Aksi panggung musisi senior Candra Darusman dan Fariz RM di Synchronize Fest 2023. (Sumber gambar: Synchronize Fest Official Instagram)

Cara Baru Merawat Eksistensi Musik Lawas di Kalangan Generasi Muda

15 October 2023   |   20:39 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Musik lawas identik dengan karya-karya lagu yang berasal dari masa lampau. Biasanya, label musik lawas melekat pada lagu-lagu yang didendangkan oleh para musisi pada masa silam yang minimal berasal 10 tahun lalu atau satu dekade dari masa sekarang. 
 
Namun, penyematan kata 'lawas' juga seolah memberikan konotasi yang cenderung negatif. Kesannya, musik-musik lawas adalah karya yang ketinggalan zaman bahkan bernilai lebih rendah dibandingkan dengan lagu-lagu saat ini yang dipandang sebagai produk budaya kekinian.
Hal inilah yang dipandang kritis oleh Oi selaku Founder dari Swara Gembira, sebuah grup seni yang merevolusi sekaligus mempopuler seni budaya Nusantara dengan sentuhan modern. Namun, sebaliknya, Oi tidak melihat pandangan serupa pada musisi dan grup musik Barat lawas seperti The Beatles, Queen, atau Pink Floyd.
 
"Kalau aku dengerin The Beatles, Pink Floyd, bahkan The Smiths, orang-orang akan bilang selera musikku bagus. Tapi kalau aku dengerin [musik] Fariz RM dianggapnya suka yang lawas-lawas," katanya dalam acara diskusi Irama Berdendang di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Minggu (15/10/2023).
 
Oi berpendapat bahwa pandangan itu muncul lantaran akses yang masih terbilang sulit untuk menikmati musik-musik para musisi senior dalam negeri secara keseluruhan, dibandingkan dengan musisi luar negeri. Dengan kata lain, upaya pengarsipan dokumentasi musik-musik lawas di Indonesia yang menjadi rekam sejarah sekaligus sumber pengetahuan masih terbilang minim.
 
"Kita kalau cari video musisi Barat manggung tahun 1970-an atau 1980-an itu mudah dicari di internet dengan kualitas yang sangat bagus. Tapi kalau cari arsip video musisi Indonesia itu sulit," ujarnya.
 
Kondisi itulah yang menurut Oi membuat citra dari musik lawas terkesan menjadi barang yang langka bahkan antik. Padahal, seharusnya, baik musik lawas maupun musik saat ini memiliki kedudukan dan nilai yang sama, termasuk sama-sama mudah untuk diakses dan dinikmati audiens.
 

Para pembicara dalam acara diskusi Irama Berdendang di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Minggu (15/10/2023). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta

Para pembicara dalam acara diskusi Irama Berdendang di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Minggu (15/10/2023). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta

Dekat ke Anak Muda
Di tengah kondisi seperti itu, Swara Gembira gencar untuk mengangkat musik-musik lawas dari musisi legendaris Indonesia, dengan sentuhan modern untuk bisa dinikmati kalangan audiens yang lebih muda.

Seperti diketahui, Swara Gembira memang kerap mempublikasikan sekaligus membuat acara-acara untuk melestarikan memori kolektif akan musik-musik dari musisi senior seperti Guruh Sukarno Putra, Chaseiro, Tika Bisono, Rekti Yoewono, Djajusman, dan Kadri Mohamad.
 
Lebih dari musik, Swara Gembira adalah sebuah wadah untuk merevolusi dan mempopulerkan seni budaya Indonesia dengan sentuhan modern. Mereka telah berhasil mengadakan berbagai pergelaran kolosal, komunitas wastra serta gebrakan aktivasi dalam media sosial yang sukses menarik perhatian berbagai kalangan.
 
Oi menuturkan di samping membuat pergelaran atau pertunjukan musik, pihaknya juga kerap membuat pesta-pesta musik disk jockey (DJ) yang mendendangkan lagu-lagu lawas Tanah Air. Termasuk, gencar mempublikasikan kiprah dan karya-karya musisi senior di media sosial dengan desain yang lebih kekinian.
 
"Acara-acara itu setidaknya menjadi gerbang pembuka bagi anak-anak muda untuk terus mengikuti berita-berita dari para musisi senior. Tapi memang menjadi tantangan agar itu semua mendapatkan engagement yang tinggi," imbuhnya.
 
Oi menilai semangat kolektif untuk membangkitkan sekaligus menjaga kelestarian eksistensi musik lawas harus diupayakan oleh semua pihak, alih-alih menantikan inisiatif dari pemerintah. Menurutnya, ketimbang menanti langkah dari negara, lebih baik masyarakat bertindak dari hal-hal yang sederhana.
 
Misalnya, menentukan satu hari dalam seminggu khusus untuk memposting lagu-lagu dari katalog musik lawas Indonesia di media sosial. Dengan begitu, akan ada semacam informasi kolektif yang tercipta tentang pengetahuan musik-musik zaman dahulu.
 
Di samping itu, Oi mengatakan pemerintah bisa mengupayakan kelestarian pengetahuan akan musik lawas kepada generasi muda melalui kolaborasi dengan produk budaya populer lainnya, misalnya dengan fesyen.
 
Bukan tanpa alasan, dia menilai bahwa banyak anak muda yang mengetahui band-band era zaman dahulu melalui kaos-kaos band yang biasanya menjadi bagian dari merchandise. "Mereka itu terekspos dari kaos kemudian masuk ke alam bawah sadar, dan membawa mereka akhirnya jadi mau untuk cari tahu lebih jauh," ucapnya.
Menurut Oi, upaya kolaborasi semacam itu sudah gencar dilakukan di negara lain seperti Jepang. Di Negeri Sakura, katanya, beberapa desainer dan merek fesyen tak segan mengangkat tokoh musik atau materi dari sosok musisi sebagai inspirasi dalam koleksi mereka.
 
Misalnya, sebuah brand clothing besar di Indonesia mengangkat aset-aset musik lampau dalam negeri sebagai inspirasi koleksi mereka salah satunya dari desain cover vinyl album musisi legendaris pada era 1970-an atau 1980-an.
 
"Jadi fesyen atau pakain ready to wear itu adalah sebuah strategi yang menurutku jangan-jangan efektif," terangnya.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Ketika Musisi Lawas Tetap Memukau di Panggung Musik Kiwari

BERIKUTNYA

Viralkan, YouTube Bawa Kabar Gembira Buat Para Kreator Konten

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: