Irene Kristi (kiri) & Devy Natalia (kanan) merupakan pemilik bisnis fesyen anak BohoPanna (Sumber gambar: Devy Natalia Official Instagram)

Intip Cerita & Kiat Sukses Owner BohoPanna Jadi Pengusaha Perempuan

27 April 2023   |   06:59 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Genhype, di dunia yang cenderung maskulin, peran perempuan kerap diasosiasikan sebatas kepentingan domestik untuk mengurus rumah tangga dan keluarga. Namun, seiring waktu, anggapan itu mulai tergeser dengan banyaknya perempuan yang sukses meniti karier secara profesional maupun sebagai wirausaha atau womenpreneur.

Perempuan kini bahkan makin berperan besar sebagai roda penggerak perekonomian. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2021, mayoritas dari total usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Indonesia tepatnya sebanyak 64,5 persen atau 37 juta UMKM dikelola oleh perempuan dari total 65 juta UMKM di Indonesia.

Sementara itu, dalam laporan Womenpreneur Indonesia 2022 oleh Sirclo menyebutkan bahwa sebanyak 52 persen responden perempuan menyatakan lebih memilih terjun menggeluti bisnis secara mandiri. Alasan utama mereka adalah tidak ingin bergantung dengan pasangan dalam hal finansial. Hal ini didorong oleh keinginan mereka untuk dipandang rata, tidak mengenal gender.

Baca juga: 5 Mompreneur yang Sukses Kembangkan Bisnisnya di Indonesia

Laporan itu juga menjelaskan bahwa sebanyak 56 persen wirausaha perempuan menjalankan usaha mandiri tanpa pegawai. Dari segi pendapatan, sebanyak 87 persen responden mengaku bisa mendapatkan omzet kurang dari Rp15 juta dalam menjalankan bisnisnya.

Kondisi ini menjadi kemajuan yang signifikan terutama karena partisipasi perempuan tidak hanya ikut menggerakkan roda ekonomi negara, tetapi juga memperkuat aspek personal, relasional, dan aspek ekonomi dari setiap perempuan yang terlibat.

Menurut Co-Founder & COO Bohopanna, Irene Kristi, peran perempuan dalam dunia kewirausahaan bisa memberikan dampak yang besar bagi perekonomian suatu negara. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat, dia melihat bahwa keterlibatan perempuan Indonesia di dunia bisnis belum signifikan.

"Di Amerika, perempuan yang berkecimpung di dunia bisnis itu sekitar 48 persen, sedangkan di Indonesia itu baru sekitar 35 persen sampai 2022," katanya saat dihubungi Hypeabis.id.

Bersama rekannya, Devy Natalia, Irene membangun bisnis fesyen lokal bayi dan anak bernama BohoPanna. Mereknya ini berfokus menawarkan berbagai produk pakaian basic clothes yang fashionable dan harga yang terjangkau. Mereka memiliki visi untuk menjadikan BohoPanna sebagai merek produk bayi dan anak dengan kualitas premium dan stylish. Namun, tetap terjangkau oleh siapapun.
 


Sebagai Co-Founder dan COO, Irene bertanggung jawab untuk mengurus segala kebutuhan operasional yang dibutuhkan oleh BohoPanna. Keputusan Irene untuk menekuni dunia bisnis berangkat dari prinsipnya yang ingin bisa bekerja secara independen, tidak di bawah sistem korporasi. Terlebih, sejak kecil, dia juga telah melihat banyak anggota keluarga perempuannya sudah mandiri untuk membangun bisnis sendiri.

"Karena kelemahan saya tidak mau manut atau disuruh-suruh orang, akhirnya saya berpikir lebih baik bikin sesuatu yang bisa dijual saja," kata perempuan lulusan sarjana Ekonomi di Unika Soegijapranata Semarang ini.

Meski kesempatan bagi perempuan untuk menekuni dunia bisnis terbuka lebar, perannya dalam keluarga dan lingkungan juga kerap menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan. Laporan dari Sirclo menemukan bahwa sebanyak 49% responden mengaku salah satu tantangan besar menjadi womenpreneur adalah menyeimbangkan peran sebagai ibu dan pengusaha.

Hal ini juga diamini oleh Irene. Sebagai pebisnis sekaligus ibu, dia mengaku bahwa tantangan utama yang dihadapinya adalah membagi waktu antara mengurus usaha dan keluarga. Untuk hal ini, menurutnya, seorang womenpreneur harus bisa mengatur skala prioritasnya termasuk menjaga komunikasi dengan keluarga.

Irene mengaku selalu memastikan bahwa urusan untuk keluarganya telah terpenuhi sebelum mengerjakan tugasnya di BohoPanna, begitupun sebaliknya. Selain itu, dia juga selalu terbuka kepada keluarga tentang kebutuhannya dalam menjalankan bisnis, sehingga dia mendapatkan kepercayaan dan dukungan penuh dalam menekuni usahanya.

"Ketika keluarga memberikan kepercayaan dan kebebasan waktu, itu adalah suatu hal yang harus kita manfaatkan semaksimal mungkin tapi tetap kita juga harus tahu skala prioritas," katanya.

Menurut Irene, penting bagi perempuan untuk bisa berdaya mandiri secara finansial sekalipun telah memiliki suami yang notabene sebagai penopang keluarga. Sebab, dengan begitu, perempuan tidak akan bergantung secara finansial kepada sang suami.

Lebih jauh lagi, kontribusi perempuan pada perekonomian keluarga juga bisa menjadi kekuatan bagi mereka pada proses pengambilan keputusan dalam rumah tangganya. "Menurut aku, setiap perempuan harus punya skill untuk bertahan seperti itu, karena yang bertanggung jawab sama diri ya kita sendiri," katanya.

Bagi Irene, untuk bisa sukses menjadi seorang pebisnis, setiap perempuan harus percaya pada kemampuannya sendiri, memiliki mental yang kuat, dan mengetahui skala prioritas untuk berbagi perannya di lingkungannya.

Baca juga: Brand Kecantikan Ini Berdayakan Pengusaha Perempuan Lewat Program Mentoring Wirausaha

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Roni Yunianto

 

SEBELUMNYA

Prinsa Mandagie Merilis Video Klip Single Ternyata Berpisah Lebih Indah

BERIKUTNYA

Regulator Inggris Blokir Akuisisi Activision Blizzard Oleh Microsoft, Ini Alasannya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: