Ilustrasi susu formula. (Sumber gambar : Freepik/Rawpixel)

Tegas! Pakar Sebut Susu Formula Tidak Bisa Atasi Stunting

21 December 2023   |   17:51 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Pemberian susu formula faktanya tidak bisa menyelesaikan stunting atau gizi buruk kronis. Sayangnya praktik pemberian bahkan pemasaran produk pengganti air susu ibu (ASI) ini terbilang agresif, tidak etis, dan melanggar Kode Internasional tentang Pemasaran Produk Produk Pengganti ASI (Kode).

Irma Hidayana, pendiri dan pengelola PelanggaranKode.org mengatakan stunting terjadi jauh sebelum anak lahir, yakni ketika anak di dalam kandungan bahkan awal pembuahan, hingga 1.000 hari pertama kehidupannya. Oleh karena itu, 1.000 hari pertama kehidupan anak sangat menentukan karena jikalau kekurangan gizi, akan menyebabkan gagalnya sel-sel yang terkait tumbuh dan kembangnya. 

Baca juga: Pentingnya Menjaga Nutrisi Selama Kehamilan Untuk Cegah Stunting

"Jika selama 2 tahun tidak mendapat asupan bergizi yang mencukupi kebutuhannya, maka dia kehilangan kesempatan," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (21/12/2023).

Bagi anak baru lahir hingga usia 2 tahun, kecukupan gizi busa diberikan dengan ASI eksklusif. Pada usia di atas 6 bulan, bisa dibantu dengan makanan penggangi ASI (MPASI) yang alami bukan pangan ultraproses atau kemasan. 

"Pemberian susu formula, apapun gimiknya, tidak akan bisa menyelesaikan masalah stunting. Itu yang dikatakan studi dari waktu ke waktu," tegas Irma.

Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Lovely Daisy mengatakan, di Indonesia, sekitar 18 persen anak lahir dengan stunting yang sangat tergantung pada kesehatan sang ibu. Angka stunting ini menurun saat pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Kendati demikian, naik pesat pada bayi di atas 6 bulan karena mendapatkan makanan pendamping ASI yang tidak sesuai nutrisi untuk bayi.

Untuk mengatasi masalah gizi ini, Kemenkes katanya menganjurkan bayi di atas 6 bulan atau balita sebaiknya diberikan pangan lokal yang bergizi sesuai Isi Piringku, bukan dalam bentuk susu formula. "Kita tidak menganjurkan pemberian dalam bentuk susu," sebut Lovely.

Ahli Gizi Tan Shot Yen menambahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bayi yang mengalami kondisi medis tertentu busa diberikan susu formula atau susu hewab. Namun pada usia 12-23 bulan, susu formula lanjutan tidak direkomendasikan. "Susu berperasa atau diberikan pemanis tidak dilanjutkan," tambahnya.

Sesuai rekomendasi WHO pula, produk susu adalah baguan dari keragaman asupan terutama bagu anak non ASI saat protein hewan lain tidak tersedia. Susu hewan yang dimaksud yakni yang dipasteurisasi, terevaporasi, dan terfermentasi atay yogurt. Namun yang pasti, Tan menegaskan susu pertumbuhan tidak boleh dipromosikan sebagai asupan anak usia dini.

Pemasaran Susu Formula Tidak Etis dan Langgar Regulasi.

PelanggaranKode.org hari ini menyerahkan laporan pemasaran susu formula tidak etis. Di dalamnya termasuk semua produk yang bisa menggantikan Air Susu Ibu (ASI) untuk anak usia 6 hingga 36 bulan.

Sejak didirikan pada tahun 2021 hingga saat ini terdapat 1,219 laporan pemasaran susu formula komersil yang diterima oleh PelanggaranKode.org. Dari total laporan yang masuk, 910 di antaranya terjadi di internet, seperti iklan di media sosial, penyelenggaraan webinar atau Instagram Live bertema kesehatan atau gizi ibu dan anak yang disponsori oleh produsen susu formula (211 laporan). 

Selain itu, banyak ibu yang melaporkan bahwa mereka telah dihubungi oleh tim pemasaran melalui akun media sosialnya. Perlu dicatat bahwa Kode melarang semua bentuk pemasaran atau promosi susu formula dan produk PASI lainnya di ruang-ruang publik, termasuk di dunia maya (internet). 

Melalui resolusi World Health Assemby (WHA) 58.32 (2005), Kode juga melarang adanya dukungan sponsorship untuk kegiatan-kegiatan yang terkait dengan program gizi dan kesehatan untuk ibu dan anak-anak yang bisa menimbulkan konflik kepentingan. Kode juga melarang siapapun yang mewakili industri susu formula menghubungi ibu baik secara langsung maupun tidak.

Banyaknya laporan pelanggaran Kode ini cukup mengancam keberlangsungan dan keberhasilan menyusui. “Pemasaran dan promosi yang tidak etis dapat memberikan pengaruh negatif terhadap keputusan perempuan untuk menyusui,” ujar Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar.

Pengaruh negatif yanh ditimbulkan seperti ibu dengan mudah memberikan formula bayi sebagai pengganti ASI. Akibatnya kesehatan dan kecukupan gizi anak-anak terancam karena formula bayi dan semua susu formula anak tidak memiliki kandungan gizi selengkap ASI. 

Susu formula menurutnya juga tidak mengandung zat kekebalan tubuh yang mampu melindungi anak dari berbagai penyakit. Padahal menyusui secara optimal adalah salah satu kunci meningkatkan kesehatan dan mencegah stunting.

Baca juga: 3 Layanan Kesehatan Preventif yang Krusial Bagi Ibu Hamil & Bayi

SEBELUMNYA

G-Dragon Resmi Berpisah dengan YG Entertainment, Siap Gabung Agensi Baru?

BERIKUTNYA

Film 13 Bom di Jakarta Bukti Sineas Indonesia Mampu Membuat Film Skala Besar

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: