Ilustrasi keluarga (Sumber gambar: Freepik)

Gaya Hidup Boros Masih Jadi Tantangan Keluarga di Indonesia

29 June 2023   |   17:20 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Genhype, setiap tahunnya pada 29 Juni Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional. Tahun ini adalah puncap peringatan yang ke-30 kali sejak pertama kali diadakan. Hari ini juga menjadi momentum dan pengingat pentingnya peran keluarga di dalam membangun bangsa.

Kepala  Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan bahwa kemandirian ekonomi menjadi salah satu indikator keluarga yang berkualitas. Saat ini kemandirian ekonomi Indonesia terus menuju ke arah perbaikan. Meski angka kemiskinan keluarga Indonesia sempat mengalami kenaikan pada pandemi Covid-19 2020 lalu, rasio tersebut mulai bisa kembali dikendalikan.

Data BPS mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2020 meningkat menjadi 10,19 persen dari sebelumnya hanya 9,22 persen pada periode yang sama. Meski belum kembali menyamai capaian 2019, pelan-pelan angka kemiskinan terus membaik di angka 9,57 persen pada 2022 lalu.

Menurut Hasto, keluarga yang berkualitas merupakan kunci utama Indonesia dalam mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Keluarga sebagai unit terkecil di masyarakat punya peran besar dalam membangun kesejahteraan suatu negara. Sebab, hampir semua aspek dimulai dari keluarga.

Namun, sampai saat ini pembangunan keluarga berkualitas masih harus menempuh proses yang panjang. Dalam hasil riset IBangga, keluarga Indonesia masih berada di dalam kategori berkembang. Padahal, targetnya ialah mencapai urutan tertinggi, yakni kategori tangguh.

Baca juga3 Resep Nasi Goreng Spesial, Sarapan Praktis Nan Istimewa Untuk Keluarga

Untuk mewujudkan itu, perlu ada kolaborasi dari berbagai stakeholder yang ada karena membangun keluarga adalah isu lintas sektor. Terlebih, jika melihat bahwa kemandirian ekonomi keluarga Indonesia masih belum berada di kondisi yang baik.

“Tantangan seriusnya itu mengurangi hidup boros. Sebagian masyarakat masih sering belanja yang tidak penting. Kalau ini bisa dikurangi, tentunya ekonomi keluarga akan bisa lebih baik,” ungkap Hasto.
 

Ilustrasi keluarga (Sumber gambar: Freepik)

Ilustrasi keluarga (Sumber gambar: Freepik)


Di sisi lain, Hasto juga mendorong keluarga Indonesia untuk lebih mengedepankan produk lokal dalam setiap kebutuhan mereka. Dengan demikian, perputaran ekonomi dari kegiatan konsumtif itu masih tetap berada di ekonomi lokal.

Namun, yang jauh lebih penting dari itu adalah mengubah gaya hidup. Tanpa adanya perubahan gaya hidup, budaya konsumtif akan terus mengakar dan bisa menciptakan efek jangka panjang, termasuk pengurangan angka stunting yang hingga hari ini belum terselesaikan.

Tanpa ada fondasi ekonomi yang kuat, keluarga akan kesulitan mencukupi kebutuhan gizi keluarganya. Jika keluarga tersebut memiliki bayi, tentu efeknya si buah hati bisa mengalami stunting. Tanpa ada aksi nyata untuk diperbaiki, Hasto khawatir masa depan sebuah bangsa bisa jadi taruhannya.

Oleh karena itu, pembangunan ekonomi keluarga memang selalu jadi prioritas bagi BKKBN setiap tahun. Namun, Hasto menyebut BKKBN memiliki lingkup yang lebih kecil dalam hal ini. Saat ini upaya tersebut baru diwujudkan pada masyarakat yang termasuk ke dalam keluarga akseptor

Peningkatan pendapatan keluarga akseptor itu dilakukan melalui kelompok-kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA). Melalui kelompok-kelompok kecil ini, masyarakat Indonesia bisa mendapatkan peningkatan skill, baik dalam bentuk produk atau jasa yang harapannya dapat menjadi tambahan penghasilan.

Sebab, sampai saat ini pendapatan dari surplus usaha yang dijalankan keluarga baru di angka 32,69 persen. Adapun, andalan mayoritas penghasilan keluarga masih didominasi dari gaji bekerja, seperti dilihat dari data Neraca Rumah Tangga Indonesia dari BPS.

“Program ini juga berkaitan dengan prioritas lain, seperti stunting. Jadi, ada semacam dapur umum yang dibuat untuk mengurangi stunting. Kemudian, bahan-bahan makanan bergizinya itu dibeli dari kelompok usaha tersebut. Dengan demikian, sistem ekonomi mikronya terbentuk,” jelasnya.

Kerja simultan ini diharapkan bisa menciptakan ekonomi keluarga yang tangguh, sehat, sekaligus produktif. Terlebih, Indonesia telah dan akan mengalami bonus demografi dalam beberapa tahun ke depan. Dengan penduduk berusia produktif yang lebih besar, seharusnya ini menjadi momentum untuk meningkatkan taraf hidup keluarga Indonesia secara lebih baik.

Baca juga: Libur Sekolah Tiba, Intip 7 Cara Jalan-jalan Hemat dengan Keluarga

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Roni Yunianto

SEBELUMNYA

Pelukan ala Kanguru Bepotensi Turunkan Risiko Sepsis pada Bayi

BERIKUTNYA

Kenali Tanda-tanda Keuangan Keluarga Stabil & Tantangan Pengelolaannya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: