Ilustrasi bayi sehat (dok. Freepik)

1.000 Hari Pertama Kehidupan Anak Kekurangan Gizi, Ini Dampaknya

29 June 2021   |   23:53 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Genhype tahu kan kalau periode yang paling berharga pada kehidupan seseorang terletak pada 1.000 hari pertama kehidupan. Yakni saat terjadi proses tumbuh kembang seorang anak. Tentu saja, tumbuh kembang ini termasuk di dalamnya adalah perkembangan otak.

Nah, apabila dalam 1.000 hari pertama itu asupan anak tidak dilengkapi dengan gizi yang cukup, maka akan ada dampak yang sangat merugikan dalam masa kehidupannya mendatang.

Ketua Satgas Stunting Ikatan Dokter Anak Indonesia dr. Hartono Gunardi menerangkan pada jangka pendek, anak akan mengalami perkembangan otak yang tidak optimal, begitu pula pertumbuhan fisik serta perkembangan organ metabolik. 

Sementara pada jangka panjang, kemampuan kognitif anak akan menurun, tubuhnya pendek alias stunted. Ditambah lagi timbulnya beragam penyakit seperti hipertensi, diabetes, obesitas, sakit jantung, hingga stroke. 

Hartono menyebut saat ini pemerintah dan semua pihak berupaya agar anak-anak mendapatkan periode emasnya itu dengan baik. Salah satunya dengan mencegah risiko stunting alias gangguan pertumbuhan dan perkembangan karena malnutrisi kronis (menahun), infeksi kronis, dan stimulasi psikososial tidak memadai. 

“Stunting ditandai dengan tinggi atau panjang badan yang kurang dari 2 standar deviasi median kurva pertumbuhan WHO. Kalau anak pendek disebabkan malnutrisi, atau ada penyakit menahun, dikategorikan stunting,” ujarnya dalam diskusi virtual, Selasa (29/6/2021).

Sudah jelas, penyebab stunting paling utam adalah kekurangan asupan zat gizi seperti maskronutrien dan mikronutrien. Kedua, adalah infeksi menahun seperti tuberkulosis (TBC), hingga adanya gangguan penyerapan yang menyebabkan diare. 

“Satu lagi, kalau anak-anak tidak dapat kasih sayang, stimulasi yang tidak baik, dia bisa mengalami malnutrisi,” tutur Hartono.

Dia menjelaskan, dalam pemeriksaan berkala, apabila anak mengaamu tinggi atau panjang kurang dari 2 standar deviasi WHO, ibu perlu memastikan apakah itu stunting karena malnutrisi atau penyakit kronik dengan bertanya angsurnya kepada tenaga kesehatan yang memerksanya di puskesmas. 

Adapun dalam menentukan stunting, tenaga keseahan perlu mengukur berat badan terhadap umur, tinggi badan terhadap umur, berat badan terhadap tinggi badan, termasuk ukuran lingkar kepala. 

Hartono menyebut apabila hasilnya malnutrisi, ibu harus mengejar pertumbuhan anak dengan mencukupi nilai gizinya. Sementara apabila anak didiagnosis stunting karena penyakit kronis seperti TBC, ibu harus segera mengobati penyakt yang mendasari tersebut. 

“Asupan gizi juga perku diatasi, tentu dengan stimualasi. Untuk keluarga, pertumbuhan dan perkembangan tetap dipantau setiap bulan,” paparnya.


Editor: Roni Yunianto

SEBELUMNYA

Campuran Dosis Vaksin AstraZeneca & Pfizer Bikin Imun Kuat, Kok Bisa?

BERIKUTNYA

Wah! Loki akan Hadir di Gim Fortnite Mulai Juli 2021

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: