ilustrasi perjanjian kerjasama (sumber gambar : Sora Shimazaki/ pexels)

Jangan Terjebak Janji Manis Bisnis Waralaba dan Kemitraan, Perhatikan Hal-Hal Ini!

15 January 2024   |   17:14 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Bagi Genhype yang ingin memulai bisnis, bisa mencoba mengambil paket waralaba, kemitraan, dan peluang usaha (business opportunity) yang kini banyak ditawarkan sejumlah perusahan. Namun agar tidak terjebak janji-janji manis yang ditawarkan tersebut, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan.

Djoko Kurniawan, Ketua Umum Himpunan Kemitraan & Peluang Usaha Indonesia (HIKPI) mengatakan bahwa bisnis waralaba dan kemitraan memang sangat menarik terutama oleh kalangan anak muda, ibu rumah tangga, dan para pensiunan yang ingin memulai usaha.

Salah satu indikasinya terlihat dari antusiasme masyarakat yang mengikuti pameran waralaba dan kemitraan pada tahun lalu, dengan nilai transaksi yang sangat tinggi. Bahkan, menurutnya ada beberapa brand yang mampu mendapatkan hingga ratusan mitra baru hanya dalam 3 hari pameran. Pasalnya, bisnis waralaba dan kemitraan lebih mudah dijalankan

 “Hampir semua klien saya yang awalnya tidak berminat ikut pameran, akhirnya ketagihan karena mendapatkan banyak mitra setiap kali pameran. Jadi, bisa dikatakan bahwa bisnis franchise/waralaba, kemitraan, dan peluang usaha sangat enak dan berprospek sangat baik,” ujar DJoko yang juga merupakan konsultan di DK Consulting ini.

Baca juga: Tertarik Bisnis Franchise Hangry? Cek Dulu Modal, Syarat & Cara Daftarnya

Namun, besarnya antusiasme masyarakat yang tertarik berkecimpung dalam bisnis waralaba dan kemitraan ini rupanya  mendorong banyak pebisnis ‘jahat’ untuk ikut masuk ke dalam industri tersebut.

Menurut Djoko, para oknum pebisnis tidak bertanggung jawab tersebut banyak yang menjual 'janji manis’ kepada calon mitra yang belum paham dan hanya berniat mengambil keuntungan di awal karena mereka tidak benar-benar serius menjalankan bisnisnya.

“Bayangkan jika di pameran ada 20 calon mitra yang memberikan uang muka Rp5 juta, total pemasukan sudah Rp100 juta. Lalu saat calon mitra membatalkan kerja sama, maka uang hangus. Inilah yang banyak dilakukan 'pebisnis jahat' untuk mencari keuntungan,” jelasnya.

Hal ini tentu saja membuat para mitra merugi, yang pada akhirnya menimbulkan citra buruk pada bisnis franchise/waralaba, kemitraan, dan peluang usaha. Terlebih, cukup banyak di antara ‘oknum’ tersebut yang menggunakan istilah franchise atau waralaba saat menawarkan bisnisnya.

Padahal, berdasarkan Permendag No.71.2019, franchise atau waralaba merupakan hak khusus yang dimiliki oleh perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha, dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan/digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.

Oleh karena itu, dia mengingatkan para calon mitra yang hendak mengambil paket franchise, peluang usaha, dan kemitraan untuk lebih berhati-hati terhadap penawaran yang diberikan. Jangan mudah terpengaruh dengan janji surga yang tidak masuk akal. Misalnya, gratis franchise fee, gratis royalty fee, bisnis auto pilot, kontrak seumur hidup, balik modal cepat, dan janji-janji lainnya.

“Beberapa waktu lalu, kita melihat kasus outlet minuman teh yang banyak dituntut mitra karena janjinya ternyata bohong. Janjinya mitra dapat menjual 200 cup teh per hari tapi nyatanya hanya menjual 5 cup per hari,” tuturnya.

Untuk menghindari hal tersebut, Djoko mengingatkan masyarakat yang ingin membeli bisnis franchise/ waralaba, kemitraan, dan peluang usaha agar melakukan pengecekan secara mendalam dan jangan langsung percaya dengan analisa bisnis di atas kertas.

Adapun beberapa kiat ini dapat membantu calon mitra terhindar salah beli merek franchise/waralaba, kemitraan dan peluang usaha.
  • Kunjungi kantor pemilik usaha franchise/peluang usaha. Apakah benar-benar ada atau fiktif?
  • Datangi salah satu outlet milik franchisor/pemilik usaha. Amati, apakah customer yang datang sesuai dengan analisa bisnis atau tidak? Jangan percaya analisa bisnis dalam selembar kertas.
  • Temui salah satu franchisee/mitra yang sudah membuka usaha. Tanyakan pada mereka, apakah franchisor/pemilik usaha memberikan dukungan yang baik atau tidak. Pastikan jumlah pendapatan yang diperoleh setiap bulannya.
  • Tanyakan semua hal yang ingin diketahui kepada franchisor/pemilik peluang usaha. Dengarkan jawabannya dengan seksama, apakah meyakinkan atau tidak. Apakah mereka sabar dalam menjawab pertanyaan atau tidak.
  • Cek di internet, apakah brand yang akan akan dibeli dari franchisor/pemilik peluang usaha cukup kuat? Apakah ulasannya bagus atau tidak.


Kiat Membangun Brand Franchise

Sementara itu Gunawan, Senior Business Consultant dari SBM Consulting mengatakan bagi para pelaku usaha, skema bisnis kemitraan atau peluang usaha bisa menjadi tahap awal dalam mengembangkan bisnis sebelum masuk dan melabelkan bisnisnya sebagai franchise atau waralaba.

Namun demikian, dia mengingatkan para pelaku usaha tersebut untuk benar-benar menganalisa bisnisnya secara benar agar bisa memberikan keuntungan yang menarik bagi para mitranya. Jangan menawarkan peluang usaha atau paket kemitraan hanya untuk mencari keuntungan semata, tetapi harus benar-benar memperhatikan kondisi internal dan kondisi di lapangan, apakah sudah benar-benar layak ditawarkan kepada orang lain.

“Jangan sampai baru mulai bisnis, keuntungan belum terlihat, analisa bisnis belum ada tetapi sudah menawarkan peluang usaha kepada mitra dengan membawa istilah franchise. Hal itu akan memberi dampak negatif bagi para mitra yang merasa dibohongi dan membawa stigma buruk bagi bisnis franchise atau kemitraan ,” ujarnya. 

Baca juga: Tertarik Bisnis Kopi? Segini Biaya Franchise Fore Coffee

Begitu pula dengan para calon mitra harus benar-benar teliti dan melakukan pengecekan serta analisa terlebih dahulu jagar tidak dibohongi hanya dengan selembar kertas business plan dan janji manis yang ditawarkan oleh pemilik brand franchise.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Ternyata Ini Alasan yang Bikin Anak Muda Gemar Bertransaksi dengan E-Wallet

BERIKUTNYA

Menparekraf Meredam Kekhawatiran Pelaku Usaha Terkait Kenaikan Pajak Hiburan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: