MIWF 2024. (Sumber gambar: MIWF/Instagram)

Angkat Tema M/othering, Makassar International Writers Festival Siap Digelar Mei 2024

17 January 2024   |   13:46 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Salah satu agenda yang tak boleh terlewat oleh para pencinta sastra adalah Makassar International Writers Festival (MIWF) yang akan kembali digelar selama 4 hari pada 23-26 Mei 2024. Festival penulis tingkat internasional tahunan ini mengusung tema M/othering.

Mengutip akun Instagram resmi MIWF, tema tersebut diangkat mengingat kian penting dan mendesaknya percakapan perihal gagasan dan tindakan merawat atau mengasuh di tengah berbagai persoalan hidup masyarakat saat ini. Layaknya ibu sebagai sosok yang selalu merawat dan mengasuh anak-anaknya.

"MIWF 2024 ingin membuka, memfasilitasi, dan mengalami ruang aman bagi percakapan serta perayaan ide dan praktik perawatan, terutama yang memengaruhi, membentuk, dan menghidupkan beragam kelompok yang dipinggirkan," demikian tulis MIWF dikutip dari akun @makassarwriters.

Baca juga: Badan Bahasa Beri Bantuan Dana untuk Penguatan Komunitas Sastra

Dalam festival tersebut, nantinya akan dihadirkan ruang-ruang untuk kegiatan pertukaran gagasan dan pengalaman antarpenulis, pembaca, seniman, aktivis, akademisi, pegiat komunitas, dan publik dari berbagai latar belakang, mengenai care working.

Adapun, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, MIWF akan dilaksanakan dengan prinsip festival nir-sampah, inklusif, dan no all-male panel. "[Acara ini] diharapkan membantu kita untuk menemukan sejumlah alternatif pertanyaan dan jawaban dalam menghadapi masalah, baik dalam konteks lokal maupun global," tulis MIWF.
 

Tema M/othering yang diusung oleh MIWF 2024 diterjemahkan ke dalam sebuah ilustrasi karya Hirah Sanada. Ilustrasinya diberi nama dunia metaflora. Gambarnya terdiri dari elemen tanaman dan bunga-bunga berwarna-warni dengan konsep desain surealis. Memberikan sorotan terhadap vegetasi kecil namun tetap tumbuh seiring dengan makhluk hidup yang lain.

Selain itu, MIWF juga telah mengumumkan tiga nama yang akan menjadi kurator di festival tersebut. Mereka adalah Margareth Ratih Fernandez, A. Nabil Wibisana, dan Mariati Atkah. 

Margareth Ratih Fernandez adalah lulusan Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta asal Larantuka, yang saat ini bekerja sebagai editor lepas untuk beberapa penerbit dan media online. Dia adalah salah satu penggagas kolektif Perkawanan Perempuan Menulis dan ikut mengelola Sekolah Pemikiran Perempuan.

Baca juga: Profil S. Rukiah, Sastrawati Realis Humanis yang Disingkirkan Rezim

Ratih sesekali menulis baik fiksi maupun nonfiksi terkait isu-isu ketegangan identitas, gender, dan budaya pop. Karya dan hasil risetnya yang lain juga telah dimuat di beberapa buku, seperti kumpulan cerpen Tank Merah Muda, Berita Kehilangan, dan Kronik 65. Sementara itu, beberapa cerpen dan esai miliknya dapat dibaca di beberapa media online seperti Magdalene dan Bacapetra.

Sementara A. Nabil Wibisana ialah seorang pegiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Latar belakang pendidikan formalnya adalah Ilmu Hubungan Internasional dan Sastra Inggris. Selain menulis esai dan puisi, pria yang akrab disapa Abu ini juga menerjemahkan dengan minat khusus pada penerjemahan karya sastra Amerika kontemporer.

Buku terjemahannya antara lain Kuda Poni Merah (2019) dan Lembah Salinas (2022). Pada 2017, Abu terpilih sebagai salah satu emerging writer di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), Bali, termasuk mengikuti pelatihan instruktur literasi tingkat nasional tahun 2018 di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta. Kini, dia bekerja sebagai editor di Penerbit Dusun Flobamora, Kupang dan redaktur puisi di Bacapetra.co, Ruteng.
 



Adapun, Mariati Atkah adalah penulis yang kerap menulis puisi, esai, dan cerita anak. Dia merupakan emerging writer Makassar International Writers Festival (MIWF) 2013. Menjelang akhir tahun 2019, dia terlibat dalam residensi bertajuk Weaving Stories, program kemitraan Rumata’ ArtSpace dengan British Council Indonesia untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk baru tradisi penceritaan di Indonesia.

Dari program ini, terbit buku anak berjudul Tenri dan Kisah Jari-Jari (2020). Buku puisi tunggalnya yang berjudul Selama Laut Masih Bergelombang (2020) diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, dan menjadi salah satu nominasi Penghargaan Sastra kategori puisi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 2021. Saat ini, dia bermukim di Kota Ternate.

MIWF sendiri adalah festival penulis berskala internasional yang diselenggarakan oleh Rumata' Artspace sejak 2011. MIWF adalah salah satu festival literasi terbaik yang rutin digelar setiap tahunnya. MIWF telah meraih penghargaan International Excellence Award sebagai festival sastra terbaik 2020 dari London Book Fair.

Baca juga: Profil Joko Pinurbo, Sastrawan yang Raih Penghargaan Achmad Bakrie 2023

Tahun lalu, MIWF berlangsung pada 8-11 Juni 2023. Sederet program mulai dari pameran buku, perilisan karya, hingga diskusi dengan beragam tema sukses digelar. MIWF 2023 mengangkat tem Faith, sebagai pintu untuk membuka ruang percakapan tentang agama, kepercayaan, nilai, dan tujuan hidup manusia. 

MIWF 2023 dihadiri oleh sejumlah pegiat literasi mulai dari penulis, pegiat komunitas, penerbit, aktivis, hingga seniman diantaranya Dee Lestari, Faisal Oddang, Henry Manamping, Iksaka Banu, Intan Paramaditha, Ivan Lanin, Joko Pinurbo, M. Aan Mansyur, Mario F. Lawi, Riri Riza, dan Sabda Armandio. 

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Peluang Bisnis Baru, Agate Uji Coba Porting Gim ke iPhone 15 & Konsol

BERIKUTNYA

Keren! Begini Penerapan Teknologi IoT di Sektor Pertanian

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: