Salah satu adegan pertunjukan Drama Chocolate Factory The Musical (Sumber gambar: Hypeabis.id/Abdurachman)

Cerita & Harapan di Balik Pertunjukan Chocolate Factory The Musical

24 July 2023   |   17:17 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Narasi kisah klasik dalam khazanah sastra sudah banyak diadaptasi ke berbagai medium karya seni. Salah satu yang populer tentu saja drama Romeo & Juliet, sebuah magnum opus dari sastrawan dunia William Shakespeare yang dibuat pada abad ke-14. 

Lima abad kemudian tepatnya pada 1964, pengarang masyhur Roald Dahl juga sukses membentuk kanon sastra dunia lewat novel Charlie and the Chocolate Factory. Sebuah cerita genre fantasi petualang yang meledak di pasar dunia dengan kisah karakter apik. 

Saking populernya, katya tersebut bahkan diadaptasi oleh Mell Stuart dalam film musikal Willy Wonka & the Chocolate Factory (1971), dan Charlie and the Chocolate Factory (2005) besutan Tim Burton. Etalase panggung dunia, Broadway pun tak mau ketinggalan dan mementaskannya pada 2013 lewat arahan David Greig. 

Baca juga: Tantangan Sutradara Maruf Andi Garap Pertunjukan Junior Musical Wonderland The Chocolate Factory

Setelah melanglang buana dalam berbagai medium, kini cerita klasik itu akhirnya dipentaskan di Indonesia oleh Hi Jakarta Production dalam pertunjukan bertajuk Chocolate Factory The Musical. Drama musikal bertaraf internasional dipentaskan dengan trengginas pada 22 Juli 2023 di Teater Ciputra Artpreneur, Jakarta. 

Pertunjukan musikal Chocolate Factory The Musical berkisah mengenai seorang anak laki-laki miskin bernama Charlie. Dia terinspirasi oleh Willy Wonka, seorang pria misterius yang baru saja mengumumkan lotre global berupa lima tiket emas bagi lima anak beruntung dari setiap kemasan coklat yang dijual.

Para pemenang nantinya akan mendapatkan tur ke pabrik coklat masyhurnya yang belum pernah dilihat oleh siapa pun. Empat anak pertama yang diumumkan adalah Augustus Gloop (si rakus), Veruca Salt (si manja), Violet Beauregarde (si yang tidak beradab), dan Mike Teavee (si pecandu layar).

Syahdan, dengan takdir yang berbalik menjadi menakjubkan, tiket kelima lalu menjadi milik Charlie. Dari sinilah dia bersama dengan Kakek Joe, berangkat dalam perjalanan sekali dalam seumur hidup menuju negeri ajaib dan magis yang tersembunyi di dalam pabrik tersebut.
 

Salah satu adegan pertunjukan Drama Chocolate Factory The Musical (sumber gambar Hypeabis.id/Abdurachman)

Salah satu adegan pertunjukan Drama Chocolate Factory The Musical (sumber gambar Hypeabis.id/Abdurachman)

Director Chocolate Factory The Musical, Maruf Andi mengatakan, spirit dari kisah Charlie masih relevan hingga sekarang. Rentetan peristiwa dari kisah tersebut juga memiliki pesan bahwa pengalaman anak-anak terbentuk dari tabula rasa atau lingkungan sekitar termasuk orang tuanya.

"Jadi pesan dari drama musikal ini lebih ke bagaimana orang tua dan guru melihat potensi dari setiap anak didik yang memiliki interest berbeda satu sama lain. Sehingga, mereka harus bersatu padu untuk memaksimalkan potensi tersebut," katanya pada Hypeabis.id.

Lelaki yang akrab disapa Maruf itu menjelaskan, untuk menggarap drama Chocolate Factory The Musical ada banyak cerita yang diadaptasi agar mudah diterima oleh para pemain. Menurutnya salah satu tantangan menggarap pertunjukan tersebut adalah menjaga mood dari aktor yang didominasi anak-anak. 

Melalui proses latihan tersebut, para pemain memang digembleng untuk meningkatkan soft skill mereka. Termasuk manajemen waktu, kerja sama tim, hingga bentuk empati pada liyan. Pasalnya dari segi hard skill atau akting, berdansa, dan menyanyi sebagian besar sudah dikuasai pemain.

Dia pun berharap lewat pertunjukan drama musikal Chocolate Factory, para orang tua bisa memiliki mindset bahwa proses latihan yang mereka lakukan bukanlah tentang artistik semata. Melainkan termasuk pembelajaran untuk meningkatkan soft skill anak dengan cara yang lebih kreatif.

"Meski kemampuan hard skill-nya tidak merata. Justru inilah yang menjadi tantangan kami dan proses belajar bagi mereka untuk saling membimbing dan bekerja sama dan tetap fokus latihan secara intensif selama 7 bulan," paparnya. 
 

Misi Pengenalan Teater

Selain menyuguhkan pementasan musikal berkualitas, pertunjukan tersebut juga diadakan dalam rangka merayakan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2023. Dengan kata lain, pementasan yang rutin diadakan tiap tahun oleh Hi Jakarta Production ini merupakan bentuk kampanye sosial untuk mengenalkan drama musikal pada khalayak.

Riri Kumalasari, Executive Producer Hi Production, mengatakan pementasan itu juga bertujuan untuk mengenalkan pendidikan dan pelatihan seni pertunjukan, khususnya musikal kepada generasi muda. Kisah Charlie juga menjadi representasi para pemain yang selama ini mengikuti kelas akting di tempat tersebut.

"Sebenarnya ini juga seperti perjalanan anak-anak di Hi Production yang nantinya dapat melanjutkan pendidikan di luar negeri. Sama seperti sekolah, salah satu bentuk ujiannya adalah pertunjukkan langsung di atas panggung dan ditonton secara profesional," katanya. 

Salah satu adegan pertunjukan Drama Chocolate Factory The Musical (sumber gambar Hypeabis.id/Abdurachman)

Salah satu adegan pertunjukan Drama Chocolate Factory The Musical (sumber gambar Hypeabis.id/Abdurachman)

Riri mengungkap, tidak semua cerita karya Roald Dahl diambil secara mentah oleh mereka. Sebab ada banyak banyak adegan dark side di kisah tersebut yang juga tidak cocok untuk anak-anak. Oleh karenanya Hi Jakarta Production lebih dari 60 persen mengubah alur cerita menjadi lebih gembira dan sesuai dengan karakter anak.

"Kita juga banyak twisting story di mana mereka (anak-anak) mengerti bahwa yang mereka jajaki itu ada prosesnya, dan itu tercermin dalam drama ini dengan Charlie yang berjuang untuk membangun pabrik coklatnya sendiri," imbuhnya.

Program Manager Ciputra Artpreneur Adi Wijananda mengatakan pihaknya juga terus berkomitmen menghadirkan pertunjukan kesenian yang berkualitas kepada masyarakat Indonesia. Namun, di momen liburan akhir sekolah ini mereka memang ingin memberikan tema pementasan yang berbeda dibanding sebelumnya.

Tak hanya itu, dia berharap Ciputra Artpreneur dapat menjadi batu loncatan bagi seniman muda dalam memperkenalkan karya anak bangsa di panggung internasional. Pasalnya, para anak-anak itulah yang nanti akan menjadi pengganti sekaligus penikmat atau pelaku seni masa depan di Tanah Air.

"Tahun ini memang berbeda dari sebelumnya, meski antusiasme masyarakat performance saat ini sudah sangat tinggi. Namun kita juga ingin menyajikan drama yang fokus pada cerita anak dan keluarga di momen liburan sekolah ini," katanya. 

Baca juga: Pertunjukan Junior Musical Wonderland The Chocolate Factory Berhasil Memukau Penonton

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

9 Film Indonesia yang Siap Tayang Agustus 2023 di Bioskop

BERIKUTNYA

Elon Musk Siap Rebranding Twitter, Ini Makna Logo X & Fitur-fiturnya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: