Beberapa karya yang ditampilkan dalam Pameran Piknik 70-an di Galeri Nasional. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Menyusuri Dinamika Seni Rupa Indonesia Periode 1970-an dalam Pameran Piknik 70-an di Galnas

14 August 2023   |   14:21 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Like
Dekade 1970-an menandai perubahan besar dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Saat itu, Indonesia berganti rezim Orde Baru dan negara sedang menata kembali stabilitas ekonomi dan politik pasca lengsernya Presiden Soekarno pada 1967. Dunia seni rupa Indonesia pun berada dalam situasi yang hiruk pikuk.
 
Pergantian rezim pemerintahan diiringi pula dengan berakhirnya perseteruan antara seniman-seniman pengusung estetika kerakyatan/politik sebagai panglima dengan penganut humanisme universal yang memanas hingga pertengahan 1960-an.

Bubarnya Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) serta ditahannya sejumlah anggotanya, membuat jagat seni rupa Indonesia mengalami depolitisasi. Beragam kecenderungan karya seni rupa hadir pada periode penting ini. Gelombang karya-karya bernuansa liris, dekoratif, dan abstrak, yang arusnya muncul sejak dekade sebelumnya mulai mendominasi.

Baca juga: Pameran Piknik 70-an Digelar di Galeri Nasional, Hadirkan Koleksi Karya Perupa Era 1970-an

Dari lingkungan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, muncul dua kelompok seniman penting yakni Grup 18 yang berdiri pada 1971 dan Decenta yang dibentuk pada 1973, sebuah biro desain berbadan hukum yang berakar pada kekayaan ragam hias tradisional Nusantara. 
 
Kedua kelompok seniman ini selain bekerja mengerjakan elemen estetik gedung juga berperan penting dalam eksplorasi karya seni grafis dengan teknik cetak saring. Di Yogyakarta, sejumlah seniman menggandrungi eksplorasi penciptaan karya seni berbasis material lokal seperti las besi dan lukis batik.
 
Sementara itu, di Jakarta, Taman Ismail Marzuki yang dibuka sejak 1968 di bawah patronase Gubernur Ali Sadikin semakin sentral perannya dalam pewacanaan seni rupa yakni menjadi lokus dari inisiasi Pameran Besar Seni Lukis Indonesia 1974, protes Desember Hitam, hingga munculnya Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia.
 
Dinamika seni rupa pada dekade 1970-an tersebut tampak pada pameran Piknik '70-an yang digelar di Galeri Nasional Indonesia (GNI) hingga 31 Agustus 2023. Eksibisi ini menampilkan 65 karya koleksi GNI yang berasal dari 54 perupa. 
 
Karya-karya yang dipamerkan dibuat pada kurun waktu 1970-1979, periode yang dianggap penting karena banyaknya perubahan dan dialektika yang terjadi di dunia seni rupa Indonesia kala itu.

Para perupa yang karyanya dipamerkan antara lain Edi Sunaryo, Widayat, Abas Alibasyah, Zaini, Ahmad Sadali, Rita Widagdo, Siti Adiyati Subangun, A. D. Pirous, Ida Hadjar, Bagong Kussudiardja, Jim Supangkat, Bonyong Munny Ardhie, dan masih banyak lagi.
 
Pameran ini dibuka dengan koleksi karya lukis bergaya liris dan dekoratif yang menandai perubahan atmosfer penciptaan karya seni yang cenderung apolitis pada masa awal Orde Baru.

Ekspresi seni liris lebih bersifat personal melalui ungkapan ang menitikberatkan pada perasaan dan emosi seniman dalam memandang dunia, sedangkan dekoratif bercirikan penggambaran ornamen atau ragam hias yang mendetail dalam bidang-bidang lukisan.
 

B

Renungan Malam (1978), Nashar. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Pada kategori ini, muncul lukisan-lukisan seperti salah satunya Renungan Malam (1978) karya Nashar. Lukisan berdimensi 137x137 cm itu menampilkan irama garis, bentuk-bentuk, warna, ataupun ruang yang ekspresif. Warna-warna disapukan oleh sang seniman secara intuitif, dengan goresan-goresan pendek penuh tekanan.
 
Selain itu, contoh lain yakni lukisan Lika-Liku Kehidupan (1976) karya Edi Sunaryo. Lukisan berdimensi 88x186 cm itu menampilkan goresan-goresan membentuk segitiga, segi empat, dan goresan zig-zag/berliku dengan warna yang didominasi oleh kuning kehijau-hijauan. Karya yang memadatkan pola ritmis tanpa meninggalkan ruang ini kental dengan nuansa liris.
 
Setelah nuansa karya liris dan dekoratif, pengunjung disuguhkan dengan karya-karya dengan bentuk-bentuk signifikan yang identik dengan estetika formalis. Pada bagian ini, pameran mencoba merangkum bagaimana estetika berjalan di tiga kota yang mendominasi perkembangan seni rupa Indonesia pada dekade 1970-an, yakni Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. 
 
Hal itu misalnya tampak pada lukisan Bongkah-Bongkah Emas dan Coklat (1978) karya Ahmad Sadali. Lukisan berdimensi 42x31 cm itu menampilkan unsur-unsur garis yang begitu kuat, motif atau aksentuasi geometris, vertikal, horizontal, dan garis sembarang. Lukisan abstrak ini juga menampilkan pewarnaan yang matang yang didominasi warna emas dan coklat.
 

Renungan Malam (1978), Nashar. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Lika-Liku Kehidupan (1976), Edi Sunaryo. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Pada masa dekade 1970-an, persoalan identitas nasional juga masih menjadi subjek utama perupa dalam karya-karyanya. Kecenderungan perupaan yang berakar dari kekayaan ragam hias tradisional budaya etnik di Indonesia terus menerus dieksplorasi para perupa.
 
Selain itu, muncul juga Design Center Association (Decenta) yang langganan menggarap perancangan dan eksekusi elemen estetik seperti relief dan monumen, di mana karya yang dihasilkan bernafaskan kenusantaraan.

Decenta digagas oleh para seniman di Bandung seperti A.D. Pirous, Gregorius Sidharta, dan Adrian Palar. Dalam hal ini, pameran menyuguhkan karya-karya dalam bingkai kuratorial Imaji Kenusantaraan.
 
Salah satu karya yang ditampilkan yakni lukisan berjudul Topeng Primitif (1977) karya Suwaji. Karya berdimensi 140x90 cm bergaya ekspresionisme ini menampilkan bentuk deformasi topeng-topeng dalam karakter yang ekspresif. Bentuk topeng dalam warna hitam dengan aksentuasi jingga dan kuning hadir dengan kekar oleh latar belakang warna merah dan jingga.
 

B

Topeng Primitif (1977) karya Suwaji. (Sumber gambar: Galeri Nasional)

Di samping itu, salah kecenderungan dalam penciptaan karya seni rupa para seniman dekade 1970-an yakni banyak mengeksplorasi material lokal serta teknik berkarya yang menonjolkan ‘ketukangan’ atau kriya. Beberapa perupa pun mulai menemukan ekspresi dan teknik personalnya yang membuat karya-karya mereka dikenal hingga saat ini. 
 
Misalnya hal itu terwujud dalam lukisan berjudul Komposisi (1971) karya Abas Alibasyah. Karya seni lukis batik modern berdimensi 83,5x83,5 cm itu didominasi oleh pola dasar geometris, mengabstraksikan bentuk visual yang ekspresif.

Perpaduan warna-warna alam secara sepintas mencitrakan napas primitif, yang menjadikan ciri khas dalam karya-karya sang seniman yang bercorak etnik tradisional.
 
Dinamika seni rupa tahun 1970-an juga diwarnai dengan munculnya Pameran Seni Rupa Baru Indonesia pada 1975 di TIM. Pada pameran ini, muncul karya-karya yang pada masa itu dianggap radikal dan kontroversial.

Pameran ini menjadi upaya kritik sejumlah seniman seperti FX Harsono dan Bonyong Munni Ardhi terhadap kondisi seni rupa Indonesia yang dianggap terlalu ‘tradisional’, sekaligus untuk memprovokasi semangat bermain-main yang liar dan jenaka. 
 
Pameran yang juga diikuti oleh Nanik Mirna, Siti Adiyati, dan Jim Supangkat ini memprovokasi publik untuk melihat kembali 'kekonkretan benda', menolak elitisme seni rupa, mengolok-olok seni tradisional etnik yang digaungkan rezim Soeharto, mengabaikan 'keabadian karya' dan mengembalikan semangat berkesenian yang bebas.
 
Hal itu misalnya tergambar dalam karya berjudul Peta Bumi Indonesia Baru (1976) karya Priyanto Sunarto. Karya berdimensi 55x84 cm itu menggubah komposisi peta Indonesia resmi produksi pemerintah dengan menukar posisi beberapa pulau. Lewat karya ini, sang seniman mengkritik terkait dengan kebijakan pembangunan yang tidak merata.
 

B

President RI Tahun 2001 (1979) karya Hardi. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Kritik lain hadir dalam seni cetak grafis berjudul President RI Tahun 2001 (1979) karya Hardi. Karya berdimensi 60x40 cm ini merupakan bentuk kritik sang seniman pada tekanan represif Presiden Soeharto yang dianggap sebagai presiden seumur hidup. Hal itu divisualisasikan dengan potret sang seniman menggunakan jas lengkap dengan lambang-lambang kebesaran.
 
Kurator Bayu Genia Krishbie mengatakan karya-karya yang muncul dalam Pameran Seni Rupa Baru Indonesia cenderung mendapatkan pengaruh dari seni pop (pop art) yang tengah berkembang di Barat sejak 1960-an. Selain itu, ada pula pengaruh seni konseptualisasi yang identik dengan karya yang kuat baik secara bentuk maupun konsep.
 
"Sejumlah avant-garde di luar negeri seperti Joseph Beuys juga ada pengaruhnya untuk karya-karya seniman di dalam negeri saat itu," katanya saat diwawancarai Hypeabis.id di Galeri Nasional, Jakarta.
 
Tanda lain yang membuat karya-karya seniman 1970-an kerap dilabeli 'kebarat-baratan' yakni berubahnya sejumlah bentuk karya yang semula bergaya realisme-figuratif menjadi lebih fomalistik. Misalnya karya-karya seniman Edhi Sunarso. Pada dekade ini, karya-karyanya yang memiliki kecenderungan realistik mulai bereksperimentasi ke arah abstraksi dan simbolisasi figur.
 
Beragam bentuk abstraksi lainnya muncul dari eksperimentasi yang dilakukan para perupa seperti Fadjar Sidik, But Muchtar, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono dan Rita Widagdo. Mereka akhirnya fokus dengan karya-karya bergaya formalis hingga generasi yang lebih muda seperti Wardoyo Sugianto dengan karya abstrak geometrisnya.
 
Bayu menuturkan meski secara karya cenderung jauh dari tema politik, para seniman tersebut tidak lantas otomatis disebut apolitis. Beberapa seniman pada dekade 1970-an, katanya, tetap memiliki kesadaran politis sekalipun hal tersebut tidak tertuang dalam karya-karya mereka.

Baca juga: Mengenal Peristiwa Desember Hitam di Balik Pameran Piknik 70-an Galeri Nasional

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla

SEBELUMNYA

Fenomena Penipuan Barang KW Kian Marak, Belanja Langsung di Showroom jadi Pilihan Konsumen

BERIKUTNYA

3 Alasan Smartphone Kamu Butuh Perlindungan Ekstra

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: