Penyakit Jantung (Sumber Foto: Freepik)

5 Fakta dan Mitos Penyakit Jantung yang Tidak Hanya Menyerang Lansia

29 November 2023   |   21:44 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Penyakit jantung selalu menjadi perhatian di dunia kesehatan. Berdasarkan data Kemenkes RI, kardiovaskular menjadi penyebab kematian terbanyak kedua di Indonesia yang menyumbang total 14,42 persen kematian. Selain itu, dari data BPJS Kesehatan 2021, dalam hal pengobatannya juga memakan biaya terbesar yang mencapai Rp7,7 triliun.

Sally Aman Nasution, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), menyoroti serangan jantung yang tidak lagi dialami oleh kelompok lansia. Usia remaja sampai dewasa muda juga memiliki risiko yang sama besarnya.

“Serangan jantung terjadi akibat adanya penumpukan plak di pembuluh darah atau koroner jantung, dampak paling parah adalah kematian," katanya. 

Baca juga: 5 Manfaat Menari yang Bisa Bikin Bahagia hingga Meningkatkan Kesehatan Jantung

Penumpukan plak akan menyumbat pembuluh darah koroner yang bertugas mengalirkan darah menuju organ jantung. Apabila kerja pembuluh darah ini terganggu, maka aliran darah menuju jantung bisa terhenti dan kematian sel otot jantung akan terjadi. 

Bicara soal penyakit jantung dan serangan jantung, seringkali dikaitkan dengan sejumlah mitos yang beredar di masyarakat. Beredarnya mitos-mitos tersebut membuat orang-orang khawatir dan salah kaprah mengenai penyakit tersebut.

Nah Genhype, yuk simak sejumlah mitos dan fakta mengenai penyakit jantung.
 

1. Penyakit Jantung Hanya Menyerang Lansia

Penyakit jantung hanya menyerang lansia, itu hanya mitos. Sebelumnya Sally mengatakan bahwa kondisi ini bisa saja menyerang kelompok usia muda. Hal tersebut tak lepas dari gaya hidup mereka yang tidak sehat serta minimnya aktivitas fisik.

"Data yang dikumpulkan dari 1998 - 2018 menunjukan bahwa orang-orang 18 tahun ke atas, makin lama aktivitas fisiknya makin sedikit karena banyak menghabiskan waktu di depan komputer," jelasnya.

Pandemi Covid-19 mengubah gaya bekerja sejumlah perusahaan. Mereka bisa menyelesaikan tugas dari jarak jauh dengan WFH (Work From Home) tanpa perlu ke kantor. Tentunya ini sangat memudahkan, tapi di sisi lain tidak baik untuk kesehatan.

"Kegiatan yang terlalu lama di depan layar seperti itu bisa melemahkan sistem metabolisme tubuh. Kurangnya gerak tubuh bisa meningkatkan berbagai masalah kesehatan yang berakhir ke risiko jantung," tambahnya.
 

2. Mandi saat Berkeringat Memicu Serangan Jantung

Setelah olahraga dan beraktivitas berat, kalian pasti ingin segera mandi. Namun, mitos yang beredar, mandi dalam kondisi tubuh berkeringat bisa memicu serangan jantung. Apakah benar demikian?

"Sebetulnya, enggak ada hubungannya mandi saat berkeringat langsung memicu serangan jantung, poinnya bukan pada mandi dan berkeringat tapi pada aktivitas yang berat itu," katanya.

Setelah olahraga dan aktivitas berat tubuh perlu kembali ke suhu normal. Saat kelelahan, jantung akan berdetak kencang, suhu tubuh meningkat, dan pembuluh darah melebar. Mandi dalam kondisi tersebut tentunya sangat berisiko, lebih baik tunggu sampai tubuh kembali ke kondisi normal.
 

3. Wanita tidak akan Terkena Penyakit Jantung

Pria lebih berisiko terkena penyakit jantung daripada wanita. Terlebih jika mereka menerapkan gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan pola makan berlebih yang memicu obesitas, hipertensi, kolesterol, serta masalah kesehatan lainnya. Namun, bukan berarti wanita tidak akan terkena penyakit jantung.

"Wanita selama masih masa reproduksi lebih kecil kemungkinan untuk sakit jantung, kalau sudah menopause maka peluangnya sama seperti pria," kata Sally. 

Hal ini karena wanita memiliki hormon estrogen yang tinggi dibandingkan dengan pria. Selain fungsinya untuk menjaga kesuburan dan mengatur siklus haid, hormon estrogen juga berfungsi melindungi pembuluh darah.
 

4. Altet Punya Peluang Kecil kena Serangan Jantung

Kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa atlet yang memiliki fisik bugar dan menerapkan gaya hidup sehat justru bisa mengalami serangan jantung. Sebut saja sejumlah atlet yang meninggal karena serangan jantung, seperti Markis Kido (bulu tangkis), Ricky Yacobi dan Eri Irianto (sepak bola).

"Atlet biasanya memiliki jantung berukuran lebih besar dari orang biasa, karena organ tersebut harus bisa mencukupi oksigen untuk aktivitas berat," kata Sally.

Oleh karena itu, atlet biasanya punya tim medisnya sendiri untuk melakukan pengecekan berkala. Mereka akan memantau supaya atlet melakukan aktivitas yang sesuai dengan kapasitas tubuhnya. Karena olahraga berlebihan bisa membebankan lebih banyak tekanan pada jantung.

Saat melakukan aktivitas berat, dikhawatirkan terjadi iskemia yakni kondisi ketika aliran darah menuju organ atau jaringan tertentu tidak tercukupi karena pembuluh darah mengalami gangguan.
 

5. Sering Begadang Memicu Serangan Jantung

Kebiasaan begadang juga sering dikaitakan dengan serangan jantung. Namun, poin utamanya bukanlah begadang, melainkan kurangnya jam tidur. Memang ada beberapa situasi dan kondisi yang membuat kita terpaksa untuk begadang, baik karena bekerja atau mengurus anak.

"Boleh saja begadang sesekali, tapi jam tidur tetap harus dipenuhi, karena pada waktu tidur sel-sel tubuh beregenerasi memperbaiki sel-sel yang rusak," ujarnya.

Baca juga: Gejalanya Mirip, Ketahui Perbedaan Sakit Mag dan Serangan Jantung

Hormon adrenalin, tekanan darah, dan detak jantung yang harusnya turun jadi naik kalau sering begadang, inilah yang meningkatkan risiko serangan jantung bahkan penyakit metabolik lainnya. Selain itu saat sedang tidak tidur, orang-orang bisa mengonsumsi makanan tidak sehat, minum kopi berlebihan atau merokok. 

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Cek Ketersediaan Kereta Api Buat Libur Natal dan Tahun Baru

BERIKUTNYA

Tren Wisata Kapal Pesiar, Siapin Bujet Segini Kalau Mau Ikut Berlayar

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: