Kemeriahan Gala Dinner KTT ke-43 Asean yang berlangsung di Jakarta, Rabu (6/9/2023). (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Arief Hermawan P)

Hypereport: Menata Jakarta Sebagai Kota Pariwisata Jelang Perpindahan IKN

26 November 2023   |   21:00 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Sejak dulu Jakarta merupakan ibu kota Negara Republik Indonesia dan menjadi rumah bagi 10 juta orang lebih dari berbagai latar belakang kelompok etnis. Jauh sejak Proklamasi Kemerdekaan RI pada 1945 lalu, Jakarta telah menjadi pusat kegiatan politik dan pemerintahan, kemudian diresmikan sebagai Ibu Kota Negara pada 1966.

Jakarta juga bersinar sebagai destinasi pariwisata yang sukses mendatangkan wisatawan domestik dan mancanegara setiap tahunnya. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta, jumlah kunjungan wisatawan ke obyek wisata unggulan di Jakarta sepanjang 2020-2022 mencapai 26,7 juta orang.

Baca juga laporan terkait:
1. Hypereport: Memantapkan Jakarta Sebagai Kiblat Kota Kreatif
2. Hypereport: Mengawal Transisi & Transformasi Jakarta Menuju Kota Global
3. Hypereport: Perjalanan Jakarta Menuju Smart City Meski Tak Lagi Ibu Kota Negara

 

Sementara jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Jakarta pada 2022 mencapai 935 ribu orang. Jumlah tersebut merupakan 17 persen dari 5,4 juta turis yang datang ke Indonesia.

Obyek wisata yang diminati mulai dari Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Ragunan, Monumen Nasional, Museum Nasional, Museum Satria Mandala, Museum Sejarah Jakarta, dan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Kunjungan wisatawan berkontribusi besar dalam menggerakkan roda perekonomian dan memberdayakan pelaku UMKM sekitar. Nantinya pun setelah tidak menjadi ibu kota lagi, Jakarta diharapkan akan tetap bersinar dengan julukannya sebagai kota pariwisata.

Chusmeru, Pengamat Pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto memaparkan bahwa perpindahan ibu kota Indonesia ke Titik Nol Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara Kalimantan Timur tidak akan mempengaruhi posisi Jakarta sebagai kota pariwisata.

“Perpindahan ke IKN hanya untuk urusan yang bersifat politis dan pemerintahan, substansi pariwisata Jakarta tidak akan dibawa sehingga bisa tetap punya nilai jual,” ujarnya.

Adapun untuk semua kegiatan bisnis dari berbagai sektor yang beroperasi di Jakarta masih akan tetap ada, sehingga aktivitas dan kesibukan di kota tersebut masih tetap sama. Namun, dengan begitu artinya Jakarta akan bersaing dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Bandung, Medan, Yogyakarta, yang juga unggul dalam hal pariwisata.

“Sisanya adalah tugas untuk Kemenparekraf dan Dinas Pariwisata Jakarta untuk rebranding Jakarta walaupun tanpa embel-embel Ibukota dan memperkenalkannya sebagai kota pariwisata,” tambahnya.

Menurut Chusmeru, Jakarta punya potensi besar sebagai destinasi wisata yang bisa menarik kunjungan lokal dan mancanegara. Kategori pariwisata yang potensial di Jakarta meliputi wisata sejarah, wisata budaya, wisata belanja dan entertainment, wisata rekreasi, wisata kuliner, wisata MICE, wisata olahraga atau kebugaran, wisata religi dan ziarah, serta wisata alam dan bahari.
 

Coldplay

Konser Coldplay Music of the Spheres World Tour Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (15/11/2023). (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)


Sebagai contoh wisata bahari di Kepulauan Seribu cocok untuk diving, snorkeling, dan olahraga air lainnya. Wisata olahraga atau sport tourism di Gelora Bung Karno dan Jakarta International Stadium bisa menyedot puluhan ribu penonton sepak bola. Tak ketinggalan wisata hiburan dengan banyaknya penyelenggaraan konser musik besar dari artis global seperti Coldplay dan BLACKPINK.

“Jakarta punya infrastruktur yang memadai untuk menyelenggarakan event-event besar, tinggal bagaimana kita menjaga dan memperbaruinya,” katanya.

Kendati optimis dengan masa depan pariwisata Jakarta, Chusmeru juga mengantisipasi sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) akan mengalami penurunan. Perpindahan ibu kota mampu mengurangi mobilitas orang-orang yang bekerja di bidang pemerintahan dan BUMN dalam hal mengadakan acara-acara besar.

Melihat sejarah panjangnya sebagai destinasi MICE glonal, Jakarta sukses menjadi tuan rumah berbagai ajang bergengsi seperti INACRAFT, Jakarta Fair, OPEC Summit, ASEAN Summit, dan Urban 20 (U20) Mayors' Summit. Jakarta juga giat mengembangkan sarana dan prasarana MICE, misalnya Jakarta Convention Center, Aula Candi Bentar, dan beberapa resor di Pulau Seribu dan Pulau Pantara.

Senada dengan pernyataan sebelumnya, Budijanto Ardiansjah, Ketua Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) juga membenarkan bahwa potensi pariwisata Jakarta tidak akan terpengaruh dengan perpindahan ibu kota negara. Namun, di sisi lain sektor MICE akan mengalami penurunan.

“Memang nanti MICE pemerintahan akan berkurang, tapi yang non pemerintahan pun masih banyak dan akan terus meningkat,” katanya.


Memanfaatkan Infrastruktur Eksisting

Jakarta sudah punya infrastruktur pariwisata dengan beragam atraksi yang menarik. Selain itu akses transportasinya pun mudah dijangkau oleh wisatawan yang datang dari daerah maupun luar negeri. Hal tersebut dilihat dari adanya dua bandara, 23 pelabuhan, dan banyaknya stasiun kereta api.

“Justru efek positifnya, mudah-mudahan tingkat kemacetan turun sehingga jarak tempuh dari satu destinasi ke destinasi wisata lainnya tidak lama,” katanya.

Lebih lanjut dia berujar, Jakarta juga punya wisata tematik yang dikonsep dengan tema dan narasi tertentu sehingga bisa memberikan pengalaman dan wawasan dalam perjalanannya. Wisata tematik yang banyak digemari anak muda misalnya, China Town dan Kampung Betawi, serta destinasi berbasis komunitas lainnya.

Sejumlah objek wisata tersebut menawarkan pengalaman untuk mencicipi budaya, tradisi, dan adat istiadat masyarakat setempat yang sangat dijunjung tinggi. Selain bisa menikmati keindahan bangunan bersejarah dan peninggalan artefaknya, kita juga bisa bisa mempelajari budayanya.

“Tinggal bagaimana kita mengembangkan konsep-konsep wisata tematik tersebut supaya bisa menarik banyak pengunjung,” ujarnya.

Sebagai upaya mewujudkan Jakarta sebagai kota pariwisata tentu tak lepas dari peran pemerintah, masyarakat, komunitas lokal, serta pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif untuk memanfaatkan fasilitas ruang publik yang tersedia dengan optimal.

“Jakarta perlu pemimpin yang punya visi pariwisata dan seni budaya yang bisa menjual namanya sebagai destinasi wisata unggulan,” ujarnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

4 Hal yang Perlu Diketahui soal Tarif Promo Tiket Kereta Cepat Desember 2023

BERIKUTNYA

Nyamuk Berwolbachia Diklaim Bisa Meringankan Beban BPJS Kesehatan, Ini Penjelasannya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: