Ilustrasi penggunaan kecerdasan buatan. (Sumber gambar : Freepik)

Waspada 3 Ancaman Penggunaan Teknologi AI pada 2024

01 January 2024   |   15:30 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Artificial Intelligence (AI) berkembang pesat selama 2023. Mulai dari ChatGPT yang bisa diakses banyak orang, pendeteksi risiko kanker paru, hingga merancang eksperimen fisika kuantum, semua menjadi inovasi kecerdasan buatan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan manusia.

Namun seiring waktu, penggunaan AI bisa saja disalahgunakan dan mengancam masa depan umat manusia. Mengutip LiveScience, berikut beberapa terobosan AI menakutkan yang mungkin terjadi pada 2024.


1. Q* (Q-star)

Di tengah kekacauan OpenAI, beredar rumor tentang teknologi canggih yang dapat mengancam masa depan umat manusia. Menurut laporan Reuters, perusahaan tersebut disinyalir membuat Q* (Q-star), perwujudan dari artificial general intelligence (AGI). 

AGI dikenal sebagai ‘Singularitas’, yang membuat AI lebih pintar dari manusia. Generasi AI saat ini terbilang masih tertinggal dalam bidang-bidang yang menjadi keunggulan manusia. Namun, para ilmuan khawatir dengan transformasi, memungkinkan AGI melakukan pekerjaan lebih baik di masa depan. 

Baca juga: Mengenal LDCT, Metode Skrining Kanker Paru Berbasis Kecerdasan Buatan

Teknologi ini bisa saja dijadikan senjata dan digunakan, seperti menciptakan patogen yang lebih kuat, melancarkan serangan siber besar-besaran, atau mengatur manipulasi massal. Diketahui, Sam Altman telah meletakkan dasar untuk AGI pada Februari 2023, dengan menguraikan pendekatan OpenAI terhadap AGI dalam sebuah postingan blog. 

Para ahli pun mulai memperkirakan terobosan yang akan terjadi, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang yang mengatakan pada  November lalu bahwa AGI akan tercapai dalam lima tahun ke depan.


2. Deepfake Untuk Curangi Pemilu

Salah satu ancaman dunia maya yang paling nyata saat ini adalah deepfake, yakni gambar atau video palsu yang menampilkan orang yang kamu kenal dengan tujuan pemerasan. AI diketahui dapat menghasilkan deepfake secara real-time, sehingga terkadang sulit membedakan antara mana yang asli dan palsu. 

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science pada 13 November 2023 mengungkap fenomena hiperrealisme, yaitu konten yang dihasilkan AI lebih cenderung dianggap nyata dibandingkan konten sebenarnya.  Hal ini membuat orang hampir tidak mungkin membedakan fakta dan fiksi dengan mata telanjang. 

Kendatipun ada alat yang dapat membantu orang mendeteksi deepfake, namun alat ini tersebut belum menjadi alat yang umum digunakan. Intel, misalnya, telah membangun detektor deepfake real-time yang bekerja menggunakan AI untuk menganalisis aliran darah. Namun menurut BBC, FakeCatcher, memberikan hasil yang beragam.

Seiring dengan semakin matangnya AI generatif, salah satu kemungkinan yang menakutkan yakni orang-orang dapat menggunakan deepfake untuk mencoba menggagalkan pemilu. Financial Times (FT) melaporkan, pemilu di Bangladesh yang akan berlangsung Januari 2024 diprediksi terganggu oleh deepfake

Saat AS bersiap untuk pemilihan presiden pada November 2024, ada kemungkinan bahwa AI dan deepfake dapat mengubah hasil pemungutan suara yang penting ini. Sayangnya banyak negara bagian tidak memiliki undang-undang atau alat untuk menangani lonjakan disinformasi yang disebabkan oleh AI.


3. Robot Pembunuh

Pemerintah di seluruh dunia semakin banyak yang memasukkan AI ke dalam alat peperangan. Pemerintah AS pada 22 November mengumumkan 47 negara bagian telah mendukung deklarasi penggunaan AI yang bertanggung jawab di militer dan pertama kali diluncurkan di Den Haag pada Februari tahun ini. 

Deklarasi ini dianggap diperlukan karena penggunaan yang tidak bertanggung jawab menjadi potensi yang menakutkan. Beberapa kasus sebelumnya muncul seperti penggunaan drone berbasis AI yang diduga memburu tentara di Libya tanpa campur tangan manusia.

AI dapat mengenali pola, belajar mandiri, membuat prediksi atau menghasilkan rekomendasi dalam konteks militer. Pada 2024, kemungkinan besar kita tidak hanya akan melihat AI digunakan dalam sistem persenjataan tetapi juga dalam sistem logistik dan pendukung keputusan, serta penelitian dan pengembangan. 

Baca juga: Pasar PC Masih Sepi, Produsen Mulai Lirik Fitur Kecerdasan Buatan

Pada 2022, AI menghasilkan 40.000 senjata kimia hipotetis yang baru. Berbagai cabang militer AS telah memesan drone yang dapat melakukan pengenalan target dan pelacakan pertempuran lebih baik daripada manusia. Menurut NPR, Israel juga menggunakan AI untuk mengidentifikasi target dengan cepat setidaknya 50 kali lebih cepat daripada manusia dalam perang Israel-Hamas terbaru. 

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Cek Jalur Alternatif ke Stasiun Tegalluar untuk Naik Kereta Cepat Whoosh

BERIKUTNYA

5 Oleh-oleh Bandung yang Wajib Ditenteng saat Liburan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: