Annisa Pratiwi, Pendiri sekaligus Chief Marketing Officer Ladang Lima. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Kisah Annisa Pratiwi Bangun Bisnis Ladang Lima, Olah Singkong Jadi Naik Kelas

22 November 2023   |   20:46 WIB
Image
Luke Andaresta Reporter Hypeabis.id| Menulis seputar arsitektur, desain interior, buku, musik, dan film.

Annisa Pratiwi resah. Melimpahnya singkong di daerah asalnya, Jawa Timur, belum terolah dengan maksimal. Singkong masih sebatas diolah menjadi makanan tradisional dengan variasi sajian yang monotn dan nilai ekonominya belum optimal.

Dia berpikir seharusnya singkong, salah satu pangan lokal Nusantara, bisa diolah dengan maksimal agar bisa menarik minat banyak kalangan khususnya anak muda. Berangkat dari keresahan itu, muncul keinginan di benak Annisa dan suami, Raka Bagus Vinaya, untuk membuat singkong naik kelas.

Mereka ingin singkong diolah dan hadir menjadi makanan kekinian sekaligus sehat, sehingga bisa dinikmati siapapun. Akhirnya, setelah melakukan riset selama setahun, mereka menemukan bahwa hasil olahan singkong dapat dimanfaatkan menjadi tepung terigu gluten free dan sehat untuk dikonsumsi.
Berbeda dengan tepung tapioka yang cenderung mengambil sari pati singkong, produk tepung singkong yang dihasilkannya masih memiliki kadar fiber yang tinggi dan mengalami proses fermentasi. Dengan begitu, tepung singkong yang dihasilkan bisa menggantikan tepung terigu untuk membuat beragam produk olahan makanan.
 
Di sisi lain, berdasarkan hasil risetnya, beberapa jenis ubi seperti ubi ungu, porang, dan ganyong terbukti tidak bisa dibuat menjadi tepung terigu. "Dengan memanfaatkan singkong menjadi tepung, ini juga selaras dengan mimpi kami untuk bisa mendukung ketahanan pangan di Indonesia melalui hasil kekayaan alam dari petani lokal," katanya.
 
Akhirnya pada 2013, Annisa dan Raka mendirikan merek Ladang Lima. Ladang sendiri berarti lahan pertanian di mana singkong tumbuh secara alami, sedangkan Lima menunjukkan 5 manfaat kesehatan yang dapat ditemukan di setiap produknya yaitu kaya nutrisi, tanpa bahan pengawet, tanpa rasa buatan, tanpa pewarna buatan, dan tanpa pemanis buatan.
 

 
Tak hanya tepung singkong, Ladang Lima juga menghadirkan beragam produk olahan singkong sekaligus bebas gluten seperti mi sayur sehat, tepung premiks, tepung bumbu serbaguna, cookies dan pasta bebas gluten. Semua produk tersebut bersumber dari petani lokal yang menanam singkong secara organik.
 
Annisa menuturkan bahan baku singkong yang digunakan Ladang Lima sendiri didapatkan dari petani lokal di Pasuruan, daerah Malang yang merupakan penghasil singkong terbesar di Indonesia. Kebun ini juga berada di bawah kaki Gunung Bromo yang dekat dengan pabrik pembuatan produk Ladang Lima, sehingga olahan yang dihasilkan selalu menggunakan singkong yang segar.
Plus, Ladang Lima hanya memproses singkong segar yang baru dipanen untuk menjaga kualitas tepung singkong dan menghasilkan warna tepung yang putih alami tanpa proses pemutihan.
 
Tidak hanya itu, dalam proses produksi, Ladang Lima juga memberdayakan perempuan di wilayah sekitar kebun dan saat ini 70% pekerja di pabrik dan kebun adalah perempuan. Dengan kata lain, semua pembuatan produk Ladang Lima dikerjakan oleh tangan-tangan perempuan lokal.
 

 
Diakui oleh Annisa pada awal membangun bisnis, dia masih cukup kesulitan untuk mempromosikan produk-produk bebas gluten. Kala itu, kesadaran masyarakat terhadap makanan sehat belum besar seperti sekarang. Akhirnya, dia memberikan edukasi sekaligus mempromosikan produknya dimulai dari komunitas-komunitas kecil, salah satunya dengan kegiatan demo masak.
 
"Waktu itu susah banget, cuma akhirnya yang kita lakukan adalah konsisten dalam mengedukasi pasar melalui event-event kecil," katanya.
 
Seiring waktu, Annisa menilai minat masyarakat Indonesia terhadap olahan sumber pangan lokal saat ini mulai meningkat. Sebab, katanya, kini banyak orang yang melihat product value atau nilai produk sebelum memutuskan untuk membeli makanan di samping mempertimbangkan harga dan rasa. Terbukti, selama 10 tahun berjalan, tren penjualan di Ladang Lima relatif mengalami peningkatan terlebih saat pandemi.
 
Dia menjelaskan bahwa produk yang paling diminati konsumen dari Ladang Lima adalah produk siap makan (ready to eat) dibandingkan tepung singkong, seperti mi, kue, serta tepung premiks. Meski konsumen dari Ladang Lima saat ini didominasi oleh kalangan milenial berusia 25-35 tahun, Annisa mengatakan generasi Z juga kini sudah mulai banyak mengincar produknya.
 
"Sampai sekarang peningkatannya mungkin sekitar 20% setiap tahun. Itu membuktikan bahwa sebenarnya makanan sehat itu juga bisa enak," terangnya.
 
Meski banyak bermunculan produk bebas gluten, Annisa berpendapat bahwa produk Ladang Lima memiliki beberapa keunggulan terutama dari segi rasa, menggunakan bahan tepung singkong, serta tanpa pemutih, pemanis, dan perisa. Ke depan, dia juga menuturkan bahwa akan terus mengeluarkan beragam produk olahan tepung singkong terutama varian tepung premiks dan mi.
Menurutnya, tren bisnis makanan olahan dari sumber pangan lokal yang enak dan sehat akan terus moncer ke depannya. Terlebih, di tengah konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina, bahan-bahan seperti tepung terigu dan gandum impor terus melambung. Oleh karena itu, kondisi tersebut bisa menjadi peluang emas bagi para pebisnis untuk mengoptimalkan dalam pengolahan sumber pangan lokal.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Mengenal Demensia Vaskular Mulai dari Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya

BERIKUTNYA

Kesepian Setara Berbahayanya dengan Rokok, Begini Penjelasan Dokter

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: