Sejumlah pengunjung memadati toko buku Gunung Agung saat Cuci Gudang di Kwitang, Jakarta, Selasa (29/8/2023). (sumber fotoJIBI/Bisnis/Arief Hermawan P)

Intip Model Bisnis Toko Buku Kekinian Berkelit dari Efek Disrupsi Digital

20 September 2023   |   14:07 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Isu mengenai senjakala toko buku di Indonesia belakangan ini hangat dibicarakan kalangan pelaku literasi. Namun di tengah pesimisme tersebut, nyatanya ada banyak model baru toko buku dan penerbit independen yang berani menyongsong arus dan melawan efek disrupsi digital. 

Hasilnya, terlihat dari data yang dirilis platform data dan statistik global berbasis di Jerman, Statista, yang mengungkapkan bahwa pasar buku di Indonesia sebenarnya masih mengalami peningkatan cukup baik dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, nilainya diproyeksikan mencapai US$50.65 juta, dan pada 2026 diproyeksikan naik menjadi US$72.14 juta.

Baca juga: Rekomendasi 5 Buku Fiksi & Non Fiksi, Ada Kumpulan Esai hingga Kisah Petualangan

Tak hanya itu, berbagai inovasi dan strategi juga dilakukan oleh pegiat literasi. Termasuk diskusi buku terbitan terbaru hingga festival untuk mendorong oplah penjualan serta memasyarakatkan buku pada khalayak.

Bahkan juga banyak bermunculan toko-toko buku baru yang dikemas lebih populer. Beberapa di antaranya termasuk POST Bookshop, Toko Buku Blooks, Aksara Bookstore, Kios Ojo Keos, Aksara Kemang yang  memberikan secercah harapan tren senjakala perbukuan Indonesia.

Founder Patjarmerah Windy Ariestanty mengatakan, dunia perbukuan di Tanah Air sebenarnya sangat variatif. Menurutnya, penutupan beberapa toko buku hanya menandakan adanya perubahan perilaku para pembaca atau konsumen dalam mendapatkan buku dan melihat fungsi sebuah toko buku.

Saat seseorang pergi ke toko buku (besar) misalnya, bukan lagi menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkan buku. Artinya ada banyak alternatif untuk mendapatkan buku-buku incaran, baik lewat daring maupun luring yang bisa disesuaikan dengan preferensi masing-masing.

Pegiat literasi itu mengungkapkan bahwa tantangan dari ekosistem perbukuan Indonesia adalah menyadari bahwa perubahan merupakan keniscayaan. Pandemi juga memiliki peran dalam membentuk perilaku baru tersebut. Terutama saat masyarakat kian akrab dengan belanja dan transaksi daring.

"Jika tutupnya toko buku dianggap sebagai tanda-tanda tenggelamnya dunia perbukuan, saya rasa itu debatable. Saat ini bisa dicermati adanya pertumbuhan toko buku online dan toko buku alternatif di indonesia. Bahkan, siapapun kini bisa menjual buku," katanya.

Menurut dia, sudah waktunya manusia berhenti memperlakukan buku layaknya benda mati atau sekadar tumpukan kertas. Buku seharusnya menjadi bintang utama yang menghubungkan dan menciptakan interaksi di antara para pegiat dunia literasi Tanah Air.

Berangkat dari hal itulah nantinya masyarakat dapat menciptakan ekosistem yang sehat dan saling mendukung. Jika ekosistemnya sehat, artinya pertumbuhan industri buku juga akan terjadi, dan para pelakunya tidak menjadi pihak yang rentan secara ekonomi.

Selain itu toko buku juga tidak lagi hanya dilihat sebagai tempat menjual buku semata. Tempat tersebut adalah ruang hidup di mana interaksi perlu dibangun. Sebab konsumen perlu tahu buku-buku apa yang perlu dibaca, karena mereka membutuhkan rekomendasi dari penjual yang juga harus menjadi pembaca yang baik.

"Oleh karena itu di kedai [Patjarmerah], kami mengizinkan siapapun membuat kegiatan bersama. Mulai dari penulis, penerbit, penyair, klub baca, kawan-kawan film, seniman. Literasi kan bukan soal buku, tetapi soal pertukaran pengetahuan. "katanya.

Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Arys Hilman mengatakan, setelah pandemi industri penerbitan buku memang mengalami kemunduran yang signifikan. Hal itu terbukti dari beberapa penerbitan yang tidak beraktivitas lagi dan mengumumkan penutupan, begitu pula dengan beberapa toko buku di Tanah Air.

Namun tren digitalisasi menjadi salah satu momentum dan peluang bagi para penerbit untuk beradaptasi mempromosikan buku dengan lebih optimal. Terutama dalam menyasar aspek produk, digital marketing, media sosial sebagai sarana promosi.

Strategi lain yang diperlukan untuk menggenjot dunia literasi di Tanah Air menurutnya bisa dilakukan dengan bersinergi antara ekosistem di dunia perbukuan. Beberapa di antaranya termasuk antara penulis, editor, penerjemah, ilustrator, toko buku hingga perpustakaan.

Mantan wartawan itu mengungkap, tugas utama dari penerbit sebenarnya adalah membuat buku yang bermutu dan menarik. Setelahnya, yang menjadi elemen terpenting dari dunia literasi adalah akses terhadap bahan bacaan kepada publik lewat saluran penjualan seperti komunitas, toko buku hingga perpustakaan daerah.

"Koleksi buku yang ada di perpustakaan bukan saja harus bagus tapi juga menarik dan relevan dengan masanya. Sehingga orang akan kembali ke perpustakaan karena apa yang mereka baca berkaitan dengan pengalaman sehari-hari dari masyarakat," katanya.

Adapun, buku fisik menurut Arys juga masih menjadi bagian utama dari produk penerbitan buku di seluruh dunia. Kendati tren pembuatan buku digital sudah ada dari berbagai penerbit, tapi pertumbuhannya masih di bawah 10 persen setiap tahunnya.

"Di seluruh dunia pun anak-anak diarahkan untuk membangun minat baca lewat buku fisik. Barulah setelah dewasa mereka diberi kesempatan untuk membaca dalam format atau konten yang dipilih dan terus mengalami perubahan setiap zaman," katanya.

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan kreativitas pemasaran memang menjadi satu hal penting yang harus dilakukan oleh ekosistem dunia perbukuan. Hal itu misalnya bisa dilakukan lewat social commerce live Tiktok, atau menggandeng komunitas lokal dengan topik spesifik.

Dia melihat, tren penutupan toko buku sebenarnya memiliki faktor yang beragam. Pertama, semakin tersedianya alternatif pembelian buku lewat platform e-commerce dan sosial media. Kedua, demam e-book juga mempengaruhi penjualan buku fisik. Ketiga, secara umum minat membaca buku terutama karya non-fiksi juga mengalami penurunan.

Namun, dengan munculnya penerbit buku indie yang menyatu dengan toko buku skala kecil bakal memberi warna tersendiri bagi dunia perbukuan. Sebab, mereka melakukan pendekatan yang menyasar pada komunitas yang lebih spesifik. Dengan artian, mereka bakal lebih resisten terhadap perubahan.

Baca juga: Resensi Buku Pengantin-pengantin Loki Tua: Sebuah Upaya Menelisik Riwayat Si Juru Masak Agung

"Hal itu dapat dilihat dari toko buku yang menjual novel terjemahan asing, atau spesifik menawarkan klub membaca sejarah. Ke depan model toko buku yang segmented atau niche ini tetap akan bertahan karena memiliki basis komunitas yang kuat," katanya.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Mungkinkah Jakarta Bisa Jadi Kota Ramah Pejalan Kaki, Begini Kata Arsitek

BERIKUTNYA

Daftar Harga & Cara Beli Tiket Fan Meeting Lee Junho November 2023 di Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: