Ilustrasi keluarga. (Sumber gambar: Migs Reyes/Pexels)

Lebih Fleksibel & Permisif, Apa Dampak dari Pola Asuh Jellyfish Parenting?

27 August 2023   |   12:36 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Tak sedikit orang tua mendidik anak-anaknya dengan sikap tegas atau bahkan cenderung mengatur hidup anak sesuai dengan kehendaknya. Bagi mereka, apa yang dipilihkan untuk anak, seolah itu adalah yang terbaik. Namun, belakangan, banyak orang tua yang menerapkan pola asuh yang lebih fleksibel dan terbuka melalui jellyfish parenting.

Jellyfish parenting dikenal sebagai metode pengasuhan yang berbeda dengan sejumlah pola asuh lainnya karena memungkinkan orang tua untuk lebih 'bersantai' sambil membesarkan anak-anak mereka.

Baca juga: Toxic Parenting, Ketika Orang Tua Jadi 'Racun' bagi Anak

Dilansir dari Very Well Family, sesuai dengan namanya, jellyfish parenting adalah pola pengasuhan yang terinspirasi dari induk ubur-ubur dalam mengasuh anak-anaknya. Induk ubur-ubur mengikuti arus bahkan membiarkan anak-anak untuk memimpin, sehingga mereka bisa belajar tentang berbagai tantangan kehidupan termasuk berpikir keras untuk mengatasinya. Gaya pengasuhan ini lebih mengutamakan fleksibilitas dalam hal jadwal, aturan, dan konsekuensi.

Orang tua yang menerapkan metode pengasuhan semacam ini akan mencoba berkomunikasi dengan anak-anak untuk mengatasi perilaku mereka. Metode ini secara tidak langsung membantu dalam mengembangkan empati positif pada anak, termasuk membantu membangun koneksi dan keterikatan antara orang tua dan anak-anak. Gaya pengasuhan ini lebih seperti membangun ikatan persahabatan dengan anak-anak.

Meski jellyfish parenting dapat mengajarkan anak-anak untuk menjadi lebih fleksibel, terbuka terhadap perubahan, dan siap untuk mandiri, metode ini mungkin bukan pendekatan terbaik untuk semua keluarga. Bukan tidak mungkin orang tua dengan pendekatan jellyfish parenting justru lebih memanjakan dan tidak bisa mengontrol anak-anaknya. 

Dengan demikian, gaya pengasuhan yang cenderung permisif seperti ini dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan dan keterampilan pengaturan diri anak.


Dampak Pola Asuh Jellyfish Parenting

Psikolog sekaligus Edukator Najelaa Shihab mengamini bahwa saat ini semakin banyak orang tua yang menerapkan pola pengasuhan yang cenderung permisif pada anak-anak mereka. Namun, hal yang tidak boleh dilupakan adalah orang tua memiliki peran sebagai pendidik pertama sekaligus utama bagi anak-anaknya.

"Jadi orang tua itu punya pengalaman, tujuan pengasuhan, dan tujuan pendidikan yang anak-anak karena perkembangannya masih pada tahap dini, tidak paham itu," katanya saat diwawancarai Hypeabis.id di Jakarta, belum lama ini.

Perempuan yang akrab disapa Elaa itu berpendapat jika orang tua menerapkan pola asuh yang terlalu permisif, dikhawatirkan mereka tidak akan memberikan batasan-batasan yang bisa menjadi semacam 'rambu' bagi anak. Padahal, orang tua justru memiliki peran, otoritas, dan tanggung jawab untuk mengajarkan hal-hal tertentu, menyepakati peraturan tertentu, serta membiasakan rutinitas tertentu.
 

Ilustrasi anak-anak. (Sumber gambar: Alex Green/Pexels)

Ilustrasi anak-anak. (Sumber gambar: Alex Green/Pexels)

Dalam masa perkembangannya, anak-anak perlu untuk dituntun oleh orang tuanya. Namun, Elaa justru melihat bahwa saat ini banyak orang tua yang cenderung permisif kepada anaknya karena untuk menghindari konflik dengan anak-anak mereka, menganggap anak layaknya sahabat, sehingga menciptakan hubungan yang lebih cair.

Jika sudah begitu, pada akhirnya orang tua cenderung tidak bisa memberikan konsekuensi, tidak bisa memberi tahu anak, dan menganggap bahwa pilihan-pilihan anak itu yang seratus persen benar.

"Misalnya dalam soal makan, anak kan bukan ahli gizi tapi ibunya yang tahu gizi apa yang baik untuk mereka. Begitupun misalnya memilih sekolah, semuanya terserah anaknya. Padahal yang bisa baca kurikulum atau lingkungannya seperti apa kan orang tua. Aku khawatir jika pola yang diterapkan ini permisif dan membolehkan semuanya," jelasnya.


Pola Asuh yang Tepat

Elaa menegaskan sikap keberpihakan orang tua pada anak bukan berarti menuruti semua keinginan sang buah hati. Sebaliknya, jika berpihak dan peduli pada anak, orang tua justru harus mencurahkan tanggung jawab dan peran seutuhnya kepada anak sebelum mereka beranjak dewasa. 

Untuk menerapkan pola asuh yang tepat, orang tua perlu memiliki kesadaran dan pemahaman akan tujuan pengasuhan mereka pada anak. Dengan begitu, orang tua akan mengatahui cara atau metode seperti apa yang paling tepat untuk mencapai tujuan pengasuhan tersebut.

"Karena kalau tujuan pengasuhannya itu enggak jelas, pada akhirnya orang tuanya akan membiarkan anak begitu saja dan permisif," kata Elaa.

Di samping itu, penting juga untuk membangun kemampuan komunikasi yang baik dengan anak. Elaa mengatakan bersikap tegas, memberikan batasan, dan aturan yang diimplementasikan anak itu bukan berarti dengan cara memarahi, menghukum, atau memukul anak. Sebaliknya, ketegasan itu juga bisa ditunjukkan dengan sikap yang lembut dan penuh kasih sayang pada anak.

"Jadi orang tua bisa tegas, menerapkan disiplin yang positif, serta menegakkan peraturan dan rutinitas, itu balik lagi ke kemampuan orang tua untuk berkomunikasi efektif, kapan anak ditanya, disuruh, dan dikasih pilihan," tambahnya.

Hal lain yang tak kalah penting adalah senantiasa menciptakan lingkungan yang positif untuk anak. Ini berkaitan dengan bagaimana orang tua berkomunikasi dengan orang-orang di lingkungan sekitar anak seperti pasangan, mertua, dan pengasuh. Pasalnya, sikap permisif juga bisa terbentuk dari orang-orang di sekitar anak, sekalipun orang tuanya sudah menerapkan pola pengasuhan yang tegas.

Baca juga: Bunda, Yuk Terapkan 4 Strategi Digital Parenting

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Fakta Menarik Pertemuan Inaki Godoy dengan Eiichiro Oda

BERIKUTNYA

5 Cara Menjaga Uang Tetap Aman di Tengah Maraknya Penipuan Online

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: