Sutradara dan produser film Nia Dinata di acara IdeaFest 2023 hari kedua. (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)

Nia Dinata Dambakan Industri FIlm Indonesia yang Lebih Variatif dari Segi Genre dan Tema

30 September 2023   |   12:55 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Nia Dinata, dikenal sebagai sutradara sekaligus produser film Indonesia. Kiprahnya di kancah perfilman Tanah Air dimulai sejak era 2000-an. Film-film yang telah dirilisnya mulai dari Ca-bau-kan, Biola Tak Berdawai, JanjI Joni, Arisan 1 & 2, Berbagi Suami, Ini Kisah Tiga Dara, Perempuan Punya Cerita, dan lainnya.

Keunikan dari karya-karya film Nia Dinata adalah menonjolkan karakter wanita. Bagaimana mereka dihadapkan dengan situasi yang membuatnya terpojok hanya karena terlahir sebagai wanita. Isu-isu yang diangkatnya pun cukup berani seperti poligami, perkawinan paksa, perselingkuhan, dan lainnya.

"Ini adalah representasi yang tanpa aku sadari ternyata karakter wanita yang menonjol dari film aku," kata Nia Dianta, dalam sesi talk show bertajuk Next Scene: A Glimpse Into the Diverse Future of Film di acara iDEAFEST 2023, Sabtu (30/9/2023). 

Baca juga: Industri Film Indonesia Masih Bermain di Pasar Tunggal, Begini Tanggapan Sineas & Pengamat Film

Lebih lanjut dia memaparkan, melalui film-filmnya, dia ingin merangkul dan bukan memojokkan kaum pria, sehingga mereka bisa tetap nyaman saat menontonnya. Menurutnya, patriarki sudah terlalu lama menguasai dunia ini, inilah saatnya untuk menciptakan kesetaraan gender.

"Saya enggak bilang wanita is better, kita ini sama dan setara punya hati, punya hasrat, mimpi, kesedihan dan trauma," ujarnya.

Tak hanya dalam filmnya, Nia Dinata selalu berusaha untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman untuk wanita. Orang-orang yang bekerja dengannya pun memiliki pandangan yang sama mengenai isu-isu terkait kesetaraan gender. "Kita punya kaleng denda atau bully jar, siapa pun yang melakukan cat calling harus membayar 50 ribu," katanya..

Dia berpikir, mungkin memang ada orang-orang yang belum tahu bagaimana caranya berperilaku dan menghargai sesamanya. Oleh karena itu dia selalu berusaha untuk membuat perubahan sekecil mungkin, di mulai dari diri sendiri dan lingkungan kerjanya. 

Baca juga: Mendikbud Nadiem Makarim Sebut Perempuan Miliki Kans Besar di Industri Film Nasional


Genre Film Indonesia 

Adapun secara genre, karya film yang digarap oleh Nia Dinata tak jauh-jauh dari percintaan dan drama. Namun, topik yang dihadirkan sangat beragam. Sebut saja film Arisan 1 & Arisan 2 seta Berbagi Suami yang mengangkat isu-isu tabu bagi masyarakat Indonesia, seperti poligami dan LGBT.

"Proses produksinya justru tidak ada tantangan karena aku nulis skrip sendiri dan diskusi dengan tim yang sudah kenal lama," ujar Nia.

Namun, setelah filmnya selesai dan masuk ke lembaga sensor, itulah yang membuatnya waswas. Bukan sekali dua kali karyanya dinyatakan belum lulus sensor. Biasanya ada pemberitahuan bagian mana yang harus dipotong supaya layak untuk tayang.

"Akhirnya aku dipanggil dan harus presentasi untuk menjelaskan makna dari adegan-adegan yang menurut mereka belum lulus sensor," katanya. 

Terkadang film-filmnya yang sudah selesai digarap butuh waktu yang lama sekali untuk bisa tayang di bioskop karena melewati proses sensor yang ketat. Untuk film berjudul Ini Kisah Tiga Dara, membutuhkan waktu 4 minggu sampai akhirnya film tersebut dinyatakan lulus sensor.

"Ketika aku menyensor filmku yang ini lolosnya lama sekali, karena kita bingung bagaimana mau motongnya," kata Nia.

Dia berujar, menurut lembaga sensor, filmnya berjudul Arisan yang rilis pada 2003 lalu saat ini mungkin tidak bisa lulus sensor sama sekali. Nia Dinata mempertanyakan lebih lanjut terkait keberagaman di industri perfilman Indonesia. Apakah variasi hanya boleh dari genrenya saja, sementara topik-topiknya dan karakternya tetap sama.

"Biasanya dalam film karakternya kebanyakan orang jawa saja, kita belum ada representasi chinese Indonesia, papua, dan lainnya," jelasnya.

Sebagai upaya untuk mewujudkan industri film Indonesia yang makin variatif, hal yang bisa dia lakukan adalah terus keliling nusantara untuk mencari tahu dan mengenal lebih dekat orang-orang Indonesia dan budaya mereka.

Baca juga: Sherina Ungkap Proses Di Balik Pembuatan Musik Film Petualangan Sherina 2

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Hypereport: Tren Live Commerce & Masa Depan Perilaku Belanja Masyarakat Indonesia

BERIKUTNYA

Siswa SD Keracunan Cimin, Waspadai Bahaya Konsumsi Aci Berlebihan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: