Amin Tasha saat ditemui Hypeabis.id pada Rabu (15/11/23) di Museum MACAN. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Abdurachman)

Wawancara Eksklusif Amin Taasha: Seniman Afghanistan yang Memilih Tinggal & Berkarya di Indonesia 

16 November 2023   |   17:27 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Nama Amin Taasha dalam dunia seni rupa Indonesia mungkin masih belum begitu dikenal publik. Namun, perupa asal Afghanistan yang kini berbasis di Yogyakarta itu sudah  malang melintang di berbagai pameran dan bursa seni di dalam dan luar negeri.

Menggeluti dunia seni rupa sejak muda, karya-karya Amin terinspirasi dari puisi dan khasanah sastra Persia dan berbagai kelindan budaya yang telah dia sambangi, termasuk Indonesia. Berbagai narasi tersebut dituangkan dalam ragam medium seni, khususnya dua dimensi.

Baca juga: Wawancara Khusus Fair Director Art Jakarta 2023 Tom Tandio: Pasar Seni Rupa Sekarang Digerakkan Anak Muda

Sejauh ini, karya-karyanya telah dipamerkan dalam sejumlah pameran penting, termasuk The 4th Dhaka Art Summit di Bangladesh Shilpakala Academy, The 10th Asia Pacific Triennial of Contemporary Art di Queensland Art Gallery, dan  Gallery of Modern Art (QAGOMA), Brisbane, Australia (2021). 

 
Amin dalam Pameran Voice Against Reason di Museum MACAN (Sumber gambar: Hypeabis.id/Abdurachman)
Kiwari, Amin juga turut berpartisipasi dalam pameran Voice Against Reason di Museum MACAN, Jakarta pada 18 November 2023 sampai 14 April 2024. Membawa 10 lukisan serial bertajuk The Heart of Sadness, sang seniman mencoba menyampaikan kedalaman kompleksitas cinta dan spiritualitas manusia.

Lewat karya miniatur persia yang kerap menjadi ilustrasi buku, sang seniman mencoba menggambarkan perjalanan sangkan paran atau dari dan menuju kemana manusia hidup. Termasuk lewat simbol, makhluk hidup, mitos, dan kenangan masa kecilnya di Bamiyan, Afghanistan yang terus dilanda konflik.

Lantas, apa yang ingin perupa ini sampaikan lewat karya terbarunya itu? Bagaimana dia sebagai diaspora melihat perkembangan seni rupa Indonesia saat ini? Ditemui Hypeabis.id secara khusus, berikut obrolan kami mengenai jalan pedang berkesenian Amin.

Anda dikenal sebagai perupa dengan karya-karya yang otentik. Momen seperti yang akhirnya menginspirasi Anda menjadi seorang seniman?

Dari dulu saya memang memiliki keinginan untuk menjadi seniman. Saya masuk sekolah seni di Kabul, dan mendapat mentor yang baik meski sempat tertinggal jauh dari teman yang lain. Dari sinilah saya akhirnya tekun belajar hingga mendapat beasiswa ke Indonesia selama satu tahun.

Apa yang melatarbelakangi Anda untuk akhirnya memilih Indonesia sebagai negara tempat belajar sekaligus berkesenian?

Setelah sebuah tragedi menimpa dan membuat saya tidak bisa berpameran di Afghanistan, ada teman yang menawari untuk mengikuti beasiswa. Saat itu saya hanya tahu Jakarta, tapi setelah sampai di sini ternyata negaranya sangat besar, dan akhirnya juga betah karena saya mendapat istri orang Indonesia.

Dari sinilah saya mulai fokus untuk kembali berkarya sembari belajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Kendati begitu saya sempat balik sekali ke Afghanistan, dan sampai sekarang memilih untuk tinggal dan berkarya di Yogyakarta.

Uniknya, pameran pertama saya di Afghanistan justru terjadi sehari sebelum saya berangkat ke Indonesia. Setelah itu saya pun mulai fokus menekuni dunia seni rupa dengan menggelar debut pameran di Tanah Air sejak Agustus 2013.

Bagaimana Anda melihat ekosistem seni rupa di Indonesia, apakah memang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan saat berada di Afghanistan?

Ya, sangat jauh. Ibarat langit dan bumi. Karena di sana seperti ada sebuah pameo yang mengatakan bahwa seni rupa baru bisa tumbuh setelah situasi keamanan dan kedamaian bisa direngkuh masyarakat. Jadi ekosistem di sana tidak stabil, sedangkan di sini ada banyak seniman yang terbuka untuk berbagi berpandangan.

Saya misalnya, sering berdiskusi dengan Heri Dono, Agus Suwage, dan Ivan Sagita mengenai karya-karya terbaru saya. Dari sanalah saya mendapat masukan, kritik, yang otomatis membuat saya merasa bahwa keadaan ini tidak bisa saya dapatkan di Afghanistan.

 

(Sumber gambar: Hypeabis.id/Abdurachman)

(Sumber gambar: Hypeabis.id/Abdurachman)

Dari segi proses berkreasi, apa yang biasanya Anda lakukan untuk memantik inspirasi dalam berkarya?

Kerap yang menjadi inspirasi saya dalam berkarya adalah sesuatu yang saya cerap dari realitas. Mungkin saya membaca berita, puisi, yang kemudian saya jadikan bahan untuk diolah dalam kontemplasi melalui lukisan. 

Dalam 10 seri karya saat ini misalnya, saya mencoba merepresentasikan siapa pun yang ada di sekitar kita adalah cerminan dari kita sendiri. Berbagai kejadian yang saya alami baik di masa lalu, sekarang, dan di masa depan, mungkin bisa juga dialami oleh orang lain.

Jadi, semua hal, termasuk kebahagiaan, kesusahan atau nasib yang terus berputar, semuanya dialami oleh manusia. Ini terkait juga bagaimana kita merespon kejadian tersebut. Jika diterima dan direspons dengan baik maka akan jadi pengalaman yang berharga, begitupun sebaliknya.

Saya pun merepresentasikan semua itu sebagai 'jembatan kebudayan' di mana kehidupan saat di Afghanistan dan Indonesia dimetaforakan lewat berbagai idiom. Termasuk pelajaran dari khasanah kebudayaan Persia, dan Jawa yang saya sisipkan di dalamnya, salah satunya sosok Punakawan.

Apa makna sosok Punakawan bagi Anda?

Punakawan bagi saya adalah semacam way of living, tentang bagaimana cara hidup dengan ketenangan atau tanpa ekspektasi. Tidak memikirkan apa yang orang lain pikir, dan katakan, yang penting kita bisa bercanda dengan hidup.

Dalam lukisan, Anda juga kerap memasukkan objek kuda, pesan seperti apa yang ingin dibagi ke publik lewat figur ini?

Figur kuda sudah saya masukkan dalam objek lukisan sejak 2015. Salah satu alasan saya adalah karena hewan ini memang kerap digambar dalam miniature painting di kawasan Timur Tengah. Kuda juga merupakan objek yang cukup lekat dengan kebudayaan kami di Afghanistan. Selain itu, kuda juga memiliki kontribusi penting dalam kemanusiaan. 

 

(Sumber gambar: Hypeabis.id/Abdurachman)

(Sumber gambar: Hypeabis.id/Abdurachman)


Adakah seniman-seniman terkenal yang juga turut menginspirasi Anda dalam berkarya?

Ada, salah satunya adalah Khadim Ali yang saat ini karyanya juga dipacak dalam pameran Voice Against Reason ini. Saya sudah bertemu dia sejak lama, teknik miniature painting yang saya kerjakan ini juga hasil pembelajaran saya dengannya. Dia adalah guru saya.

Anda kerap menyisipkan puisi berbahasa Persia dalam berbagai lukisan, apakah fungsinya untuk melengkapi atau ada tujuan lain?

Terkait puisi itu memang sudah menjadi kebiasaan saya, di mana sejak kecil kerap membaca karya-karya penyair yang sebagian hafal di luar kepala. Terutama dari buku The Divan of Hafez, karya penyair Shirazi, Hafez yang diberikan ayah saya sebagai pegangan hidup.

Misalnya, dalam salah satu lukisan saya menyelipkan puisi berbunyi, "Jangan tanyakan kecantikan matahari dari kelelawar. Pasalnya dia tidak pernah melihat sang surya dan hidup dalam kegelapan."

Baca juga: Begini Geliat Pasar Seni Rupa Indonesia Menjelang Momen Pemilu


Editor: Indyah Sutriningrum

 

SEBELUMNYA

5 Gaya Artis Indonesia saat Hadiri Festival Film Indonesia 2023, Ada Laura Basuki & Dian Sastrowardoyo

BERIKUTNYA

Ini Dia 3 Ramuan Herbal Atasi Nyeri Asam Urat

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: