Kegiatan pengumpulan botol plastik di Reverse Vending Mechine dari PlasticPay (Sumber gambar: Indah Permata Hati/Hypeabis.id)

Hampir 90 Kg Jejak Emisi Karbon Terpotong di Agenda Citi Global Community Day 2023

18 June 2023   |   16:11 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Like
Besarnya jejak emisi karbon masih menjadi salah satu pekerjaan rumah yang sulit diurai hingga saat ini. Bukan hanya Indonesia, seluruh negara di dunia juga berupaya menciptakan solusi untuk pengurangan jejak karbon yang berdampak besar bagi perubahan iklim dan pemanasan global.

Perusahan swasta juga andil dalam memperhatikan isu lingkungan. Salah satunya adalah Citibank yang menggaet dua penggiat lingkungan yakni Setali Indonesia dan PlasticPay.

Dalam agenda Citi Global Community Day 2023 yang dilakukan Citibank, sebanyak 89,90 Kg jejak karbon telah berhasil dikurangi dalam kegiatan ini. Informasi real-time itu didapat PlasticPay melalui data teknologi vending machine besutan mereka.

Baca juga: 5 Cara Sederhana Mengurangi Emisi Karbon di Rumah

Berkurangnya puluhan kilogram jejak karbon ini diraup dari total 2.200 orang yang tergabung dalam Citi Volunteers, di mana partisipan menggunakan moda transportasi umum menuju lokasi agenda di Riverview Creative Zone, di kawasan Car Free Day Sudirman, Jakarta.
 

Citi Global Community Day (Sumber gambar: Indah Permata Hati/Hypeabis.id)

Citi Global Community Day (Sumber gambar: Indah Permata Hati/Hypeabis.id)


Selain menggunakan transportasi umum, ada banyak hal kecil lain yang bisa dilakukan manusia untuk menurunkan jejak karbon. Misalnya dengan melakukan penanaman pohon hingga meninggalkan konsep fast fashion. Sebagaimana diketahui, industri fashion kini kian bersaing menyalip plastik sebagai limbah terbesar di dunia.

Melansir laman ITS, disebutkan terdapat satu juta ton dari 33 juta ton produksi tekstil yang menajdi limbah di Indonesia. Belum lagi, sekitar 1,2 miliar ton emisi gas rumah kaca juga didulang dari dunia tekstil.
 

Inovasi Kreatif Ajak Masyarakat Cinta Lingkungan

Aileen Wiryo (CFO PlasticPay) & Andien Aisyah (Founder Setali Indonesia) (Sumber gambar: Indah Permata Hati/Hypeabis.id)

Aileen Wiryo (CFO PlasticPay) & Andien Aisyah (Founder Setali Indonesia) (Sumber gambar: Indah Permata Hati/Hypeabis.id)


Upaya untuk mengubah limbah dengan cara kreatif semakin diperlukan. Aileen Wiryo selaku CFO PlasticPay berada dalam satu misi untuk membuat masyarakat punya keinginan mengumpulkan plastik minum sekali pakai.

Mereka menyebarkan sekitar 800 titik dropbox dan vending mechine yang dapat menerima kiloan botol plastik di seluruh Indonesia. Titiknya sengaja dibuat di area yang mudah terjangkau seperti kawasan mall, ruang publik, dan lainnya.

“Botol kosong itu selalu ada harganya. Kita mau tekankan itu. Kita bikin sistem pemberian poin setiap warga menyumbangkan sejumlah botol plastik ke titik PlasticPay. Nanti poinnya bisa ditukar ke e-money,” kata Aileen.

Melakukan hal baik dengan hadiah tambahan merupakan konsep yang dipegang PlasticPay untuk mengajak warga mencintai lingkungan dengan cara yang menguntungkan. Jika belum bisa memangkas penggunaan botol plastik, Aileen menyebut sebisa mungkin botol dapat dikumpulkan agar bisa dikelola di tangan yang tepat sehingga tidak mencemari lingkungan.

Senada dengan Aileen, Andien Aisyah selaku Founder Setali Indonesia tergerak untuk mengelola fashion dengan cara yang lebih kreatif. Dengan percepatan gaya hidup yang luar biasa, mulanya Andien cukup terkejut dengan posisi limbah pakaian yang mengancam lingkungan dunia.

“Setali Indonesia lahir dengan ide dan tujuan kami untuk memperpanjang usia pakaian,” tegas Andien. Figur publik tersebut juga mengakui jika penguraian masalah fast fashion ini bukan perkara mudah. Pasalnya, Setali Indonesia pernah hanya menerima 10 persen pakaian layak dari berton-ton baju bekas pakai yang mereka terima selama tiga bulan.

“Kalau dari 5 ton baju yang kami dapat tiga bulan hanya 10 persen saja yang layak pakai, lantas yang tidak layak ini mau diapakan? Dari sana kami berupaya melakukan upcycle pakaian,” katanya.

Upcylce fashion merupakan konsep mendaur ulang pakaian dengan proses kreatif untuk memberi nilai tambah pada produk pakaian yang sudah usang atau rusak. Kain-kain perca hasil industri fashion kerap kali tak dijamah dan dibuang begitu saja. Padahal, kain yang dianggap tak berharga inilah yang membuat limbah fashion semakin besar.

“Kami berusaha membuat kain perca menjadi produk bernilai tambah yang coba kami pasarkan, contohnya vas bunga dan batu bata,” tegas Andien. Untuk tujuan jangka panjang, Andien menyarankan agar masyarakat lebih bijak dalam membeli dan memilah pakaian. Cara pandang terhadap fashion tentu akan mempengaruhi kebiasaan berpakaian dalam jangka panjang.

Baca juga: Fashion Silih Berganti dengan Cepat, Desainer Banyak Fokus ke Micro Trend

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla

SEBELUMNYA

Pementasan Lakon Julini Tak Pernah Mati, Simbol Kebenaran yang Terus Abadi

BERIKUTNYA

Koreografer Megatruh Kritik soal Sistem Pendidikan dalam Pertunjukan Budi Bermain Boal

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: