Ilustrasi perilaku konformitas (Sumber gambar: Unsplash/Akson)

Fenomena Konformitas Generasi Z, Apa Itu?

11 December 2023   |   21:00 WIB
Image
Stephanie Ludya Emmanuela Elim Mahasiswa Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

Like
Kata konformitas tentu masih jarang diketahui oleh masyarakat umum. Namun, tahukah kalian bahwa konformitas adalah perilaku yang sering dilakukan, terutama bagi generasi Z? Yuk, simak artikel ini.

Secara umum kecenderungan individu untuk menyesuaikan perilaku, keyakinan, atau sikap mereka dengan apa yang dianggap sebagai norma atau harapan dalam suatu kelompok atau lingkungan sosial tertentu, disebut sebagai konformitas atau conformity.

Baca juga: Dilema Mengelola Keuangan pada Era Digital, Gen Z Wajib Perhatikan Kiat Ini

Menurut Myers (2012), konformitas adalah perubahan perilaku akibat tekanan dari kelompok tertentu sehingga selaras dengan orang lain agar tidak dikritik dan dijauhi. Fenomena ini sering terjadi dikalangan generasi Z. Konformitas pada generasi Z menggambarkan bagaimana mereka cenderung menyesuaikan diri dengan tren, gaya hidup, atau norma yang dianggap penting dalam lingkungan sosial atau melalui pengaruh media sosial. Hal ini sering kali memengaruhi cara mereka berinteraksi, berpakaian, dan bahkan mengartikan nilai-nilai atau kesuksesan dalam hidup

Dorongan konformitas dalam generasi Z membawa implikasi ganda yang mencakup aspek positif dan negatif. 
 
  • Sisi positif konformitas
Konformitas positif pada generasi Z memiliki dampak dalam pembentukan relasi sosial yang erat dan solidaritas di antara mereka. Melalui konformitas positif, generasi Z mampu menciptakan lingkungan yang inklusif, mendukung, dan empatik di antara teman sebaya mereka. Ini memperkuat rasa kebersamaan serta mempromosikan kolaborasi dalam mengatasi masalah atau mengadvokasi perubahan positif di lingkungan mereka.

Dalam konteks positif ini, konformitas juga dapat berperan sebagai alat untuk membangun norma-norma sosial yang sehat. Generasi Z menggunakan konformitas ini untuk memperjuangkan nilai-nilai yang dianggap penting, seperti keberlanjutan, kesetaraan, dan inklusivitas, menciptakan gerakan yang berdampak positif dalam masyarakat mereka. Hal ini menunjukkan bahwa konformitas, ketika diarahkan ke arah yang benar, mampu menjadi kekuatan sosial yang mempersatukan dan membangun komunitas lebih baik.
 
  • Sisi negatif konformitas 
Konformitas negatif pada generasi Z membawa konsekuensi yang cukup signifikan. Tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar atau tren yang dipersepsikan oleh lingkungan sosial atau media sering kali menghalangi kemampuan mereka untuk mengekspresikan diri secara autentik. Hal ini dapat mengakibatkan penekanan terhadap identitas individu dan membatasi kemungkinan mereka untuk mengeksplorasi minat, aspirasi, atau ide-ide yang mungkin berbeda dari mayoritas.

Pada kasus yang lebih parah, konformitas negatif dapat memicu perasaan kurang percaya diri atau kecemasan sosial. Generasi Z dapat merasa terjebak dalam upaya untuk terus memenuhi ekspektasi orang lain, sehingga mengorbankan kebebasan berekspresi atau membuat keputusan yang sebenarnya ingin mereka lakukan. Ini bisa berdampak pada kesehatan mental mereka dan menghambat pertumbuhan pribadi serta pengembangan identitas yang kuat.

Selain itu, adapun pengaruh buruk seperti perilaku merokok yang semakin meluas di kalangan generasi Z menyebabkan banyak individu terjebak dalam kebiasaan yang merugikan, yaitu bagi kesehatan mereka. Ketika terlibat dalam perilaku negatif ini, sebagian dari mereka mungkin merasakan tekanan sosial atau mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitar yang mendorong penggunaan tembakau sebagai sesuatu yang umum atau diterima secara sosial.

Ini menjadi contoh nyata bagaimana konformitas dapat membawa dampak negatif bagi kesejahteraan individu, terutama di lingkungan yang mungkin memberi penekanan pada kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat.

Oleh karena itu, penting untuk membuka dialog dan ruang yang mendukung bagi generasi Z agar dapat menghormati keunikan satu sama lain tanpa merasa terpaksa untuk selalu berusaha menyesuaikan diri dengan standar atau ekspektasi yang tidak selalu mewakili siapa mereka sebenarnya.
 
Kesimpulannya, konformitas dapat memperkuat hubungan sosial, namun menjadi terlalu terikat pada ekspektasi sosial juga berpotensi menghambat kreativitas, kebebasan berekspresi, serta kemampuan untuk menyuarakan pandangan yang berbeda. Sehingga pentingnya kemampuan pengendalian diri agar tetap beradaptasi sesuai takarannya, memperhitungkan antara pengaruh baik dan buruk agar tetap mempertahankan identitas serta kebebasan berekspresi pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa keautentikan diri harus dihormati dan dilestarikan, sambil tetap memahami pentingnya interaksi sosial yang sehat.

Baca juga: Diminati Gen Z, Ikuti Cara Berlatih Tinju Efektif Menurut Profesional
 
Referensi:
David Guy Myers, & Jean Marie Twenge. (2021). Social Psychology (14th ed.). McGraw Hill. 

SEBELUMNYA

Hypereport: Tren Bisnis 2024, Peluang Cuan Tahun Politik & Personalisasi Produk Jadi Kunci

BERIKUTNYA

Hypereport: Upgrade Cip, Kamera & Fitur AI Bakal Jadi Tren Gawai Pintar 2024

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: