Ilustrasi membuat perencanaan peluang konten kreator. (Sumber gambar : Freepik/Rawpixel)

Viralkan, YouTube Bawa Kabar Gembira Buat Para Kreator Konten

15 October 2023   |   20:58 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Industri kreator konten terlihat makin cerah seiring penetrasi internet yang semakin masif. Tak ayal, banyak masyarakat, terutama generasi muda terjun ke bidang kreatif ini yang didukung dengan peralatan hingga platform media sosial yang turut menciptakan peluang pasar. 

Platform influencer marketing Famous Allstars atau FAS pada 2022 lalu memperkirakan nilai pasar industri kreator konten di Indonesia mencapai Rp4 triliun-Rp7 triliun. Diproyeksikan angkanya akan meningkat lima kali lipat pada 2027.

Hal ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang terpantau aktif di media sosial, tempat konten berlalu-lalang. Melansir laporan We Are Sosial pada awal tahun lalu, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia tercatat mencapai 167 juta, setara dengan 60,4 persen dari populasi penduduk. 

Baca juga: Kisah Guru Honorer Sukses Jalankan Affiliate, Cari Cuan Tambahan sebagai Kreator Konten

Untuk salah satu platform saja seperti YouTube, terpantau 110 juta orang Indonesia menonton konten di platform ini setiap harinya dan rata-rata menghabiskan waktu selama 30 menit. 

Survei bertajuk WhyVideo Study Indonesia yang dirilis Kantar pada September 2023 dan melibatkan sekitar 3.000 responden juga menyebut YouTube merupakan layanan video yang paling banyak ditonton dan disukai Gen Z Indonesia dengan rentang usia 18-24 tahun. Salah satu alasannya, YouTube memungkinkan mereka mengakses berbagai jenis konten di satu tempat, baik itu konten pendek, panjang, maupun livestream

Regional Director YouTube Asia-Pacific Ajay Vidyasagar menyampaikan Gen Z di Indonesia menghabiskan maksimal 24 persen dari waktu menonton mereka untuk mengonsumsi satu format. Sementara itu, sebanyak 84 persen penonton YouTube di Indonesia percaya dengan iklan yang tayang di platform tersebut. 

“80 persen penonton YouTube mengatakan bahwa video iklan di platform ini membantu mereka mengambil keputusan yang lebih mantap saat akan membeli sesuatu,” sebut Ajay saat ditemu di bilangan Kuningan, beberapa waktu lalu.

Melihat tingginya minat terhadap konten dan iklan, YouTube lantas menghadirkan solusi berteknologi artificial intelligence (AI) yang dapat digunakan untuk mengefisienkan bisnis secara signifikan, meningkatkan return of investment (ROI) pemasaran konten, dan membuka lebih banyak peluang. 

Ajay menyebut kini YouTube menghadirkan Flip & Trim, fitur untuk mengubah konten horizontal milik brand dan menyesuaikannya secara otomatis untuk feed Shorts. Ada pula Demand Gen yang memanfaatkan AI untuk menayangkan iklan di seluruh platform yang memiliki tingkat engagement tertinggi, termasuk YouTube dan Shorts.

Kemudian, YouTube menyajikan Video Views Campaign yang membantu pengiklan memaksimalkan jumlah penayangan di seluruh format video YouTube, dengan menyajikan materi iklan berperforma terbaik kepada audiens yang cenderung tertarik dengan brand mereka. Terakhir kata Ajay, ada fitur pembuat sulih suara (dubbing) dan animasi teks otomatis berteknologi AI untuk materi iklan yang sudah ada.

Co-Founder & Creative Business Director Ambilhati Sandru Emil menyebut saat ini banyak brand yang mengalihkan porsi pemasaran produknya melalui konten digital, ketimbang konvensional melalui televisi. “Semua sudah mulai switching ke digital,” imbuhnya saat berbincang dengan Hypeabis.id.

Ada sejumlah faktor yang melandasi. Salah satunya biaya iklan yang tidak murah di televisi. Batas waktu iklan di TV rata-rata 15-20 detik. “Jarang banget TV ada 60 detik karena mahal dan terbatas waktunya. Itu yang membuat di TV tipenya hard sale,” sebut Sandru. 

Sementara di digital, waktunya sangat fleksibel. Kendati demikian, membuat konten iklan secara digital, wajib dikemas secara menarik agar penonton tidak buru-buru beralih alias skip.  

Menurut Sandru, untuk sebuah brand, viral saja tidak cukup. Para pembuat iklan digital harus memunculkan ide bagaimana membuat brand relevan dengan konteks dari yang disampaikan konten kreator maupun para penonton setianya. “People gate advertising yang tidak relevan untuk mereka,” tambahnya. 

Selain ide menarik, kualitas gambar patut diperhatikan. Sandru menyampaikan dalam produksi ada beberapa level mulai dari high, medium, dan low production. Ada produksi dengan kualitas tinggi. Sebagai contoh brand penjual produk untuk rambut. Untuk menyajikan rambut yang bagus di layar kaca, dia dan tim membutuhkan pencahayaan terbaik.  

Bicara tools atau alat, Sandru menyebut banyak perusahaan teknologi yang menghadirkan produk ringkas untuk membuat konten namun berkualitas tinggi. “Kamera tidak harus besar untuk achieve quality yang sama bagusnya, apalagi kita di small screen,” tuturnya.

Sementara itu, kreator konten kriminal Nessie Judge menilai YouTuber sangat dimudahkan dengan kehadiran peralatan ringkas untuk merekam dan menghasilkan gambar berkualitas. Begitu pula dengan perangkat audio yang meningkatkan pengalaman untuk menyampaikan pesan kepada para subscriber. 

Assistant Marketing Manager Canon Business Unit PT Datascrip Danni Nahason mengatakan dengan tren pembuatan konten video yang semakin meningkat, sekarang mulai terbentuk pasar kreator yang mulai sadar akan kualitas dan ingin level up. Namun, mereka tetap ingin kamera dengan bentuk ringkas dengan kualitas video mumpuni. 

Baca juga: Hypereport: Dari Kamar ke Panggung, Kisah Inspiratif Para Kreator

Alhasil Canon terus mengeluarkan produk–produk dengan teknologi yang semakin memanjakan para konten kreator. “Mulai dari kualitas video tinggi hingga 8K RAW, autofocus yang tangguh dan dapat diandalkan, hingga teknologi yang related ke video yang lebih future proof lainnya,” jelas kepada Hypeabis,id.

Danni menyebut Canon sudah mempersiapkan lensa untuk pembuatan konten VR video melalui lensa RF5.2 mm f/2.8L Dual Fisheye. Ke depannya, Canon semakin mendukung pembuatan konten dari yang simpel hingga high end production yang akan dicover oleh Canon Cinema lineup.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Cara Baru Merawat Eksistensi Musik Lawas di Kalangan Generasi Muda

BERIKUTNYA

Adu Teknologi Kamera Mirrorless Sony Alpha 6700 vs Canon EOS R8, Genhype Pilih Mana?

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: