Ilustrasi orang dengan obesitas. (Sumber gambar: Unsplash/Towfiqu Barbhuiya)

Penyebab Kasus Obesitas Meningkat 3 Kali Lipat Dalam 40 Tahun Terakhir, Jakarta Nomor 2

11 July 2023   |   18:10 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Like
Prevalensi obesitas meningkat tiga kali lipat dalam empat dekade terakhir. Kondisi medis berupa berat badan di atas normal ini lantas menjadi masalah yang dihadapi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Bukan hanya pada orang dewasa, remaja dan anak-anak rentan mengalaminya.

Pejabat Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan Esti Widiastuti mengungkapkan lebih dari 1,9 miliar orang usia 18 tahun atau 39 persen mengalami berat badan berlebih atau overweight. Sebanyak 650 juta orang atau 13 persen diantaranya dikatakan obesitas.

Di Indonesia, menilik indikator indeks masa tubuh (IMT) pada 2018, proporsi obesitas pada orang dewasa berusia di atas 18 tahun sebanyak 21,8 persen. “Di 2018, hampir sepertiga penduduk di Indonesia dengan obesitas sentral, gendut sekitar perut,” ujarnya dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Selasa (11/7/2023). 

Baca juga: Tinggal di Perkotaan Lebih Rentan Obesitas, Begini Alasannya

Esti menyebut Sulawesi Utara menjadi daerah utama yang prevalensi obesitasnya paling tinggi. Diikuti dengan DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Papua Barat, dan Kepualauan Riau yang masuk ke dalam lima besar.  

Dia menerangkan kelima daerah tersebut memiliki kasus obesitas terbanyak dibandingkan dengan jumlah penduduk. Tetapi jika dikaitkan dengan kebiasaan, beberapa daerah katanya memiliki makanan tradisional yang mengandung karbohidrat dan gula. 

“Antara urban dan pedesaan rata-rata sama karena akses media dan lingkungannya sama. Screen time, nonton TV, smartphone, asupan resep bertebaran yang patut dicoba, jadi tantangan tersendiri,” jelasnya Esti. 

Kasus obesitas ini tentunya memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan. Esti menyampaikan orang dengan obesitas berisiko dua kali lipat mengalami penyakit tidak menular (PTM) sepeti serangan jantung koroner, stroke, diabetes melitus, dan hipertensi. 

Pada 2019 lalu, obesitas bahkan menjadi faktor risiko penyebab kematian dan disabilitas terbanyak di dunia, dari posisi kelima pada 2009. Penumpukan kalori yang kemudian menjadi lemak ini juga memberikan dampak ekonomi lantaran biaya perawatan penyakit komorbid meningkat. 

Baca juga: Untuk Skrining Awal, Begini Cara Mengukur Potensi Obesitas dengan Mudah


Penyebab

Esti menyampaikan ada banyak faktor yang berkontribusi membuat seseorang obesitas. Penyebabnya bisa karena aktivitas fisik yang kurang, perubahan pola makan dari tradisional ke modern yang identik dengan asupan kalori dan lemak yang tinggi. Kemudian pola organisasi, kebiasaan buruk, dan aspek sosial ekonomi, budaya, perilaku, dan lingkungan. 

“Lebih suka makanan manis, kekinian, itu berpengaruh. Sudah tau, tetapi tidak bisa mengubah perilakunya,” singgungnya. 

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk aware terhadap makanan yang dikonsumsi dan kesehatannya masing-masing. Deteksi dini intu penting agar tidak masuk ke dalam kondisi yang lebih berat. 

“Setahun sekali identifikasi faktor risiko. Ukur berat badan, tinggi badan, lingkar badan, lingkar perut, tekanan darah. Yang sudah obesitas, pengendalian faktor risiko penting, jangan sampai parah,” imbaunya.

Selain mengatur pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik, Esti menyarankan untuk mengatur waktu tidur. “Kalau waktu istirahat diambil, kompensasinya seirng ke asupan kalori tinggi. Jangan lupa kelola stres,” tegasnya.

Baca juga: Lika-liku Perjuangan Penyintas Obesitas, Dari Berat 100 Kg Menjadi Ideal

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla

SEBELUMNYA

Resep Taiyaki, Kue Khas Jepang yang Manis & Empuk

BERIKUTNYA

5 Poin & Strategi Penting Sebelum Brand Masuk ke Pasar Gen Z

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: