juga harus memberi perhatian khusus dalam memastikan hasil perahan ASI steril dan higienis.

Dalam keadaan tertentu, seorang ibu yang terganjal dengan aktivitas tertentu mungkin perlu melakukan pemerahan ASI dan menyimpannya di lemari es. Oleh karena itu, ibu harus memperhatikan bagaimana melakukan pemerahan dan menyimpan ASI yang baik dan benar.
 

Menjaga ASI dari Kontaminasi

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Yoga Devaera mengatakan, ibu perlu memperhatikan higienitas saat melakukan proses memerah ASI. Sebab, nutrisi pada ASI rawan rusak jika langsung terkontaminasi dengan zat tertentu. Bahkan, ASI bisa terkontaminasi bakteri patogen yang berpengaruh pada kesehatan si kecil.

“Risiko kontaminasi pada susu seperti ASI cukup besar, karena susu memang media yang sangat disukai bakteri,” katanya. 
 
Untuk memastikan nutrisi ASI terjaga, ASI yang hendak dibekukan sebaiknya diletakkan pada lemari es dengan suhu -20 derajat. Menurut Yoga, dengan suhu tersebut, daya tahan kandungan pada ASI bisa bertahan lebih lama mencapai 6 bulan.

Suhu dingin dapat meredam laju pertumbuhan bakteri jadi terhambat. Pembekuan ASI setelah proses perah ini penting untuk memastikan bayi tidak mengonsumsi ASI yang terkontaminasi bakteri. Perlu diingat, bayi berusia di bawah 1 tahun masih rentan karena imunitasnya belum terbentuk sehingga akan kesulitan memroses asupan yang terkontaminasi tersebut.
 
Selain memperhatikan proses saat memerah dan membekukan ASI, Yoga menyarankan para ibu juga wajib mencermati proses pencairan ASI saat hendak diberikan kepada si kecil. Ibu tidak disarankan melakukan pencairan ASI di suhu luar ruangan meski wadah yang digunakan pun sudah steril dari kontaminasi udara luar.

“Cara pencairan harus benar. Harus masih dalam suhu dingin sekitar 5 derajat celcius ke bawah,” kata Yoga.

Pada suhu tersebut, proses pencairan ASI mungkin memakan waktu cukup lama. Namun Yoga menyebut, suhu tersebut tergolong aman untuk memastikan nutrisi ASI tetap terjaga setelah proses pencairan.
 
Sebab, ASI memang tidak boleh mengalami perubaan suhu drastis yang akan mendorong hilangnya nutrisi di dalamnya. Saat sudah pada proses cair pun, ibu perlu memperhatikan bahwa ASI harus langsung dikonsumsi tidak melewat batas waktu 2 jam.

“Jika ingin melakukan pembagian ASI ke dalam beberapa wadah, harus dilakukan sejak awal. Artinya tidak boleh dicairkan lalu dibekukan lagi untuk konsumsi selanjutnya. Batasnya 2 jam setelah cair,” katanya.
 
Pada prinsipnya, makin banyak kandungan air dalam pangan maka risiko perkembangan bakterinya juga makin tinggi apabila tidak disimpan pada suhu yang tepat. Selain itu, para ibu juga harus memperhatikan jenis wadah yang digunakan untuk menampung dan membekukan ASI. Cemaran kimia dari bahan kemasan pun berisiko masuk ke cairan hasil perah ASI.

“Bisa saja cemaran kimia yang tidak diinginkan masuk ke ASI. Kadang pengemasan ASI juga sering dilupakan,” katanya.

Sebagai tambahan, hindari penggunakan plastik liner dan pastikan wadah ASI telah tersertifikasi aman (food grade) dan bebas dari kandungan Bisphonnol A (BPA) yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Baca juga: Faktor Penyebab ASI Ibu Sedikit, Ayah Ternyata Punya Peran Penting

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Yuk Simak! Begini Pandangan Analis Tentang Saham UMKM

BERIKUTNYA

Tren Gelang Berlian 2024, Elegan Minimalis dengan Detail Geometris

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: