pameran Liar mengungkai makna-makna simbolis dari gejolak politik Tanah Air lewat sudut pandang visual (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Pameran Liar, Refleksi Seniman Afriani x Sogik Prima Yoga pada Tahun Politik

31 January 2024   |   06:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Tahun 2024 merupakan periode dengan fenomena sosial politik yang beragam. Momen pemilu atau pesta demokrasi menjadi salah satu pemicunya di Indonesia. Sementara, lanskap geopolitik global juga mewartakan gejolak perang, yang turut mewarnai linimasa publik.

Seniman Afriani dan Sogik Prima Yoga coba merefleksikan kelindan tersebut lewat pameran Liar. Dihelat di D Gallerie, Jakarta, dua perupa dari generasi dan kultur yang berbeda itu, menginterpretasikan fenomena ini dari perspektif dan sudut pandang personal. 

Baca juga: Pameran Arcoolture & Gurat Karya Penuh Warna dari Seniman Muda

Memacak sekitar 30 objek lukisan, pengunjung diajak mengungkai makna-makna simbolis dari sudut pandang visual. Terutama, melalui pemilihan objek, artefak, hingga benda-benda yang memiliki metafora sebagai representasi realitas yang karib ditemui di masyarakat.

Lewat karya berjudul Nuansa Konspirasi (oil on canvas, 175x80 cm, 2023) misalnya, Afriani memvisualkan dinamika turbulensi politik jelang pemilu. Uniknya, objek di dalam lukisan ini dimetaforakan dengan berbagai hewan seperti kucing, anjing, dan tikus yang tengah melakukan rapat.

Dengan jeli, Afriani memilih berbagai ungkapan satire yang menggelitik sekaligus menukik. Terutama saat menggambarkan tiga sosok pria, berbadan manusia menggunakan jas necis dengan kepala binatang. Di depan mereka juga terdapat bidak catur dan bergepok-gepok uang untuk ijon politik.
 

Karya Afriani berjudul Nuansa Konspirasi (oil on canvas, 175x80 cm, 2023) dalam pameran Liar di D Gallerie (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Karya Afriani berjudul Nuansa Konspirasi (oil on canvas, 175x80 cm, 2023) dalam pameran Liar di D Gallerie (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Sosok sentral pada lukisan ini sengaja digambarkan dengan pria berkepala tikus, karena tikus selama ini diyakini sebagai binatang pengerat. Begitupun dalam konteks sosial politik, yang menyimbolkan sosok koruptor, yang menggerogoti kekayaan negara untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Tak hanya itu, dalam karya lain, sang seniman juga menghadirkan objek-objek binatang yang sarat akan nilai simbolis. Misalnya lukisan berjudul Srigala Berbulu Domba (oil on canvas, 70x100 cm, 2023) yang identik dengan akal bulus dan kebohongan, serta kerap dijumpai saat tahun-tahun pesta demokrasi.

Namun, berbeda dengan Afriani, perupa Sogik justru memilih figur-figur manusia dengan berbagai ekspresi, gerak, dan mimik wajah yang terdistorsi. Sapuan kuas yang bebas, ekspresif dan terkadang progresif seakan ingin menyiratkan spirit dari tema pameran dalam memvisualkan berbagai aktivitas objek yang digambar.

Misalnya dalam lukisan Kerah (acrylic on canvas, 120x100 cm) yang menampilkan dua kucing yang tengah berkelahi di atas papan catur. Sementara itu, di sekelilingnya tampak para manusia yang seolah menyoraki sembari minum kopi dan tertawa terbahak-bahak. Nuansa satire juga menyelimuti karya bertarikh 2022 itu.
 

Karya perupa Sogik dari kiri ke kanan,berjudul Euphoria dan Dewi Malam (acrylic on canvas, 150x100 cm, 2023) dalam pameran Liar di D Gallerie (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Karya perupa Sogik dari kiri ke kanan,berjudul Euphoria dan Dewi Malam (acrylic on canvas, 150x100 cm, 2023) dalam pameran Liar di D Gallerie (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Ada juga karya berjudul Euphoria (acrylic on canvas, 150x100 cm,2023) yang menggambarkan sekelompok orang hanyut dalam suasana hangat malam di bar. Lukisan ini secara visual juga merepresentasikan kisah yang cukup dinamis, di mana kelimun orang sedang menikmati hiburan di sebuah bar.

Sang seniman juga berhasil membuat komposisi objek dan pemilihan gestur lewat berbagai aktivitas dalam satu frame lukisan. Seperti sejoli yang berbincang hangat, seraya menghisap rokok dan memegang minuman, serta para musisi yang seakan lebur dalam pesta, dengan meniup terompet dan memetik cello. 

Kurator pameran Citra Smara Dewi mengatakan, ekshibisi Liar menjadi penting untuk dinikmati pada tahun politik. Sebab, kedua seniman berhasil menciptakan karya-karya terbaru yang lekat dengan isu-isu sosial yang tengah menggeliat dan dicerap mata dan telinga, baik lewat gawai, atau secara langsung.

Tak hanya itu, dengan latar belakang sosial yang berbeda, kedua seniman juga mampu menginterpretasikan tajuk pameran dengan keliaran masing-masing. Uniknya, proses tersebut dilakukan di tengah derasnya arus digitalisasi, terutama dengan adanya teknologi Artificial Intelligence atau AI.

"Kehadiran karya-karya Afriani dan Sogik, merupakan bukti bahwa karya seni Lukis mampu mengetuk getaran rasa dan menyentuh kedalaman sensibilitas," kata sejarawan sekaligus peneliti seni itu.

Baca juga: Respon Kisah Wong Cilik, Budi Ubrux Gelar Pameran Ratu Adil di Bentara Budaya Jakarta

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Mengintip Koleksi Busana Urban dan Leisure dari ESMOD Jakarta di UI Fashion Week 2024

BERIKUTNYA

Cerita Luna Maya Angkat Isu Hubungan Toxic dalam Serial CKCKCK Episode Cari Kaga

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: