Role Confusion

Pola Asuh Tepat Turut Membentuk Konsep Diri pada Remaja

19 December 2023   |   09:43 WIB

Pada masa remaja awal, krisis identitas secara umum dialami oleh sebagian orang. Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benak, seperti: Mengapa aku dilahirkan ke dunia? Apa aku bisa menjadi apa yang orang tuaku harapkan? Apa yang akan kulakukan untuk hidupku ke depannya?.

Tahukah Genhype, apabila pergumulan emosional ini kerap kali terjadi dalam perkembangan mental manusia, yang disebut sebagai fase role confusion. Krisis identitas ini menjadi penting untung dibahas karena usia remaja awal adalah masa yang penting untuk menemukan jati diri.

Seorang remaja harus mampu menjawab ketika dihadapkan dengan pertanyaan yang menggugah tersebut di atas. Mereka harus memiliki gambaran tentang kapabilitas dan kemampuan dirinya sendiri serta peranannya dalam lingkup sosial.

Tentunya, mengenali konsep diri tidaklah mudah. Faktanya, banyak sekali remaja saat ini justru kehilangan arah dan tidak memiliki kendali atas dirinya dalam masa pencarian jati dirinya. Lantas, apa saja faktor yang melatarbelakangi hilangnya arah remaja dalam usahanya untuk mencari jati dirinya? dan apa saja hal yang dapat dilakukan untuk mendorong remaja menemukan identity achievement

Baca juga: Awas Perangkap Toxic Parenting, Begini Cara Memutusnya?
 
Dalam teori Erik Erikson berjudul Erikson's Stages of Human Development, psikolog tersohor asal Jerman ini menjelaskan bahwa pada kehidupan manusia dibagi menjadi 8 tahap di mana pada masa remaja awal, mereka akan dihadapkan konflik emosional identity versus role confusion. (Kalat, 2017).

Dalam setiap tahapan, individu dihadapkan dengan konflik sosial dan emosional yang harus diselesaikan. Pada tahap ini, remaja perlu mengembangkan rasa percaya diri tentang bagaimana memandang sifat, keyakinan, tujuan dirinya di dunia ini, dan identitas personalnya.

Keberhasilan melawan gejolak emosional tersebut akan mengarah pada kemampuan individu untuk tetap setia pada diri sendiri, memahami arah dan tujuan hidupnya serta mengetahui langkah apa saja yang akan diambil ke depannya. Inilah yang disebut sebagai identity achievement.

Sementara kegagalan mengarah pada rasa diri yang lemah, tidak memiliki arah maupun tujuan hidup, dan bingung akan perannya dalam lingkup sosial. Kondisi mental itu yang dinamakan role confusion.
 
Dalam upaya seseorang untuk mencapai identity achievement, peran orang tua sangat penting untuk mendukung serta memberikan pemahaman akan keyakinan anak dalam setiap keputusan yang diambil. Pola pengasuhan orang tua menjadi faktor utama yang mempengaruhi pembentukan identitas yang sukses melalui mendorong, memfasilitasi, dan memotivasi remaja dalam mencari jati diri dan dan kemandirian.

Dalam Teori Diana Baumrind tentang parenting styles, psikolog klinis AS ini mengungkapkan ada 4 jenis parenting styles yang telah menggabungkan dua dimensi dasar perilaku orang tua (warmth versus hostility dan restrictiveness versus permissiveness), yaitu pola pengasuhan authoritative, (otoriter) pola pengasuhan authoritarian (otoriter), pola pengasuhan indulgent (permisif), dan pola pengasuhan neglectful (uninvolved) (Passer & Smith, 2011).

Gaya parenting akan memengaruhi banyak aspek dari perkembangan anak, seperti cara berpikir dan bertindak, bagaimana berperilaku yang benar, cara menangani masalah, serta cara bertanggung jawab. Semuanya akan dipengaruhi oleh pola didik orang tua (Gustiana, 2023).

Tentunya, hal ini juga akan berdampak pada proses anak dalam mencapai identity achievement dan juga mengembangkan pola kelekatan anak. Melalui observasi yang dilakukan oleh psikolog AS, Mary Ainsworth mengungkapkan teori tentang 4 tipe kelekatan anak, yaitu securely attached children, anxious children, avoidant children dan disorganized children.

Ketiga teori yang diungkapkan oleh Erik, Baumrind, dan Mary memiliki keterkaitan satu dengan yang lain yang menjadi latar belakang apakah remaja awal akan sukses mencapai identity achievement atau justru hilang arah saat prosesnya mencari jati diri.

Orang tua yang otoritatif menggunakan wewenangnya sebagai orang tua secara sadar dan bertanggung jawab (Christina, 2021). Apabila seorang anak diasuh oleh orang tuanya menggunakan pola pengasuhan authoritiative dengan memberikan kontrol, peraturan, tuntutan yang tinggi juga hukuman. Di sisi lain, ada apresiasi, hadiah, pujian, dan penghargaan atas keberhasilan yang diraih serta mengomunikasikan dengan baik pendapat anak maupun pengasuh. Pola asuh ini akan membuat anak tersebut mengembangkan tipe kelekatan securely attached children.

Setelah anak-anak yang dibesarkan melalui pola pengasuhan authoritiative mengembangkan tipe kelekatan securely attached, maka pada masa remaja awalnya ketika dihadapkan dengan konflik psikososial identity vs role confusion, dia akan cenderung untuk lebih mudah mencapai identity achievement.

Seperti penelitian yang dilakukan oleh (Tizazu et al., 2019) terhadap 196 murid perempuan dan 177 murid laki-laki di Kota Debre Marqos, Ethiopia, mengemukakan temuannya bahwa kepercayaan dan keyakinan orang tua mengenai pola asuh yang diikuti dengan pelaksanaan yang tepat, aspirasi dan ekspektasi adalah faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan remaja awal dalam mencapai identity achievement. 

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa pola asuh authoritiative dan authoritarian secara signifikan menunjukkan bahwa kemungkinan adanya keberhasilan dalam mencapai identity achievement. Hal ini berarti remaja yang diasuh melalui pola pengasuhan yang mengontrol dan membatasi anak akan mengembangkan rasa keinginan untuk eksplorasi dan berkomitmen terhadap tujuan pribadi mereka di masa depan.

Orang tua yang hangat, mendukung, dan memberikan kepercayaan kepada anak akan mendorong mereka untuk memiliki hasil perkembangan yang positif. Sehubungan dengan temuan penelitian ini, diduga bahwa orang tua yang memberikan hubungan yang paling mendukung dan penuh kasih sayang akan menghasilkan remaja yang memiliki tipe kelekatan yang aman sehingga mampu untuk berprestasi.
 
Selain pola pengasuhan, kondisi lingkungan juga menjadi faktor keberhasilan apakah individu mampu mencapai identity achievement. Anak secara aktif akan selalu menerima pandangan dan masukan dari lingkungan sekitarnya yang mampu mempengaruhi bagaimana anak menginterpretasikan dirinya sendiri dan memandang dunia.

Lingkungan yang positif dan mendukung dapat membantu anak mengembangkan identitas diri yang kuat dan sehat. Sebaliknya, lingkungan yang negatif dan tidak mendukung dapat memengaruhi anak secara negatif dan bahkan dapat menyebabkan masalah dalam perkembangan identitas diri mereka (Ndeot, 2023).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Tesfaye, 2018), dapat disimpulkan bahwa remaja yang memiliki dukungan sosial yang lebih tinggi memiliki tingkat identity achievement yang lebih tinggi. Sumber dukungan termasuk keluarga, teman sebaya dan orang lain tampaknya memiliki pengaruh terbesar dalam pembentukan rasa identitas yang kuat.

Setelah kedua faktor yang sebelumnya sudah disebutkan, diri sendiri juga menjadi faktor terkait yang mempengaruhi tingkat keberhasilan individu mencapai identity achievement. Melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh (Kaur & Tung, 2019), pembentukan identitas bukanlah proses yang hanya rasional dan sadar; ini juga melibatkan proses reflektif diri yang merefleksikan nilai, pandangan, dan keyakinan intrapersonal.

Keyakinan dan kepercayaan akan diri sendiri bahwa kita mampu untuk menjadi seseorang yang berharga dan mampu mengemban tugas dalam menjalankan peran sosial. Contohnya, seorang remaja yang memiliki rasa kepercayaan diri akan lebih mampu dalam menjalankan peran sosialnya baik di sekolah maupun di tengah masyarakat, dia akan menjadi pribadi yang menonjol secara positif yang mampu menginspirasi orang lain. 

Baca juga: Pengaruh Gaya Parenting Otoritatif pada Generasi Z, Inspirasi Pola Asuh Kekinian
 
Pengembangan identitas diri menuju identity achievement merupakan salah satu fase tumbuh kembang remaja yang sangat penting karena mampu berdampak ke dalam fase-fase hidup berikutnya. Sebagai peran utama dalam kehidupan anak, hendaknya orangtua lebih memperhatikan dan mengevaluasi pola pengasuhan yang selama ini telah dijalani, apakah sejauh ini pola pengasuhan yang ditanamkan mampu mendukung tumbuh kembang anak terutama pada masa usia remajanya agar mampu mencapai identity achievement.
 
Daftar Pustaka
Christina, S. (2021, August 26). 4 Gaya Pengasuhan dan dampaknya pada karakter anak. Mommiesdaily.Com. https://mommiesdaily.com/2021/08/26/4-gaya-pengasuhan-dan-dampaknya-pada-anak/)
Gustiana, I. (2023, September 27). Jenis pola didik orangtua dan pengaruhnya terhadap anak! Bebeclub.Co.Id. https://bebeclub.co.id/artikel/ibu-perlu-tahu/2-tahun/pola-didik-orang-tua-dan-pengaruhnya-terhadap-anak
Kalat, J. (2017). Introduction to Psychology (Eleventh). Cengage Learning.
Kaur, M., & Tung, S. (2019). Cognitive reasoning processes and identity achievement: mediating role of identity processing styles. Pakistan Journal of Psychological Research, 34(3), 457–476. https://doi.org/10.33824/PJPR.2019.34.3.25
Ndeot, F. (2023, December 14). Faktor yang mempengaruhi perkembangan identitas diri anak. Paudpedia.Kemdikbud.Go.Id. https://paudpedia.kemdikbud.go.id/berita/faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan-identitas-diri-anak?do=MTUzNi1lODEzNzNiZA==&ix=NDctNGJkMWM0YjQ=#
Passer, M., & Smith, R. (2011). Psychology?: The science of mind and behaviour (fifth). McGraw-Hill.
Tesfaye, Y. (2017). The Role of Social Support and Demographic Variables in Promoting Identity Achievement: the case of college students in Gondar, Amhara Region, Ethiopia. American Journal of Applied Psychology, 6(6), 173. https://doi.org/10.11648/j.ajap.20170606.16
Tizazu, S. A., Demeke, ;, & Ambaye, W. (2019). The Mediating Role of Parental Attachment in the relationship between Parenting Styles and Identity Achievement among Secondary and Preparatory School Students. In Bahir Dar j educ (Vol. 19, Issue 1).

Disclaimer: Semua informasi dan kutipan dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis yang bersangkutan.
 
Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Debut Streaming Gran Turismo Langsung Melesat ke Top 5 Netflix

BERIKUTNYA

MV Born to Be Disambut Antusias Penggemar Itzy

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: