Ilustrasi perundungan di sekolah. (Sumber gambar : Freepik/Pikisuperstar)

3 Cara Mengatasi Anak Jadi Korban Bullying, Kalau Mereka Cerita Tolong Dengarkan Parents

05 July 2023   |   08:56 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Peran orang tua sangat penting dalam membentuk kepribadian anak atau remaja. Tidak terkecuali dalam mengambil sikap atau menangani masalah yang dialami seperti menjadi korban perundungan atau bullying. Jika mendapat perhatian yang cukup, mereka bisa mengatasi tindakan tersebut dengan cara yang lebih baik.

Merujuk pada kasus bullying yang berujung pada pembakaran sekolah, psikolog anak dari Lenting dan psych.edu, Anindya Dewi Paramita menyampaikan ada ketidakhadiran orang tua di sana, selain sekolah yang harusnya menjadi tempat yang mendidik dan pelindung. Ya, orang tua harus hadir selama masa tumbuh kembang anaknya. 

Baca juga: Astaga! Ada Kasus Siswa Bakar Sekolah, Psikolog Ingatkan Efek Bahaya Bullying

Dengan kehadiran itu, anak terutama remaja bisa menemukan tempat untuk bertukar pikiran dalam menangani permasalahan yang dihadapi. Nah, berikut itu beberapa cara yang perlu dilakukan orang tua dalam menangani kasus perundungan anaknya.


1. Jadilah Tempat Bercerita

Psikolog Klinis dari Enlightmind, Nirmala Ika mengatakan sejak kecil, anak seharusnya dilatih untuk tidak takut bercerita apapun kepada ayah atau ibunya. Saat dia berbicara, orang tua harus meyakinkan cerita anak didengarkan, tanpa harus memotong kalimatnya. 

Jangan ketika anak bercerita orang tua sibuk melakukan pekerjaan lain. Duduk, dengarkan, dan respon cerita itu dengan baik. Kalaupun harus dikoreksi, cari waktu. Terima dulu, baru klarifikasi. “Ketika dia mengalami masalah di sekolah seperti bullying, dia bisa cerita, karena dia tau dia gak akan ditolak sama ortang tuanya,” ujarnya saat dihubungi Hypeabis.id, Rabu (5/7/2023).

Anindya Dewi Paramita, psikolog anak dari Lenting dan psych.edu menyampaikan percayalah pada anak ketika dia bercerita seraya perlahan ajak dia berdiskusi. “Ikuti ceritanya,” tambahnya.


2. Bangun Ikatan yang Terputus

Jangan khawatir jikalau kebiasaan bercerita itu tidak dilakukan sejak kecil. Orang tua bisa memperbaikinya dengan membangun koneksi yang terputus itu.  “Cukup dengarkan. Anak remaja perlu didengar. Biasakan anak bercerita sama orang tua,” sebut Paramita.

Jangan paksa dia untuk becerita. Menurut Nirmala, ketika ada perubahan yang terjadi pada anak, tanya dengan perlahan sampai akhirnya dia bercerita. Dengarkan ceritanya tanpa harus menggurui, menceramahi, dan melayangkan kritik.

Kalau anak belum juga mau bercerita biarkan. Orang tua harus bangun kepercayaan itu, terutama pada remaja. 

Nirmala memberi cara untuk menyambangi kamar mereka. Duduk saja di sana tanpa harus memaksa dia bercerita. Jika diusir, masuk lagi ke kamar anak. Katakan kalau kamu hanya ingin duduk menemaninya. 

Percayalah, anak perlahan akan bercerita walaupun tidak langsung pada intinya. Mereka akan meyakinkan diri bahwa kamu merupakan tempat yang aman, nyaman, dan tepat untuk mengungkapkan isi hati.


3. Validasi Emosinya

Paramita menyebut orang tua harus  belajar memvalidasi emosi anak. Mereka yang menjadi korban perundungan pasti akan menumpahkan perasaan kecewa, kesal, dan marah saat bercerita kepadamu.  Dengarkan, simak perkataannya, dan biarkan dia menumpahkan emosinya itu sampai selesai. Setelah itu, tanya apakah dia semarah itu.

“Dari situ ternyata dia merasa didengar. Apa yang disampaikan, sampai kepada orang tua,” imbuhnya.

Mulailah berdiskusi dengan anak. Tidak harus terlibat langsung. Tanyakan terlebih dahulu kepada anak apa yang mereka inginkan dari tindakan perundungan yang diterima. “Dorong solusi datang dari mereka, sementara orang tua membimbing dengan baik dengan mengingatkan ada konsekuensi atas setiap tindakannya,” jelas Paramita. 

Senada, Nirmala mengatakan orang tua tidak serta merta harus membela anak korban perundungan dengan langsung mendatangi sekolahnya. Ingat, anak lah yang memiliki masalah tersebut.

Tanya bagaimana perasaannya, apa yang bisa dibantu untuk menghadapi tindakan yang diterima anak. Konteksnya orang tua membantu bukan sebagai penyelesai masalah. 

Negosiasi, jelaskan ke anak apa itu perundungan dan konsekuensinya. Mintalah izinnya jika memang kasus tersebut ternyata harus diselesaikan dengan mendatangi tenaga profesional atau sekolah. “Tetap harus minta izin. Ingat anak merupakan individu sendiri,” tegas Nirmala. 

Baca juga: Cyberbullying Mengintai Anak, Lakukan 5 Langkah Ini

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Wisata Kapal Pesiar Kembali Menggeliat, Tertarik? Siapkan saja Bujetnya Segini

BERIKUTNYA

Jarang Diketahui, Tengok 8 Manfaat Alpukat untuk Kesehatan Tubuh

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: